![]() |
Oleh: Elly Sumantri |
Reformasi telah hampir memasuki usianya yang ke lima belas tahun. Jika
diibaratkan manusia, maka itu usia seorang anak yang sedang berjuang mencari
Jati diri. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan usia kemerdekaan Indonesia
yang hampir memasuki usia 68 tahun, maka usia lima belas tahun masih sangat
jauh. Ibarat kakek dengan cucu.
Dahulu ketika masa usia kemerdekaan bangsa Indonesia masih sangat muda, kelakuannya juga seperti usia reformasi, masih mencari jati diri. Bahkan pada usianya yang ke-52, bangsa ini belum memiliki jati diri aslinya. Ibarat anak kecil atau remaja, ia masih mencoba-coba hal baru, berusaha diinternalisasi dalam diri sehingga menjadi kepribadian yang utuh. Sehingga pada akhirnya akan terbentuklah jati diri.
Dahulu ketika masa usia kemerdekaan bangsa Indonesia masih sangat muda, kelakuannya juga seperti usia reformasi, masih mencari jati diri. Bahkan pada usianya yang ke-52, bangsa ini belum memiliki jati diri aslinya. Ibarat anak kecil atau remaja, ia masih mencoba-coba hal baru, berusaha diinternalisasi dalam diri sehingga menjadi kepribadian yang utuh. Sehingga pada akhirnya akan terbentuklah jati diri.
Melalui analogi di atas, penulis ingin mengajak semuanya berfikir,
sesungguhnya hingga hari ini bangsa kita masih seperti anak kecil. Usia sudah
sangat renta, bahkan sudah “bau tanah” tapi tetap saja kelakuan, tingkah, polah
masih seperti anak yang berumur belasan tahun. Jati diri merupakan identitas
terpenting dari seorang manusia, selintas orang lain tidak akan menanyakan
nama, yang ia lihat adalah seperti apa tingkah laku kita. Baru kemudian
menanyakan nama kita. Tidak sedikit orang yang terjebak ketika ia menanyakan
nama terlebih dahulu. Ya, terjebak pada persepsi nama, terjebak pada persepsi
usia.
Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari berbagai peristiwa yang
terjadi akhir-akhir ini. Penulis menjadi terpikir, apa iya bangsa ini akan
maju, tegak berdiri sejajar dengan bangsa lain dengan wibawa yang besar??
Mengapa saya ambil analoginya dari peristiwa reformasi? Alasan yang
pertama adalah reformasi merupakan momentum terbukanya kran komunikasi, kran
demokrasi yang selama ini tersumbat. Sejak dahulu, dari rezim Soekarno,
Soeharto berlanjut hingga saat ini Negara ini tetap mengklaim diri sebagai Negara
demokrasi. Akan tetapi, para pemimpinnya sendiri banyak yang mengkhianati
demokrasi itu sendiri dengan diktatorisme.
Kedua, penulis beranggapan bahwa reformasi adalah satu fase dimana
bangsa ini memasuki usia dewasanya walaupun memang agak terlambat. Dewasa dalam
artian mampu berlaku bijaksana, santun, tidak manja dan tidak plin-plan. Akan tetapi
dewasa belum tentu memiliki jati diri.
Ketika Soekarno memimpin (penulis tidak menggunakan istilah ORLA
dan ORBA), negeri ini sudah beberapa kali bongkar pasang. Berbagai sistem dicoba,
mulai dari Demokrasi Liberal yang dekat dengan Amerika Serikat, Demokrasi
Terpimpin yang dekat dengan Uni Sovyet. “Memelihara” komunisme pun sudah pernah
dicoba dan bahkan sang presiden juga cenderung pada pemikirannya. Pada masa
Soeharto, kita habis-habisan menerapkan Pancasila bahkan secara kebablasan dengan
anti kritiknya Soeharto.
Di kedua era tersebut, bangsa ini terkungkung di dalam sebuah
penjara pemikiran dan ide kreatifitas. Tidak banyak ideologi pemikiran yang
ditawarkan dalam mengelola negeri ini. Salah satu penawaran muncul dari kaum
Islamis. Mereka menawarkan konsep Islam dalam menjalankan roda organisasi
bangsa ini. Namun, apa lacur, gerakan-gerakan penentangnya terus menebar fitnah
dan berusaha menjegal sehingga belum sempat system itu berjalan dengan sempurna
ia harus tumbang dan di bumi hanguskan (kasus Partai Masyumi pada era
Soekarno).
Ketika terjadi pergolakan pada tahun 1965 dan klimaksnya pada 1966
saat Soeharto dilantik menjadi Presiden, harapan baru sempat muncul. Gerakan-gerakan
Islam bersatu padu menyokong Soeharto, namun lagi-lagi mereka dikhianati. Belum
lagi arus Islam politik memberikan penawaran ide dan konsep, baru ada benih
saja sudah dibakar sehingga benar-benar tidak bisa hidup. Di lain pihak arus
Islam kultural menebar pemikiran yang mampu merusak ummat dengan slogannya “Islam
Yes Partai Islam No”, hal ini tambah memperburuk keadaan.
Akhirnya, ketika 1998 terjadi reformasi, gerakan Islam politik
merasa mendapatkan angin segar. Bermunculan partai-partai dengan berideologi dan
berasaskan Islam ikut pertarungan politik. Gerakan Islam politik menjadi
sesuatu yang laris karena memang masyarakat secara naluri ingin kembali kepada
fitrahnya sebagai manusia yang punya harkat, martabat dan mampu menjalankan
nilai-nilai keagamaan secara lebih leluasa.
Islam cultural dengan Slogan “Islam Yes Partai Islam No”
semakin tidak laku. Buktinya, partai-partai Islam yang mengusung pemikiran
tersebut semakin hari semakin sepi konstituen. Mungkin, inilah saatnya bangsa
ini memiliki jati diri. Kita sudah beberapa kali mencoba berbagai system, tapi
gagal. Saatnya kita dewasa untuk melaksanakan system yang sebenarnya sudah lama
ditawarkan tapi selalu dijegal.
Akhir-akhir ini, fenomena penjegalan itu muncul kembali. Ini akan
mengulangi kembali sejarah yang belum lama kita rasakan. Berbagai media dengan
sangat gigihnya memberikan pencitraan negative terhadap partai-partai Islam. Berbagai
isu dihembuskan, “partai Islam akan tenggelam, partai islam akan habis,
elektabilitas partai Islam menurun, dan lain sebagainya.” Para pengamat
seperti kebanjiran pesanan untuk memberikan statemen yang menjatuhkan tersebut.
Belum lagi serangan media melalui isu-isu yang tidak sedap, misalkan salah satu
media cetak (surat kabar nasional) dengan sangat getol memberitkan berbagai
berita buruk tentang salah satu partai Islam beserta tokoh-tokohnya. Entah berita
itu dari sumber yang dapat dipercaya atau tidak, valid atau tidak. Tidak juga
ketinggalan televisi-televisi nasional membesar-besarkan berita.
Baru-baru ini, pertarungan di Jawa Barat dengan pemilihan gubernur
dan wakil gubernur sungguh di luar dugaan salah seorang calon membukakan
rahasia penjegalan tersebut, entah dirinya sadar atau tidak. Satu-satunya calon
perempuan pada kompetisi itu hingga hari ini tidak mau legowo dengan
kekalahannya pada hasil penghitungan cepat. Segala cara ditempuh untuk
mengganggu jalannya proses demokrasi yang sudah berjalan baik tersebut. Misalkan,
dengan percaya diri dia mengatakan bahwa dia menang menurut satu media. Setelah
dicek ternyata media yang dimaksud adalah surat kabar di atas yang itu hitung-hitungannya
pun tidak jelas. Saya menduga, ada kerjasama antara kandidat dengan media
tersebut. Media juga menyebarkan isu korupsi di Bank Jabar Banten (BJB),
padahal itu semua ditepis itu BJB sendiri dan dibantah oleh para pengamat.
Usaha-usaha penjegalan arus Islam politik semakin deras, contoh di
atas baru di satu daerah dengan level daerah juga, bagaimana di daerah lain dan
juga di level nasional?
Sekali lagi, bagaimana kita akan dewasa jika terus seperti ini,
bagaimana bangsa kita bisa tegak sejajar dan dengan wibawa yang tinggi
dihadapan bangsa lain? Kalau pelaku politik tidak mampu bersikap dewasa. Marilah
kita mantapkan jati diri kita. Bangsa ini sudah tua, ia juga tidak abadi, jadi
jangan sampai ketika ajal bangsa ini telah sampai, kelakuannya masih seperti
anak belasan tahun.
4 komentar:
Makasih banyak informasinya
Artikel yang sangat menarik
Terimaskih informasi yang sudah disampaikanya.
Terima kasih kembali...
Posting Komentar