Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

23 Juli 2010

Ujian Kerja Kita

Ada keletihan yang menyelimuti di balik kerja-kerja kita. Juga ada kejenuhan yang diam-diam menelusup ke dalam hati tanpa sadar membuat kita melegalkan alasan-alasan pada diri kita untuk beristirahat. Itu pasti kawan, kita adalah manusia biasa dan memang rasa itu sangat manusiawi. Kepenatan yang datang adalah bunga-bunga dari kerja kita, ia adalah ujian. Apakah kita mampu melewatinya untuk meneruskan pekerjaan ataukah kita tergoda untuk beristirahat yang menjadikan kerja kita tertunda dan orang lain menyalibnya. Kita pun akan tertinggal sangat jauh.
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Sesungguhnya istirahatnya seorang muslim itu ketika kakinya sudah menginjak surga.” Kata-kata itu muncul di saat kerjanya mendapatkan ujian yang sangat besar. Betapa tidak, sang Imam dipaksa oleh penguasa saat itu untuk mengakui bahwa al-Qur’an itu sebagai makhluk bukan Kalam Allah. Di samping tekanan dan siksaan yang datang bertubi-tubi dari penguasa, beliau juga dibujuk rayu oleh para pengikutnya yang merasa kasihan kepadanya karena deraan yang tidak manusiawi tersebut. Namun dengan dengan Imam Ahmad menolaknya dengan mengucapkan kata-kata di atas. Fitnah tersebut akhirnya menjadikan beliau sakit fisik yang cukup parah sampai-sampai shalat beliau tidak mampu lagi bersedekap.
Ada lagi kisah pejuang lain yang juga mengalami ujian yang tak kalah hebatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah harus mendekam di penjara lantaran koreksi-koreksinya kepada penguasa. Di saat kondisi-kondisi negara sedang dalam keadaan darurat Ibnu Taimiyah dikeluarkan untuk menjadi pemimpin dan penyemangat jihad kaum muslimin tapi di saat kondisi negara kembali aman beliau juga kembali dipenjara. Namun itu semua tak membuat beliau menyerah dari kerja-kerjanya, banyak karya besar beliau yang dihasilkan di dalam penjara. Tanpa buku dan penanya karena dirampas, Ibnu Taimiyah menuliskan karyanya dengan arang di dinding-dinding penjara.
Ada banyak kisah-kisah lain yang memberikan kepada kita pelajaran berharga tentang betapa kerja-kerja besar itu akan banyak bunga-bunga ujiannya. Seperti contoh kedua tokoh di atas.
Sekarang, mari kita tuntaskan kerja kita. Kita tuntaskan sesuai kemapuan dan kapasitas kita. Kalau kita hanya mampu sebatas menjadi penyemangat saja, maka jadilah supporter yang gegap gempita dalam memberikan semangatnya sehingga yang lain menjadi tertular semangatnya. Namun, jangan juga yang bertugas di lapangan bekerja hanya karena ada supporternya dan ketika supportenya pergi, ia pun jadi loyo untuk bekerja. Penyemangat terbesar kita hanyalah yang Maha Pemberi Semangat. Itu kuncinya.
Kita patut belajar dari Musa bin Abdul Ghassan, seorang mujahid Granada yang tidak rela menyerah kepada orang-orang kafir dari kerajaan Spanyol yang menyerang Andalusia. Seorang diri ia songsong pasukan spanyol sampai ia mendapatkan syahidnya. ”Bagiku, mati di bawah reruntuhan tembok Granada demi membelanya, jauh lebih kucintai daripada singgasana-singgasana mewah di dalam istana Granada yang kudapat dengan menyerah kepada orang-orang kafir,” kata beliau. Seorang diri, tanpa supporter. Ia mati dalam keadaan terhormat. Syahid di jalan-Nya. Sedangkan mereka yang menyerah juga tetap dibunuh setelah dibohongi untuk diseberangkan di Afrika Utara.
Demikian ujian kerja kita. Allah ingin menguji seberapa tahan diri dengan berbagai pekerjaan yang dibebankan kepada kita. Apakah kita akan diberikan kehormatan untuk diberikan kerja yang lebih berat yang tentunya dengan ujian yang lebih berat ataukan kita masih ditempatkan pada kelas yang sama atau malah akan turun kelas karena kita belum lulus ujian.
Wallahu a’lamu bishowwab...

06 April 2010

Apa pun Profesi Anda, Teruslah Berjuang!!!

Kesempatan yang diberikan kepada setiap manusia berbeda-beda. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memberikan kesempatan kepada kita. Kesempatan seringkali kali dating di saat kita tidak siap atau ketika kita siap ternyata kesempatan tak kunjung tiba. Ksemepatan menjadi salah satu rahasia Allah yang harus selalu kita persiapkan. Misalkan, kesempatan sakit, ada banyak orang yang tidak siap dalam menghadapi kesempatan sakitnya dan seringkali mengeluh dengan penyakit-penyakit itu. Sakit yang seharusnya menjadi kesempatan kita untuk melunturkan dosa ternyata menjadi tambahan dosa. Duh, alagkah kasihannya seseorang yang sudah menanggung beban penyakit ditambah lagi dengan beban dosa karena tidak sabar dengan sakitnya.
Atau seseorang yang sudah lama menantikan rezeki dari Allah, berharap menjadi orang yang kaya raya tetapi Allah belum juga mengabulkan permohonannya. Mungkin usahanya masih kurang, atau memang Allah ingin mengujinya dan masih rindu mendengar do’a-do’anya. Penilaian kesiapan sesungguhnya hanyalah milik Allah. Kadangkala kita merasa siap tapi Allah menilai kita belum siap dan memang Dia lebih mengetahui semua itu.
Berkaitan dengan kesempatan di atas maka begitu juga halnya dengan kesempatan berkarya. Kesempatan berkarya maksudnya adalah kesempatan untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan diri semaksimal mungkin sehingga mengahsilkan sesuatu yang bermanfaat bagi siapa saja. Terlepas hasil karya itu besar atau kecil karena Allah tak melihat besar atau kecilnya tapi menilai niat dan prosesnya. Tah, orang yang berniat baik Allah telah menacatatnya dan memberinya empat pahala kebaikan dan sebaliknya orang yang berniat jahat tidak akan Allah catat sebagai satu dosa kejahatan sampai ia benar-benar melaksanakan niatnya tersebut. Itulah keadilan Allah terhadap balasan niat.
Kembali ke persoalan kesempatan dan karya maka kita akan diingatkan dimana posisi kita saat ini. Posisi yang saya maksud bisa jadi pekerjaan, jabatan, organisasi dan lain-lain. Tapi saya akan lebih menekankan pada para professional artinya adalah orang-orang yang sudah bekerja dan menggeluti profesi tertentu. Ada banyak jenis profesi. Kalau orang-orang pendidikan mengatakan hanya ada dua profesi di dunia ini, Profesi Guru dan Profesi Non Guru. Para dokter pun juga mengatakan hanya ada dua profesi, Profesi Dokter dan Non Dokter, dan sebagainya.
Saya akan membaginya lebih luas dan lebih adil menurut saya, juga tetap sama dibagi dua. Profesi Kebaikan dan Profesi Kejahatan. Adil kan?? Apakah dia mau jadi guru, dokter, hakim, pengacara, polisi, tentara, pengusaha, pekerja pabrik, petani, pedagang, nelayan dan banyak lagi selagi dia melakukan kebaikan maka ia digolongkan ke dalam profesi kebaikan. Sebaliknya bila orang-orang yang bergerak pada pekerjaan di atas bekerja untuk kejahatan dan kerusakan maka ia digolongkan ke dalam profesi kejahatan. Simple dan jelas bukan??
Saya teringat pada kisah seorang dokter yang ditempatkan pada suatu daerah yang amat terpencil. Belum ada penerangan listrik. Ditambah sang isteri yang berasal dari keluarga yang berkecukupan yang tidak terbiasa dengan kondisi apa adanya dan bisa digolongkan masih sangat tertinggal seperti itu. Tapi lambat laun mereka dapat menyesuaikan diri dan terbiasa. Sang Dokter pun mampu menjadi pelopor membuka keterisolasian daerah tersebut dan pada akhirnya berkat perjuangannya daerah tersebut terus berkembang dan menjadi daerah yang maju. Apa ibroh yang bisa kita petik dari kisah di atas?? Dokter tersebut tidak hanya melaksanakan kewajibannya sebagai tenaga medis di daerah tersebut tapi ia juga berjuang menjadikan daerah tersebut maju dan keluar dari keterisolasian. Semestinya itulah yang harus kita lakukan sebagai para professional. Para professional kejahatan dan kerusakan saja tekun menjalankan misi mereka apalagi seharusnya kita yang punya tujuan yang jelas untuk kebaikan. Semestinya juga serius dan bekerja lebih.
Setidaknya pertahankanlah prinsip-prinsip yang kita pegang. Kalau dulu semasa mahasiswa kita sering berteriak dan beretorika tentang idealisme, maka peganglah prinsip idealisme itu dan sesuiakan dengan kondisi dimana kita berada karena idealis juga butuh seni. Bukan idealisme buta yang menjadikan orang-orang menjauh dari kita. Kalau kita mampu menularkan sikap idealisme itu kepada orang lain kenapa tidak. Maka itulah yang dimaksud dengan karya nyata. Karya yang bukan dalam bentuk fisik tapi dalam bentuk pemikiran. Bahkan bisa jadi hal itu menjadi lebih baik dari karya fisik.
Saya akan berikan satu contoh lagi, lagi-lagi yang saya jadikan contoh adalah dokter (mohon maaf yach para dokter) karena memang saya lebih banyak berinteraksi dengan para pejuang pendidikan (guru) dan para pejuang kesehatan (tenaga medis) yang ditempatkan di daerah-daerah. Ini kisah seorang dokter yang berusaha menjaga prinsip hidupnya. Beliau juga ditempatkan sebagai dokter Puskesmas pada suatu daerah terpencil. Satu tahun menjadi CPNS maka tibalah saatnya untuk menjalani pra jabatan (prajab). Ada salah satu peraturan dari panitia prajab bahwa setiap wanita berjilbab yang mengikuti prajab harus memasukkan jilbabnya ke dalam kemeja. Karena dirasa aneh dan bertentangan dengan prinsip serta apa yang ia dapat selama ini maka sang dokter wanita ini mengajukan protes. Ia tidak mau mematuhi satu peraturan ini. Perdebatan panjang terjadi, dan akhirnya dia dapat dispensasi dengan syarat tidak mengajak yang lain. Di tengah perjalanan prajab sang dokter masih ternyat masih tetap berusaha mengajak yang lain untuk melakukan hal sama seperti apa yang dia lakukan.
Apa hikmah yang dapat kita petik dari cerita di atas?? Mempertahankan prinsip, memahamkan orang lain tentang suatu kebaikan dan berusaha mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan tersebut. Itulah makna perjuangan yang sesungguhnya.
Menjadi seorang professional bukan berarti membuat kita menjadi stagnan. Justeru menjadi seorang profesinal seharusnya menjadikan kita lebih mudah bergerak karena kita berhubungan langsung dengan manusia lain. Terjuan langsung dan mendengarkan keluh kesah, harapan-harapan, serta banyak hal lain dari mereka. Kontribusi nyata itu adalah saat kita bisa bersentuhan langsung dengan kepentingan mereka.
Para guru dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak didiknya dengan dimasukkan nilai-nilai da’wah di dalamnya. Tenaga medis dapat memberikan pencerdasan dan melakukan da’wah melalui ilmu-ilmunya. Para hakim dan jaksa dapat menyelesaikan kasus dengan adil dan bijaksana. Pengusaha dan pedagang harus bekerja dan berusaha secara jujur. Terapkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Menjadi polisi haruslah menjadi polisi harapan masyarakat dan benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Seorang tentara harus meniatkan dirinya berjihad di medan pertempuran dan bercita-cita mati sebagai syahid, serta ratusan profesi lainnya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dalam niat dan bingkai kebaikan. Insya Allah akan diberikan kemudahan. Kalau dulu kita belajar maka saat ini kita mempraktekan ilmu yang kita dapat. Dulu kita jadi aktivis mahasiswa atau Aktivis Da’wah Kampus (ADK) maka saat ini kita menjadi Aktivis Da’wah Kota/Kampung (ADK). Wallaahu a’lamu bishowwab.
Teruslah berjuang saudara-saudaraku!!

Kekuatan Cita-cita…

Seorang sahabat dengan gagahnya mneghunus pedangnya menyongsong sepasukan tentara Romawi. Motivasinya terlecut karena perkataan seorang yang mulia. Hanya dengan kata-kata “…suatu saat pasukan Romawi akan dikalahkan di suatu tempat yang paling rendah di muka bumi ini. Tentaranya adalah tentara terbaik dan pemimpinnya adalah pemimpin yang terbaik pula.” Kata-kata yang ternyata baru terwujud tujuh abad kemudian. Tetapi satu hal yangperlu digaris bawahi. Kekuatan cita-cita.
Sama halnya ketika orang-orang muslim sedang dilanda suasana mencekam, lapar, serta cuaca musim dingin kota Madinah yang menusuk menjelang perang Ahzab. Rasulullah melalui pukulan cangkulnya ke batu yang tidak mampu dipecahkan oleh para sahabat memberikan harapan yang begitu kuat kepada kaum muslimin. “Allahu Akbar!!” Pekik takbir Rasulullah hingga tiga kali. Para sahabat pun keheranan dan bertanya, “ada apakah wahai Rasulullah?” Sang Rasul menjawab, “saat aku memukulkan cangkulku ke batu maka terperciklah bunga api, dari sana Allah memperlihatkan kepadaku pintu-pintu kerajaan Romawi, kunci istana Persia serta istana-istna putih kota San’a.” samapai akhirnya para sahabat mematrikan perkataan Rasulullah ini di hati sanubari mereka.
Tak lama kemudian kurang dari kurun waktu seratus tahun semua wilayah Arab dapat dibebaskan. Persia menjadi satu wilayah resmi pemerintahan Islam setelah dibebaskan pada masa Umar bin Khattab. Sebagian wilayah Romawi juga dapat ditaklukkan sehingga Palestina sebagai kota suci ketiga ummat Islam juga ikut dibebaskan. Bahkan pasukan muslimin di bawah kepemimpinan Gubernur Mesir Musa bin Nushair dan Panglimanya yang terkenal Thariq bin Ziyad mampu membawa panji Islam hingga ke benua gelapa Eropa yaitu wilayah Andalusia. Panaklukan spektakuler lainnya sepanjang sejarah adalah perebutan wilayah Konstantinopel (Turki) sebagai basis terakhir kekaisaran Romawi Timur di bawah komando Panglima terbaik Sultan Muhammad Alfatih Murad sesuai hadits Rasulullah. Dengan begitu habislah kekuatan kekaisaran Romawi Timur. Sisanya tinggal Romawi Barat yang berada di Eropa (Vatikan) hingga saat ini. Hal yang paling menarik adalah bahwa kebiasaan setiap bangsa penakluk akan berlaku sewenang-wenang kepada rakyat taklukannya, tapi ini tidak terjadi pada penaklukan kaum muslimin. Rakyat dapat hidup tenang dan terjamin keamanan, jiwa dan hartanya serta agamanya. Itulah perbedaannya. Sampai ada seorang wanita yang melakukan perjalanan sendiri melewati gurun pasir tandus dengan jarak tempuh yang juga sangat jauh tapi ia aman dalam perjalanan itu. Bahkan, seekor anjing pun akan mendapatkan haknya. Itulah keadilan pemerintahan Islam.
Itu semua terjadi karena kekuatan cita-cita. Cita-cita menjadi sebuah tangga untuk mencapai kenyataan sebenarnya. Pepatah popular mengatakan, “Gantungkanlah cita-cita setinggi langit,” itu berarti bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan teruslah untuk mengejarnya. Islam pun mengatur soal cita-cita, bahkan cita-cita tertinggi itu adalah mati di jalan Allah. Sebuah tuntunan yang begitu mulia. Ketika kita menjadi seorang pendidik, maka dedikasikan semuanya hanya untuk Allah sehingga jalan yang kita ambil adalah jalan-Nya Allah. Atau sebagai seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjalankan usahanya. Jadi seorang dokter atau tenaga medis, maka ambillah setiap ibroh dari yang kita dapat dalam praktek-praktek kita. Jadilah dokter yang berjuang untuk Allah walaupun misi lainnya untuk kemanusiaan.
Namun, ada juga yang perlu diperhatikan. Ada perbedaan yang mendasar antara cita-cita dan angan-angan. Cita-cita menjadi ruh dalam setiap aktivitas kita. Motivasi kita biasanya berdasarkan atas niat dan harapan-harapan kita. Cita-cita bukan hanya dibayangkan kemudian bermimpi tanpa ada upaya untuk mencapainya. Suatu cita-cita dibutuhkan plan jangka panjang, kemudian grand desainnya seperti apa? Prosesnya bagaimana?? Tujuan akhirnya apa?? Pada akhirnya akan ada peta konkrit dari cita-cita besar kita.
Berbeda dengan angan-angan atau khayalan. Sungguh khayalan atau angan-angan sangatlah berbahaya. Bahkan Rasulullah mengingatkan untuk tidak memanjangkan angan-angan.” Angan-angan yang dimaksud adalah memikirkan sesuatu yang tidak mungkin ada, ditambah lagi dengan memang tidak ada upaya untuk merealisasikannya. Tidak ada pijakan yang jelas dalam melaksanakannya sehingga diibaratkan orang yang berkhayal atau berangan-angan itu bagaikan mimpi disiang bolong.


Cita-cita sebagai Ruh
Tentu yang saya maksudkan di sini bukanlah ruh dalam pengertian yang sebenarnya. Akan tetapi cita-cita akan menjadi motivasi terkuat seseorang mengerjakan segala aktivitasnya. Apabila seseorang cita-cita tertingginya adalah untuk menggapai ridho Allah maka itulah ruh aktivitasnya. Atau cita-cita karena riya’ dan sum’ah maka ruhnya tentu untuk pamer.
Ruh, ia adalah energy yang menggerakkan raga makhluk hidup. Tanpa ruh seseorang tidak akan dapat hidup. Seseorang punya wujud yaitu jasad tapi apabila ruhnya dicabut maka jasad tiada arti karena ia tak akan berfungsi. Begitu juga dalam hidup ini cita-cita menjadi ruh. Tanpa cita-cita manusia bagai tanpa ruh. Manusia berkehendak karena memiliki cita-cita. Manusia belajar, bekerja dan bergerak Karen aia punya harapan. Manusia membentuk sebuah keluarga karena memiliki cita-cita. Semuanya berkaitan erat dengan cita-cita. Tanpa cita-cita manusia adalah mayat hidup.

Cita-cita sebagau sumber energy
Energy solar menjadi salah satu energy yang menggerakkan kehidupan di bumi. Tentu itu semua atas izin Allah dan memang sudah ketetapannya. Tanpa adanya energy matahari atau sebualn saja matahari berhenti dari aktivitasnya maka akan terjadi kehancuran di jagat raya ini. Satu benda di jagat raya ini bermasalah maka semuanya akan terguncang karena akan terjadi ketidak stabilan.
Begitu juga dengan cita-cita, ia bagaikan matahari yang menjadi sumber energy kehidupan. Cita-cita bagaikan makanan pokok bagi aktivitas kita. Ketika motivasi untuk menggapai cita-cita itu melemah maka secara otomatis energy kita dalam menjalankan aktivitas kita juga akan melemah.

Cita-cita adalah eksistensi hidup
Cita-cita adalah ciri dan karakter hidup. Sebagaimana pada poin sebelumnya saya tuliskan bahwa orang yang tidak memiliki cita-cita bagaikan mayat hidup. Namun pada poin ini akan lebih menekankan pada pengakukan dari orang lain. Sejak kecil kita sudah diajarkan dan ditanya ingin bercita-cita sebagai apa. Maka itulah pengakuan lugu dari kita ketika itu. Setelah dapat berfikir lebih maka kita akan memilih cita-cita yang realistis. Orang-orang akan kembali mempertanyakan itu. Sekarang adalah apakan kita akan dengan menjawab apa cita-cita kita. Karena sesungguhnya jawaban kita di waktu kecil dengan jawaban kita saat ini memiliki arti yang berbeda. Jawaban kita saat ini adalah bagian dari pengakuan orang lain terhadap diri kita.

Cita-cita Menutup Ruang Ketidak Produktifan
Produktifitas sangatlah dipengaruhi oleh isi dalam hati manusia. Manusia yang produktif adalah manusia yang punya visi dan misi hidup yang jelas. Visi dan misi itu akan sangat erat kaitannya dengan cita-cita hidup. Ketiganya adalah adalah sesuatu yang tidak akan penah dipisahkan. Seseorang yang tidak punya cita-cita hidup dapat dipastikan tidak punya visi dan misi. Atau sebaliknya orang yang tidak punya visi akan kebingungan apa cita-citanya.
Ketika visi dan cita-cita hidup seseorang jelas. Maka alamatnya adalah misi yang diturunkan juga akan konkrit. Apa yang yang akan dilakukan tentu sudah dipikirkan. Misi itulah yang akan jadi acuannya dalam hidup. Misi yang baik akan membawa pada tujuan yang baik, sebaliknya misi yang kurang baik atau dijalankan setengah-setengah bisa jadi membawa kegagalan atau sampai pada tujuan tapi tidak baik dan tidak sempurna. Maka yang dibutuhkan adalah produktifitas penuh. Tutup semua celah ketidak produktifan dalam hidup dengan visi, cita-cita dan misi hidup yang jelas. Jadilah manusia yang visioner.
Terakhir, jadikan cita-cita dan visi hidup sebagai tujuan akhir kita. Dengan begitu kita akan terpacu untuk mencapainya. Tujuan akhir seorang muslim adalah Allah SWT. Wallahu a’lamu bishowwab.

09 Maret 2010

INGATKAN JIKA AKU SALAH


Ketika Cinta Tak Berbuah Surga

Di saat sang mentari mulai kembali ke peraduannya dan orang-orang pun juga mulai kembali ke tempatnya masing-masing. Begitu juga denganku yang sedang duduk di antara puluhan orang-orang di angkutan Bus Rapid Trans Palembang. Tujuanku tentunya ke rumah yang begitu kurindukan. Tidak hanya udaranya dan suasana yang masih natural akan tetapi orang-orang yang ada di rumah tersebut yang lebih-lebih aku rindukan.
Diperjalanan aku mendapatkan SMS dari seorang sahabat yang mau ”curhat”. Sedikit kaget memang karena sangat jarang ia mau menceritakan persoalan pribadinya Ia bercerita bahwa dirinya ditandai pada sebuah catatan jejaring sosial facebook. Mulanya aku menganggap biasa saja. Tapi lama-kelamaan sepertinya cerita temanku tersebut cukup serius.
Sebut saja namanya Fateeh (bukan nama sebenarnya). Dirinya mengenal seseorang yang bernama Zahrah dan anehnya mereka tak pernah bertemu hingga saat ini, padahal bisa dibilang mereka sangat ”akrab”. Entah apakah itu perasaan pribadi Fateeh ataukah memang itulah yang sebenarnya. Perkenalan mereka berawal dari sebuah sms yang dikirimkan oleh Fateeh kepada Zahrah untuk mencoba mendekati seorang adik kelas Fateeh waktu SMA yang sekarang sedang belajar di kota Y, sebut saja namanya Dini. Memang permintaan ini benar-benar tulus karena Dini sekarang sedang terserang virus Liberalisme yang sedang menggerogoti dirinya padahal dia tahu Dini itu adalah seorang yang potensial. Dinilah yang menggantikan fateeh untuk mengurus OSIS dan Rohis ketika Fateeh telah selesai dari SMA.
Sebenarnya Fateeh bukanlah pribadi yang istimewa, bila dibandingkan dengan Zahrah tentu ia tak ada apa-apanya. Dari segi fisik dan tampang sangat biasa-biasa saja. Ekonomi juga biasa saja dan pas-pasan. Kepintaran apalagi. Hanya satu yang punya, semangat dan cita-cita. Semangatnya bukan warna merah karena merah akan membakar tapi semangatnya adalah semangat biru yang menaungi dan menyejukkan. Menaungi seperti langit dan menyejukkan seperti air. Cita-citanya pun cita-cita biru, menjadi salah satu bagian dari pembangun peradaban.
Intensitas komunikasi ternyata membawa persoalan lain. Lama-kelamaan karena pembicaraan bukan hanya sekedar bagaimana ”merehabilitasi” Dini, tapi juga sampai pada hal yang bisa dianggap tidak penting bagi orang lain tapi sebenarnya penting bagi Fateeh karena ia sendiri tak ada tempat untuk menceritakan semuanya. Walaupun ia punya segudang teman, tapi itulah dirinya. Teman berceritanya paling juga jalanan kota Palembang yang panjang, panasnya terik mentari di bawah garis khatulistiwa ini, atau juga bisingnya suara bus-bus yang terus menderum dan kejam dengan asap knalpotnya yang sering membuat paru-paru terganggu dan terbatuk-batuk.
Ternyata, Zahrah merasa tak nyaman dengan kondisi itu. Sebenarnya Fateeh menyadari persoalan itu. Hanya saja ia tetap berdalih dia butuh teman tempatnya bercerita semuanya.
Aku sedikit tersenyum mendengar kisah tersebut. Ternyata komunikasi intens yang selama ini terjadi membawa persoalan yang tak sepele. Persoalan yang bisa jadi akan mengganggu hubungan persaudaraan keduanya. Dasar Fateeh yang keras kepala, dari awal dia sebenarnya sudah menyadari hal itu, hanya saja ia menganggap itu biasa-biasa saja.
Tapi, memang benar apa yang dikatakan Zahrah bahwa syaiton bisa masuk pada cela-cela manapun bahkan keburukan bisa tumbuh di ladang-ladang kebaikan seperti benalu kecil yang tanpa sadar tumbuh di sebatang pohon besar yang dapat menaungi dan tempat berteduh orang-orang yang lewat sehingga lama-kelamaan pohon rindang dan besar tersebut dapat mati akibat benalu yang selalu merampas makanannya. Kira-kira seperti itulah analogi sederhananya. Bisa jadi niat yang semulanya baik tanpa disadari tumbuh benih-benih keburukan yang ditiupkan oleh syaiton sehingga ia terus menggerogoti kebaikan itu yang pada akhirnya akan berubah menjadi kejahatan. Kejahatan yang terselubung, atau istilah Zahrah kemaksiatan yang berbaju da’wah. Na’udzubillaahi min dzaalik.
Pada paragraf akhir dalam catatan tersebut, Zahrah meminta kepada Fateeh untuk menjaga dirinya dari tipu daya syaiton dalam artian jangan sampai komunikasi yang sering dilakukan menjadi celah untuk syaiton menyusup dan merusak hati. Bukankah syaiton sanagat licik, ia meniupkan kejelakan dengan rupa kebaikan sehingga kita tanpa sengaja dan mengangap itu baik meneruskan langkah syaiton tersebut. Sebaliknya syaiton menakut-nakuti kita ketika hendak berbuat kebaikan sehingga kita ragus dan bisa jadi meninggalkan perbuatan baik tersebut. Wallahu a’lamu bishowwab...
Terakhir yang ingin disampaikan Fateeh, ”Engkau tetap saudariku, maafkanlah segala khilaf dan salahku dan terima kasih atas koreksinya. Insya Allah kita akan sama-sama menjaga semoga tidak tertipu daya syaiton. Agar persaudaraan ini tetap terjaga maka senantiasa senandungkanlah do’a perekat yang telah diajarkan kepada kita semua. Semoga tetap istiqamah....!!

Banyuasin, 6 Maret 2010

Mohon maaf apabila ada kesamaan nama. Kisah ini seperti diceritakan dan disetujui oleh Fateeh kepada Elly Sumantri

27 Agustus 2009

SELAMAT DATANG HARAPAN BARU

Oleh: Elly Sumantri
Menteri Aksi dan Propaganda BEM UNSRI

Rutinitas penerimaan mahasiswa baru dengan segala seremonialnya telah kita jalani. Ada banyak kesan yang tersisa dari kegiatan tersebut. Mulai dari rasa senang, kesal, marah, sedih dan gembira akan mewarnai catatan pengalaman. Rutinmitas inilah yang nantinya akan berbekas dan berpengaruh selama kita menjadi mahasiswa.
Namun dibalik riuhnya segala prosesi dan rutinitas tersebut adalah bagaimana kita memaknainya. Dengan pemaknaan tersebut kita akan mendapatkan hasilnya. Mau jadi apa kita nantinya sebagai mahasiswa. Apakah kita akan menjadi mahasiswa yang berguna, cengeng, atau Cuma sekedar menjadi mahasiswa “baik-baik, penurut dan asal dosen senang” alias pecundang. Inilah pilihan-pilihan itu. Terserah, kita yang memilih dan menentukan.
Sengaja saya memberi judul di atas dengan judul yang begitu singkat dan terkesan biasa-biasa saja karena memang bagi saya Anda adalah orang-orang yang biasa-biasa saja sampai Anda mampu membuktikan bahwa Anda patut dikatakan sebagai orang yang luar biasa. Bagaimana menjadi orang yang luar biasa…??? Tidak mudah memang tapi juga tidak terlalu sulit. Semua orang mampu menjadi orang yang luar biasa. Pertama, untuk menjadi orang yang luar biasa kita harus mampu memainkan peran dan fungsi sebagai mahasiswa. Kita sekarang sudah berstastus mahasiswa berarti kita adalah orang yang mampu bertanggung jawab. Ya… pertanggung jawabkan fungsi dan peran kita. Jika kita mampu mempertanggungjawabkannya maka kita adalah orang yang luar biasa. Apa itu fungsi mahasiswa??? Silakan tanyakan kepada kakak-kakak tingkat kita atau kepada para dosen.
Kedua, berikan yang terbaik untuk orang yang ada disekitar kita. Pada saat menjadi mahasiswalah kita mempunyai kesempatan yang cukup besar dan banyak untuk melakukan hal-hal buat orang lain. Pada ssat masih di bangku SMP dan SMA kita banyak disibukan dengan berbagai persoalan yang masih bersifat kekanak-kanakan. Sedangkan ketika kita sudah lulus kuliah maka yang terpikir adalah hal-hal pribadi misal mencari kerja bagi yang masih menganggur atau memang bekerja bagi yang sudah bekerja. Tentu tak ada waktu untuk memikirkan kepentingan orang banyak. Maka, sejak menjadi mahasiswa inilah latihan itu dimulai. Ketika kita sudah dibiasakan untuk peka maka sikap itu akan tetap ada ketika kita telah memasuki masa pasca kampus.
Ketiga, menjadi orang yang luar biasa berarti siap menjadi orang yang berbeda dari orang lain. Artinya adalah kita siap menjadi seseorang yang memiliki ciri khas dan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan orang lain tentu keunggulan yang positif. Ciri khas ini akan muncul dari pembangunan karakter diri dan karakter diri ysng bsik tidak akan muncul kecuali berinterkasi dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik.
Maka, menjadilah orang-orang yang luar biasa sebab orang-orang yang luar biasalah yang akan selalu dikenang. Hanya orang-orang yang luar biasa yang orang-orang besar yang ditulis oleh tinta emas sejarah. Bukan orang-orang yang lemah, cengeng, pecundang, atau ABS (Asall Bapak Senang). Barulah ketika Anda sudah punya tekad untuk menjadi orang yang luar biasa saya akan ucapkan “SELAMAT DATANG HARAPAN BARU, SELAMAT DATANG ORANG-ORANG BESAR YANG AKAN MENULISKAN TINTA EMAS SEJARAH.”

Hidup Mahasiswa….!!!
Hidup Rakyat Indonesia….!!!

02 Juli 2009

MERANCANG HARI ESOK

Masa depan adalah suatu kepastian bagi setiap orang. Hari esok adalah masa depan bahkan satu detik yang akan datang adalah masa depan. Masa depan dibangun dari penggalan-penggalan aktivitas. Kumpulan-kumpulan aktivtas dari yang terkecil hingga yang besar menjadi komponen yang sangat penting dalam membentuk masa depan. Masa depan yang baik akan terbangun apabila komponen-komponen pembentuknya juga baik, baik niat dan baik pula prosesnya walaupun harus menempuh kepayahan atau kesusahan. Sebaliknya apabila niat dan prosesnya salah masih ada peluang untuk memperbaikinya. Itulah arifnya kehidupan.
Masa depan. Kata-kata yang senantiasa menjadi pemikiran kita. Orang-orang besar akan memikirkan masa depan yang kecil pula. Tetapi orang-orang kecil dan berfikiran kerdil juga akan berfikiran kecil terhadap masa depannya. Rasulullah saw. pun memberikan tuntunan tentang bagaimana merancang masa depan,
”Apabila engkau berharap surga maka mintalah kepada Allah syrga yang tertinggi yaitu surga Firdaus.”
Begitu tingginya cita-cita. Surga Firdaus adalah surganya para nabi dan rasul. Tetapi dalam kehidupan ini sangat banyak orang yang terlalu kecil menargetkan masa depannya. “Cukup deterima menjadi PNS saja sudah cukup” atau “aku mau bekerja dan dapat uang itu sudah cukup.” Itu dalam konteks kehidupan di dunia.
Merancang masa depan seharusnya tidak boleh terlepas dari konteks ”syukur”. Syukur bukan berarti qanaah. Bedakan antara bersyukur dengan merasa cukup. Allah swt. berfirman:
“dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, apabila engaku bersyukur (terhadap nikmat-Ku) maka akan Kutambah tapi apabila engkau kufur maka azabku sangat pedih. (Q.S. Ibrahim: 7)
Ayat di atas adalah tuntunan bagaiman seharusnya seseorang bersyukur. Tujuan syukur adalah mengharap lebih dari Allah. Itu berarti, menuntut kita untuk lebih dekat kepada Allah dan terus berupaya meningkatkan kinerja. Bukannya stagnan tapi lebih dinamis dan produktif. Setidaknya itulah yang dituliskan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang.
Dalam kaitannya merancang masa depan adalah bahwa rasa syukur akan menjadi faktor pendorong tercapainya targeta-targetan masa depan kita. Mulai dari hal-hal kecil kemudian bersyukur dengan berharap lebih dari Allah yaitu penambahan nikmat. Meningkatkan produktifitas diri dan terus berbuat kebaikan. Kemudian bersyukur kembali. Itulah siklusnya. Pada akhirnya targetan tertinggi masa depan akan menemukan capaiannya.
Namun harus diingat pula, Allah tentu memberikan ujian-ujian sebagai bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Tujuannya adalah untuk menaikan hamba-Nya kepada tingkatan lain dalam strata ketaqwaan. Sebab Allah beriman: sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.”
Jadi, mulailah merancang masa depan Anda sejak dari sekarang. dari sebuah cita-cita besar. Diawali dari langkah kecil dan terus menerus. Insya Allah akan sampai kepada targetan-targetannya.
Wallaahu a’lamu bi shawwab.

27 Januari 2009

We Will not Go Down (Song for Gaza)



(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

terjemahan:

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

BELAJAR MERANGKAK DARI SEJARAH


Hari itu, 1 November 1922* Turki resmi menjadi negara republic dengan tokoh yang memproklamirkannya Mustafa Kemal Attaturk. Peristiwa ini menandai berakhirnya masa kekuasaan Khilafah Turki Utsmani (Ottoman). Sejak saat itu dunia Islam (negara-negara Islam) seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Gerakan konspirasi untuk mengharcurkan khilafah dengan jargonnya “the sick man” ternyata ampuh dan Sultan Abdul Hamid ternyata benar-benar tidak mampu mempertahankan kedudukannya sebagai khalifah.banyak wilayah yang akhirnya melepaskan diri dari Turki dan mendirikan negara sendiri. Padahal dulu, mereka bernaung di bawah payung khilafah termasuk kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti Kesultanan Samudra Pasai atau Aceh.
Akan tetapi yang berlalu biarlah berlalu. Sejarah peradaban manusia akan berulang. Kata-kata ini bukan hanya sekedar kata-kata penghibur hati pelipur lara. Tetapi inilah optimisme. Sejarah membuktikan, Rasulullah saw. pada mulanya berdakwah sendirian dengan cara sembunyi-sembunyi. Awalnya satu dua orang yang mengikutinya untuk beriman kepada Allah SWT., lama kelamaan bertambah banyak. Akibat berbagai tekanan yang dirasa sudah mencapai puncak, akhirnya dengan perintah Allah Rasulullah berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Saat itulah babak baru sejarah peradaban manusia dimulai.
Melalui tarbiyah selama kurang lebih sepuluh tahun di Makkah, sahabat Muhajirin telah teruji keimanannya, dari aspek ruhiyah, fikriyah maupun jasadiyahnya sudah tidak diragukan lagi. Begitupun sahabat Anshor melalui tangan Mush’ab bin Umair mereka mnerima cahaya Islam dengan baik. Hal ini terbukti dari jalinan persaudaraan antara Muhajirn dan Anshor. Ikatan yang ada bukan hanya sekedar tegur sapa tapi melebihi persaudaraan sedarah.
Sederet peristiwa menarik, heroik dan banyak lagi terjadi hingga masa kekhalifahan Bani Abbasiyah wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi tiga benua besar, Asia. Afrika dan Eropa. Itulah negara terbesar sepanjang sejarah di dunia, tidak sekedar kekuasaan belaka tetapi keadilan benar-benar tegak di atas muka bumi. Sampai-sampai petugas yang mengurus zakat dan shodaqoh pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkeliling benua Afrika untuk mencari orang yang berhak mendapatkan zakat dan shodaqoh tersebut namun ia tak mendapatkannya karena idak ada yang merasa berhak menerima.
Berkaca dari itu semua, kita saat ini sepertinya perlu banyak belajar dari perjuangan-perjuangan tersebut. Angin segar Islam tampaknya sudah mulai bertiup dengan sepoinya namun belum terkoordinasi dengan baik. Itulah masalahnya saat ini, tidak ada satu kesatuan untuk menuju ke sana. Masing-masing harokah masih mengedepankan egoisme kelompok. Entah ini sebagai watak asli atau warisan budaya kolonialisme yang cukup lama bercokol di negeri-negeri muslim.
Para pemikir dan dunia Barat-pun mengakui bahwa setelah Uni Sovyet runtuh, kekuatan dunia mengerucut menjadi dua ”Barat VS Islam”. Wajar kalau banyak cara dilakukan oleh Barat untuk menyerang Islam. Mulai dari proyek Imperialisme, kolonialisme, sekulerisme, serangkaian invansi dalam segala bentuk ke negara-negara muslim yang dianggap mengancam kepentingan mereka dan seabrek produk-produk lainnya.
Mereka sadar betul, bahwa Islam tidak hanya agama yang sekedar menegdepankan ritualitas semata seperti agama (ajaran) lain yang mereka kenal. Islam itu integral, universal dan komprehensif. Maka, mereka mulai kalang kabut bagaimana memadamkan cahaya Allah tersebut.
Sejarah membuktikan keterpurukan Islam tidak berlarut-larut seperti saat ini. Contoh, ketika khilafah Abbasiyah jatuh oleh pasukan Tartar sesegera mungkin orang-orang muslim mendirikan khilafah yang baru yang berpusat di Turki itulah Khilafah Turki Utsmani. Gerak cepat ini disebabkan masih berpegang teguhnya masyarakat muslim pada ajaran sunnah Rasulullah. Berbeda dengan saat ini, setelah sekian abad lamanya bangsa-bangsa muslim terjajah maka selama itu pula mereka konsumsi doktrin-doktrin penjajah yang meyebabkan mereka begitu pragmatis dan pengaruh masih tersa hingga saat ini.
Walaupun lambat laun, tapi geliat itu kini mulai terasa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa angin segar Islam telah berhembus dengan sepoinya menyelusup ke setiap sanubari muslim. Ternyata proyek sekulerisme yang dijalankan Barattidak sepenuhnya termakan oleh masyarakat muslim. Buktinya pada tahun 1928, Ikhwanul Muslimin berdiri di Mesir dan hingga kini menjadi Gerakan Islam terbesar di dunia yang beranggotakan lebih dari tujuh puluh negara di dunia. Kekuatan ideologi yang dibangun membuatnya tetap eksis bahkan semakin meluas, diterima dengan baik oleh masyarakat. Kalau bukan ciri sebuah kebangkitan, lalu disebut apa lagi…..???
Gerakan dakwah kita berdiri di atas manhaj dakwah Rasulullah. Berangkat dari perjalanan dakwah Rasulullah saw. dari bi’tsahnya hingga berdirinya berdiri dan eksisnya negara Madinah makasudah sepatutnya kita mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Negara Madinah adalah model negara yang paling idelal di muka bumi dengan tingkat keadilan yang merata dan taraf hidup rakyat sejahtera. Bahkan kalau boleh dikatakan negara tersebut adalah negara paling demokratis sehingga setiap orang boleh angkat suara. Kalau tidak, tidak mungkin seorang Qibti Mesir yang Nashrani mampu mengadukan Gubernurnya Amr bin Al-Ash yang dianggapnya sewensng-wenang kepada sang Khalifah Umar bin Al-Khattab. Keadilan yang merata tersebut menjadikan setiap orang merindukan akan kedatangan Islam di negerinya.

Wallahu a’lamu bishowwab.
* ada juga yang menyebutkan tahun 1924.

MAKNA SEBUAH SIKAP


Kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan

Saat Dzul Qornain dan bala tentaranya mwmasuki sebuah gua untuk mencari mata air ‘ainul hayat, maka mereka terhenti pada sebuah tempat yang apabila tempat itu diinjak baik olek kaki manusia ataupun oleh kaki kuda ia mengeluarkan suara gemericik. Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan, “semua kalian yang ada di sini, saat keluar nanti kalian akan menyesal.” Mereka tidak mengerti maksud ucapan dari salah satu mereka itu yang ternyata Nabi Khidir as yang memang ketika itu bersama-sama mereka sebagai penasehat raja. Karena penasaran, sebagian mereka ada yang mengambil banyak benda gemericik tersebut, ada yang mengambil sedikit dan ada juga yang tidak mengambil sama sekali karena mereka anggap tidak ada gunanya.
Benarlah, setelah keluar dari gua tersebut mereka semua menyesal. Yang mengambil banyak menyesal tidak mengambil lebih banyak lagi, yang mengambil sedikit menyesal tidak mengambil seperti teman-teman mereka yang mengambil banyak, terlebih lagi yang tidak mengambil sama sekali. Pasalnya benda yang mengeluarkan suara gemericik apabila diinjak tersebut ternyata intan. Untuk masuk kembali ke dalam gua mereka perlu berjuang dari awal melawan hawa dingin, pengap dan gelap. Ditambah lagi raja mereka Dzul Qornain yang tidak mengetahui hal tersebut telah mengajak mereka pulang.
Beranjak dari kisah di atas terlepas dari benar atau tidaknya maka setiap kita harus memiliki sikap. Sikap biasanya muncul dari sebuah prinsip hidup dan prinsip hidup lahir dari ideology yang kuat. Kekuatan ideology menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi tantangan hidup ini apapun yang terjadi. Apabila kekuatan ideology, ketajaman prinsip serta kematangan sikap dikombinasikan akan muncul suatu instrument besar. Instrument ini yang akan memicu kekuatan besar.
Begitu besar makna sebuah sikap sehingga tak mudah bagi kita untuk dapat menentukannya secara pas. Adakalanya kita sendiri yang melanggar prinsip-prinsip hidup kita sehingga yang menjadikan sikap kita berubah , tidak sesuai dengan hati nurani. Sebenarnya factor ideology yang seharusnya mendominasi hidup kita. Islam tidak sekedar rutinitas di masjid, Islam adalah sebuah system yang di dalamnya ada ideology, kekuatan, baik kekuatan dalam bentuk fisik maupun strategi (fikriyah). Islam mengajarkan kita akan sikap yang tegas. Sebagaimana di dalam Al Quran Surat Al Kaafiruun:

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Surat ini menggambarkan dan mengajarkan kita bagaimana sebuah sikap dan prinsip dibangun sekaligus. Sikap tidak ingin menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir begitupun sebaliknya orang-orang kafir bukanlah penyembah sesembahan orang-orang mukmin yaitu Rabb yang Esa, Allah SWT. Prinsipnya jelas “untukmu agamumu dan untukku agamaku.” Ideologynya adalah Al-Islam yang sangat kuat menghunjam ke dalam hati.
Kita tentu tidak ingin menyesal seperti para tentara Dzul Qornain dalam kisah di atas. Kita tentunya ingin keberuntungan yang selalu dilimpahkan kepada kepada kita. Tapi celakanya kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan karena ketakutan yang dibuat-buat.
Begitupun para penguasa negeri ini. Ketika kita baru saja merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam beberapa decade saja, para pemimpin negeri ini telah berani mengambil resiko dengan pinjaman luar negeri jangka panjangnya, sedangkan akibatnya tidaklah terlalu dipikirkan. Akibatnya, sepanjang tahun kita harus membayar hutang tersebut yang semakin hari semakin membengkak akibat bunga dan penurunan nilai mata uang rupiah. Eksploitasi Sumber Daya Alam selama ini ternyata untuk kepentingan luar negeri saja.
Di lain sisi, pememrintah tidak berani mengambil resiko memanfaatkan SDA yang ada dengan pengelolaan sendiri. Pemerintah kurang sabar untuk memperoleh keuntungan dari eksploitasi alam. Alasannya SDM yang tidak memadai serta peralatan yang juga tidak mencukupi. Mengapa kita tidak mencontoh Malaysia? Malaysia, selama ia mengimpor tenaga pendidik dari Indonesia bersamaan dengan itu pula pemerintahnya menyekolahkan guru-guru atau calon guru mereka ke luar negeri demi kemajuan negeri mereka ke depan. Buktinya saat ini Malaysia menjadi salah satu Negara industri yang cukup pesat kemajuannya di Asia bahkan dunia. Bila kita mencontoh strategi yang dilakukan Malaysia, maka saat ini tambang-tambang kita tidaka akan dikuasai oleh pihak asing. Tambang-tambang emas kita bukan hanya sekedar terkenal dengan nama tempatnya tapi tidak akan dikuasai pleh Amerika karena SDM kita juga memadai.
Bila kita tidak ingin merugi maka cukuplah kita belajar dari Q.S. Al Ashr. Siapa mereka? Orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Alih-alih seperti itu, pemerintahan kita justru pemerintahan dictator anti nasehat, baik Soekarno maupun Soeharto.
Sekali lagi, ideology, prinsip dan sikap harus berjalan seiring seirama untuk memunculkan instrument besar. Instrument besar ini akan melahirkan kekuatan besar dan akhirnya keseimbangan dalam berfikir menuju suatu perubahan.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Wallahu a’lamu bi showab.

REFLEKSI KEPEMIMPINA KITA


Enam puluh tiga tahun lebih bangsa ini terbebas dari kekuasaan tiran penjajah namun kita masih tetap dalam kungkungan penjajahan. Ya…, kita telah dijajah oleh diri kita sendiri. Memang begitu kuatnya dampak dan pengaruh dari penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun sehingga tanpa sadar membentuk pribadi kita seperti orang-orang terjajah selamanya. Kita tidak punya kesadaran akan kebebasan diri kita yang telah dianugerahkan kepada kita.
Begitu pula dengan sistem kepemimpinan kita. Kita tinjau lagi sejarah, bagaimana Soekarno memerintah dari tahun 1945 dan akhirnya tumbang pada tahun 1966 karena pengaruh ketidakbebasan. Soeharto, setelah 32 tahun memerintah negeri akhirnya harus mundur karena juga akibat ketidak merdekaan. Selanjutnya, pada masa-masa transisi banyak terjadi tuntutan dari masyarakat karena rakyat tidak merasa merdeka. Gus Dur “diturunkan paksa” karena ia salah satu orang yang tidak mampu memberikan kebebasan kepada rakyat. Bahkan, sampai saat ini ketidakmerdekaan itu sangat kuat dirasakan oleh masyarakat.
Inilah bahan refleksi kita untuk sistem kepemimpinan kita yang mewarisi mental penjajah. Mengapa saya katakan kita tidak merdeka…?? Jelas harus kita fahami dulu makna ”merdeka” yang sesungguhnya. Ingat apa yang dikatakan oleh salah satu tentara biasa kaum muslimin kepada Rustum sang Panglima Persia pada saat penaklukan kota Qadisiyah, ”apakah yang mendorong kalian hingga kalian datang dan ingin menguasai negeri ini…?” Rustum bertanya kepada prajurit tersebut.maka dengan bangganya sang Prajurit berkata, ”sesungguhya yang mendorong kami adalah niat untuk membebaskan (memerdekakan) manusia dari penghambaan kepada sesama manusia (makhluk) kepada penghambaan kepada Allah semata.” Sebuah ungkapan yang luar biasa yang mampu menggetarkan seantero istana Rustum dan mengendorkan semangat tentara Persia. Setelah itu babak baru dimulai di tanah asal sahabat Rasulullah saw, Salman Al Farisi tersebut.
Adakah diantara kita yang mampu mengatakan hal seperti tentara Sa’ad bin Abi Waqas di atas. Atau adakah di antara pemimpin kita yang mampu mengatakan hal seperti tentara biasa tersebut. Sekaliber tentara biasa mampu menggetarkan istana Rustum, lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan sang pemimpinnya…?? Panglimanya adalah Sa’ad bin Abi Waqas dan khalifahnya adalah Umar bin Khattab. Tentu akan banyak yang mengatakan, mana mungkin kami bisa menyamai Umar bin Khattab.
Permasalahannya di sini bukanlah mungkin atau tidak mungkin tapi mau atau tidak mau. Setiap orang boleh berobsesi, kita punya obsesi untuk meneladani Rasulullah, maka kita harus punya obsesi untuk mengetahui dan meniru para sahabat terlebih dahulu. Tidak ada yang jelek dari para sahabat. Yang sekarang mesti dilakukan oleh para pemimpin kita adalah berobsesi, berobesesilah untuk meniru salah satu shabat Rasulullah, tentu kita tidak akan penah mencapai derajat ”generasi terbaik” tersebut. Namun setidaknya kita dapat menjadi sang Prajurit biasanya Sa’ad bin Abi Waqas tadi. Ketika pemimpin kita sudah mampu mengatakan hal seperti yang dikatakan oleh sang Prajurit maka dijamin ketentraman, ketenangan dan kesejahteraan akan terwujud karena itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.
Saat ini kita butuh pemimpin yang mau dan mampu mendengar. Namun sebaliknya, sekarang pemimpin kita terus berkata dan berkata tanpa bisa mendengar. Sebab, secara logika orang yang sedang berbicara itu tidak akan mau mendengarkan. Kita lihat praktik kepemimpinan dalam shalat berjamaah kita. Masjid diibaratkan sebagai sebuah wilayah yang kita sebut ”negara”. Imam adalah pemimpin kita sedangkan ma’mumnya adalah rakyat. Sudah mencukupi tiga syarat berdirinya sebuah negara. Rakyat harus taat kepada pemimpin. Namun disaat sang Imam salah ma’mum wajib mengingatkannya. Jadi ketika pemimpin melenceng, keliru, ataupun lupa maka rakyat wajib mengingatkan.
Bahkan imam dapat digantikan apabila ia batal wudhu’ dan batal shalatnya. Ini adalah sebuah isyarat berjamaah (berorganisasi). Ketika pemimpin sudah tidak mampu lagi, maka harus ada yang menggantikan.
Wallahu a’lamu bish showab.

Posted on on September 16th

KRISIS ORIENTASI



Sebuah kisah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan yang dapat kita ambil hikmah. Selepas terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab, kondisi negeri muslim mengalami kekacauan. Namun setelah Khalifah Utsman diangkat sebagai amirul mu’minin, suasana dapat dikendalikan secara aman oleh sang Khalifah yang berhati lembut tersebut. Orang-orang non-muslim berduyun-duyun memeluk Islam. Salah seorang daripadanya adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman yang bernama Abdullah bin Saba’.
Namun ternyata Abdullah bin Saba’ mempunyai tujuan lain dibalik niatnya memeluk Islam tersebut. Ia mengharapkan Khalifah selaku penguasa negara akan memberikan kehormatan kepadanya. Dia menginginkan diberikan jabatan yang cukup tinggi dalam bidang apa saja. Tentu saja Khalifah Utsman menolaknya sebab Islam sangat melarang “meminta jabatan” dan “memberikan jabatan” kepada orang yang memintanya.
Karena penolakan tersebut, Abdullah bin Saba’ pun kecewa. Bukannya jabatan yang peroleh tapi nasehat yang cukup keras dari Khalifah. Kekecewaan ini akhirnya diluapkan dengan menyebarkan fitnah yang sangat keji di kalangan kaum muslimin. Dia mengatakan bahwa pewaris dan Khalifah yang sah adalah Saiyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagian terpengaruh dengan hasutan tersebut sehingga mereka membentuk perkumpulan yang dipanggil Syiah Saba’iyah yakni kaum Syiah sekarang.
Bahkan yang lebih keji lagi, Abdullah bin Saba’ berani mengatakan,” “Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan pada waktu itu malaikat Jibril sedang mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad yaitu orang yang tidak berhak.” Mendengar kabar beracun itu Syaidina Ali bin Abi Thalib marah besar dan pada masa pemerintahannya beliau mengusir Abdullah bin Saba’ keluar dari Madinah.
Kisah di atas cukup memberikan gambaran kita betapa berbahayanya ketika seseorang telah mengalami disorientasi terhadap niat. Niat adalah sesuatu yang timbul
dari dalam hati sanubari yang terdalam sehingga ia sangat kuat mempengaruhi jasad dan perbuatan. Bahkan niat adalah sesuatu yang sebenarnya terbentuk secara sadar.
Para ulama sepakat bahwa unsur-unsur yang harus ada agar ia menjadi sebuah niat adalah: Pertama, orang tersebut faham dengan apa yang akan dia lakukan sehingga dituntut pengetahuan terlebih dahulu.
Kedua, sadar dengan apa yang akan dilakukannya. Orang yang sedang tidur lalu bermimpi melakukan sesuatu tidaklah dianggap sebuah niat. Kesadaran adalah faktor yang sangat menentukan dalam memulai sebuah niat sehingga orang yang sedang mabuk sangat dilarang untuk mendekati shalat tentu niatnya untuk shalat tidak akan diterima. Serta orang yang tertidur tanpa sengaja sehingga lupa untuk mengerjakan shalat mendapatkan rukhsha untuk melakukan shalat ketika ia terbangun dan ingat.
Ketiga, tahu dengan tujuan dari apa yang ia niatkan dan akan lakukan. Tahu dengan tujuan berarti ia akan tahu manfaat dan mudharat, resiko serta segala yang berkaitan dengan niat dan pekerjaan tersebut. Ketika ketiga elemen dasar ini terpenuhi maka jadilah ia niat yang sempurna.
Rasulullah saw memberikan perhatian yang sangat lebih terhadap persoalan niat sehingga Imam Nawawi meletakan hadits tentang niat ini pada urutan yang pertama dalam Hadits Arba’innya.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Kondisi yang terjadi saat ini sangat banyak sekali orang-orang yang mengalami disorientasi dalam berniat. Krisis tidak lagi melanda ekonomi, sosial, budaya, politik, dll., bahkan telah merambah pada bagian paling inti dari diri kita yaitu hati kita. Sesuatu yang sangat krusial ketika hati telah menjadi ranah yang terpengaruhi oleh ambisi pribadi.
Saya rasa kita perlu membaca kembali kisah Abdullah bin Saba’ di atas yang pada akhirnya berdampak sangat buruk bagi ummat. Hal ini disebabkan karena disorientasi niat. Sebenarnya masih banyak lagi di dalam Al Quran yang mengisahkan orang yang pada akhirnya binasa karena mengalami krisis orientasi. Kita mengenal nama Qarun yang kaya raya. Pada awalnya ia adalah seorang shaleh yang miskin. Tetapi setelah beberapa lama menjadi kaya raya karena Allah memperkenankannya melalui doa Nabi Musa. Tapi, apa yang terjadi pada akhirnya…?? Qarun dibenamkan Allah ke dalam bumi beserta hartanya karena niatnya telah melenceng.
Hari ini, para aktivis da’wah sudah bertebaran dimana-mana bahkan sampai ke pelosok negeri. Saya tidak pernah mengatakan bahwa semua aktivis da’wah mengalami degradasi niat. Namun, kita semua harus mawas diri, waspada terhadap semua kemungkinan. Bukan kepada orang lain tapi waspada terhadap diri kita sendiri. Tanyakan lagi kepada diri kita apa tujuan yang sebenarnya. Jangan-jangan sampai saat ini masih ada yang belum tahu tujuan dari da’wah ini. Bukankah kita mengaharapkan keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya kelak di akhirat.
Maka dari itu, perbaharui niat kita selalu. Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk selalu memperbaharui niat sebab secara sadar ataupun tidak sadar kadang terselip “niat-niat” lain yang ikut menempel dan menjadi parasit dalam hati kita. Niat yang kecil tanpa kontrol akan terus membesar dan pada akhirnya akan berpengaruh pada pola pikir, tindakan dan yang lebih parah lagi “tujuan kita”.
Wallahu a’lamu bishshowaab.