Tampilkan postingan dengan label GERAKAN MAHASISWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GERAKAN MAHASISWA. Tampilkan semua postingan

22 November 2009

Hanya Sebuah Seruan

Dengar hai dengar seruan beraksi
Untukmu segenap penegak reformasi
Bergerak bersama tuntaskan reformasi slamatkan rakyat negeri ini
Amanah pertiwi jangan dikhianati enam visi reformasi dinanti

Masih ingatkah kawan-kawan semua dengan lirik lagu yang begitu menggelorakan jiwa tersebut. Mendengarnya akan membangkitkan jiwa perlawanan Anda terhadap ketidak adilan. Apalagi bila kita benar-benar menjalankan amanah lirik syair di atas.
Tapi justeru yang terjadi saat ini jangankan mendendangkan lagu tersebut di jalanan kawan, mendengarkannya pun kita mungkin tak sudi sebab itu adalah lagu klasik yang tidak lagi sesuai dengan zaman sekarang. Maklum zaman sekarang adalah zamannya berdiplomasi lebih utama, tak berhasil pun tak apa-apa toh sudah dapat jatah beasiswa. Kata-kata "Seruan Beraksi" menjadi kata-kata yang sangat tabuh. Bagaimana tidak, mengungkap kasus korupsi di kampus sendiri tidak berani sebab takut intimidasi. Atau juga mengkritisi kebijakan birokrat tak punya nyali karena merasa hutang budi. Bagaimana pergerakan tidak mati jika kondisinya seperti ini...??
Retorika-retorika sampah dimana-mana mulai dituliskan. Seruan untuk kembali memilih pada perhelatan akbar tahunan "PEMIRA UNSRI" juga mulai bertebaran. Duh sedihnya diriku melihat para mahasiswa hanya menjadi alat tapi toh nanti setelah terpilih tak ada yang berfikir kesejahteraan mereka... Lagi-lagi yang terpilih tak punya taji, tak punya nyali untuk menggedor pintu birokrasi. Lagi pula Komisi Pemilihan Umum tidak transparan, tidak independen, tidak adil dan tidak jujur. Pengebirian terhadap hak-hak mahasiswa ini terlihat dari minimnya waktu pendaftaran Bakal Calon Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa. Tidak independen dan tidak jujur karena ternyata ada pasangan Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa yang tidak mampu melengkapi syarat administrasi pada waktu yang ditentukan (Jum'at, 20 November 2009 pukul 24.00 WIB). Bahkan yang paling menyedihkan adalah Ketua KPU tidak bersedia memberikan informasi nama-nama Bakal Calon yang telah mengembalikan formulir. Padahal itu adalah hak publik untuk mengetahuinya dan mengaksesnya setiap saat.
Apakah ini yang dimaksudkan oleh KPU dan sebagian "orang-orang besar" kampus sebagai pencerdasan politik...?? Bukankah sebaliknya bahwa ini adalah pembodohan terhadap mahasiswa, pembohongan dan pengebirian hak-hak mahasiswa. Konstituen dibodohi dan yang berkepentingan merasa puas. Itu timbal baliknya. Saya tidak menyalahkan ada yang berkepentingan di sini, yang saya permasalahkan adalah cara-cara yang dipakai untuk mencapai kepentingan itu ternyata tidak baik.
Bagi Anda yang merasakan hal yang sama yang tidak mau membohongi hati nuraninya maka saya yakin Anda pasti sepakat dengan saya. Untuk apa meneruskan sesuatu yang telah cacat sejak awal dan cacatnya itu sendiri ternyata juga dilakukan dalam kondisi sadar. Hanya ada dua pilihan saat ini kawan, dan ini hanya sekali lagi hanya sebuah seruan bagi Anda yang tidak ingin membohongi hati nurani. Pilihannya "BUBARKAN KPU atau BOIKOT PEMIRA UNSRI."

ditulis dengan penuh keharuan mengenang kejayaan masa lampau. Tapi sayang perjuangan dan pengorbanan itu telah dinodai...
Oleh : Elly Sumantri
CP : 085268393362
email : kak_elly_fkipunsri@yahoo.co.id
facebook : syabab_alfath@yahoo.com
http://www.ellysumantri.blogspot.com

06 November 2009

Mahasiswa dan Awak Angkutan Berunjuk Rasa



Kamis, 5 November 2009 | 23:53 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Sedikitnya 150 mahasiswa dan awak angkutan khusus mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Transportasi (APT) berunjuk rasa di kantor Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, Kamis (5/11). Mereka menuntut bus angkutan khusus mahasiswa diijinkan lagi melewati rute dalam kota.

Massa APT yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya, BEM Fakultas se-Unsri, Serikat Buruh Transportasi dan Angkutan (SBTA) mendatangi kantor gubernur dengan sekitar 20 bus angkutan khusus mahasiswa. Unjuk rasa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Beberapa perwakilan mahasiswa dan SBTA ditemui Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumsel Sarimuda. Mereka berdialog di dalam kantor gubernur.

Bus angkutan khusus sekarang dilarang beroperasi di dalam kota. Ini sangat merugikan mahasiswa dan tidak berpihak kepada sopir. Tidak mungkin mahasiswa setiap hari terlambat datang ke kampus dan pulang karena rute transportasi yang berbelit, ujar Elly Sumantri, Menteri Aksi dan Propaganda BEM Unsri .

Akibatnya, bila ingin ke dalam kota, mahasiswa harus berganti angkutan umum lain. Ongkosnya jadi lebih mahal. Ini jelas memberatkan, waktu tempuh ke kampus atau ke rumah juga jadi makin lama, kata Iqbal, seorang mahasiswa.

Aliansi ini menuntut dijalankannya rute win-win solution yang tidak merugikan mahasiswa dan awak angkutan. Rute ini yaitu berangkat dari Cinde-Ampera-Jalan Ki Merongan-Jalan Raya Palembang Indralaya-Kampus Unsri Indralaya dan pulangnya dari K ampus Unsri Indralaya-Jalan Raya Palembang Indralaya-Musi II-Bukit Besar-Jalan Demang Lebar Daun-Polda -Jalan Jenderal Sudirman-Cinde.

Ahmad Akbar Sirait, Sekretaris SBTA menjelaskan, unjuk rasa itu merupakan buntut dikeluarkannya SK Gubernu r Sumsel Nomor 561 tahun 2004 yang mengatur perubahan rute melarang angkutan khusus maha siswa masuk kota. Setelah dilakukan unjuk rasa 37 kali, pada 2006 dicapai kesepatakan rute baru yang membolehkan bus masuk kota lagi. Akhir-akhir ini kesepakatan dilanggar oknum aparat yang menilai kesekapatan itu sudah tidak berlaku karena gubernur sudah ganti. Bus tidak boleh masuk kota, bila masuk ditilang, katanya.

Pihaknya minta kesepakatan awal dijalankan lagi dan dibuat regulasi baku yang mengatur trayek bus angkutan khusus mahasiswa. Selain itu, bus diharapkan bisa mengakut penumpang umum tanpa dibatasi jam, tidak hanya di atas jam 12 siang seperti selama ini .

Di hadapan para pengunjuk rasa, Sarimuda mengakui beberapa minggu terakhir ini, kesepakatan yang pernah dibuat antara APT dan Pemprov Sumsel pada tahun 2006, dilanggar. Parahnya, pelanggaran itu dilakukan sejumlah petugas dengan diwarnai praktik pungutan liar pula.

Saya berjanji, dalam dua hari ini, kesepakatan tahun 2006 itu akan dijalankan kembali. J ika ada oknum Dinas Perhubungan yang melakukan pungli, tolong laporkan ke saya, katanya. (RWN/LAS)

27 Agustus 2009

AKU MERINDUKANNYA KEMBALI

Sejarah telah diukir dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah keperkasaan dan kebesaran itu selalu dibawakan dalam setiap pelatihan-pelatihan menjadi seperti sebuah legenda dan dongeng. Sangat menarik dan begitu mengagumkan. Tapi sayang ia hanya sekedar menjadi cerita dan membuat bangga pada saat diceritakan saja. Tanpa membekas.
Entah apa yang terjadi dan apa yang dipikirkan. Selalu saja terjebak pada rutinitas dan budaya formalitas yang membosankan. Yach… membosankan. Mungkin kita telah kehilangan ruh itu. Semangat itu. Ia hanya sekedar menjadi cerita indah yang selalu saja ditampilkan pada saat pelatihan-pelatihan. Menjadi legenda dari generasi ke generasi. Tapi sesungguhnya kebanggaan itu hanya patut dimilki oleh para pengukirnya. Bukan kita. Kita sesunggunya belum pernah berbuat apa-apa.
Kita belum layak mendapatkan kebanggaan itu. Apa sesungguhnya yang telah kita perbuat??? Berhadapan dengan moncong senjata…??? Jauh. Bahkan berhadapan dengan polisi wanita saja kita takut. Atau satpam-satpam yang wajahnya sengaja dipaksa garang kita pergi. Inikah kita….???
Tidak kawan. Tak usah lagi dibawakan film-film yang mengagumkan itu kalau kita belum mampu berbuat apa-apa. Atau cerita-cerita heroic pemuda dan mahasiswa ’28, ’45, ’65, ’98, dll. Saya tidak tega melihat betapa akan semakin tenggelamnnya kita. Yach… kita tenggelam dengan fasilitas. Takut dengan PD III atau dosen yang akan memberikan nilai kecil.
Dimana kita??? Aku rindu cerita-cerita itu. Cerita yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya, bukan untuk berbangga tapi sebagai suntikan semangat kepada mereka.

02 Juli 2009

Kasus Korupsi di UNSRI, Tamparan Keras Bagi Kami

Satu lagi sebuah tamparan keras bagi Civitas Akademika Universitas Sriwijaya. Lusa (25/6) Kejaksanaan Tinggi Sumatera Selatan telah menetapkan status Dekan Fakultas Pertanian UNSRI, Prof. Dr. Imron Zuhri sebagai tersangka kasus korupsi penyelewengan dana pengadaan kebun percontohan di Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim. Kasus ini memang telah lama mengusik mahasiswa, hanya saja sebelumnya kasus ini seperti ditutup-tutupi oleh rektorat bahkan hingga kini pihak rektorat masih terus berdalih.

Terkuaknya kasus ini menjadi sebuah bukti kebusukan di dalam tubuh kampus terbesar dan ikon pendidikan di Sumatera Selatan ini. Di tengah gencar-gencarnya UNSRI untuk menjadi World Class University dan Badan Hukum Pendidikan ternyata terjadi kasus yang memalukan ini dan tentunya mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia secara umum. Bagaimana nanti ketika sudah menjadi BHP...?? Tentu peluang penyelewengan akan lebih besar lagi sebab pengelolaan kampus secara mandiri memberi cela untuk itu.

UNSRI saat ini terbagi dalam dua kelompok besar. Mahasiswa di satu pihak yang menginginkan penuntasan kasus ini bahkan meminta audit seluruh keuangan di UNSRI baik dekanat maupun rektorat. Pada sisi yang lain pihak rektorat berusaha menutup-nutupi masalah ini dengan alasan menjaga nama baik UNSRI. Setidaknya itulah hasil konfirmasi BEM UNSRI pada pertemuan dengan Rektor UNSRI kemarin (Jumat, 26/6). Tapi memang sewajarnya sudah mahasiswa menuntut demikian karena landasan berfikirnya adalah kebenaran. Sudah terlalu banyak kasus di UNSRI, FK terkait dana pendidikan yang cukup besar tapi ternyata tidak disetor ke negara, FH terkait penyelewengan dana pengadaan mobil dinas, kedua kasus ini tinggal menunggu dinaikannya status. Ada yg masih tahap penyelidikan dan penyidikan.

Dari beberapa kasus di atas tidak menutup kemungkinan sederet nama terkait. Atau juga Fakultas lain yang kebusukannya lebih besar akan terbongkar. Ingat wahai birokrat bermasalah, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga...

Secara tegas BEM UNSRI menyatakan beberapa pernyataannya. Setidaknya ada Tiga Tuntutan Mahasiswa (Trituma) yang telah di sounding ke media massa dan via opini, yaitu:
Pertama, segera non aktifkan Dekan Fakultas Pertanian UNSRI saat ini sebab mahasiswa tidak ingin ada pimpinan UNSRI yang berstatus tersangka masih duduk pada jabatan strategis,
Kedua, usut tuntas seluruh kasus korupsi yang ada di UNSRI dan audit keuangan seluruh dekanat bahkan rektortat UNSRI,
Ketiga, segera lakukan reformasi birokrasi dalam tubuh UNSRI dalam hal komitmen, kejujuran, dan pelayanan.

Bagi mahasiswa UNSRI, apakah kita akan tetap diam setelah nyata kebusukan di depan mata kita...??

Seruan Aksi: Senin, 29 Juni 2009 di Rektorat UNSRI pukul 10.00 WIB. Isu: selesaikan kasus korupsi di UNSRI dengan tiga tuntutan di atas.

Hidup Mahasiswa...!!

27 Januari 2009

Trend Gerakan Mahasiswa Masa Lalu, Masa Kini dan Prediksi yang Akan Datang


Mahasiswa adalah elemen yang tak akan pernah terpisahkan dari perjalan peradaban sebuah bangsa. Sejarah di dunia ini, baik di Barat maupun di Timur, telah menjadi bukti idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya yang melekat pada sosok mahasiswa telah banyak banyak mewarnai peradaban negeri di berbagai belahan dunia.
Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 3,5 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll. adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.
Gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Dalam perjalanannya dari masa ke masa, bangsa ini telah mengenal beberapa dekade perjuangan mahasiswa.
Lalu bagaimakan trend gerakan mahasiswa tersebut…??
Secara garis besar terdapat lima periode yang penting yang dapat dijadikan patokan seperti apakah trend gerakan mahasiswa.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1966
Dikenal dengan istilah angkatan ’66, merupakan aksi pergerakan mahasiswa maengangkat isu bahaya laten komunis sebagai bahaya laten negara yang harus segera dimusnahkan dari bumi Indonesia. Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, dan Yusuf Wanandi adalah diantara aktivis mahasiswa yang bergerak lantang menentang komunisme. Dimana pada saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI), sebagai pengusung paham komunisme, telah cukup hebat merasuki sektor-sektor pemerintahan.
Dukungan masyarakat terhadap pergerakan mahasiswa yang terbangun dibeberapa wilayah nusantara memaksa Presiden Sukarno untuk berpihak pada rakyat. Slogan NASAKOM yang dipaksakan Sukarno akhirnya runtuh dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR). Peristiwa ini menandai berakhirnya kepemimpinan Orde Lama (ORLA) dan memasuki era Orde Baru (ORBA) dibawah kepemimpinan Suharto.
Mahasiswa, rakyat dan militer saling bergandengan tangan dalam gerakan ini. Satu isu yang diusung cukup membuat pemerintahan Soekarno goyang. ”Bubarkan PKI,” merupakan isu sentral yang akhirnya menelurkan isu-isu yang lain sehingga lahirlah ”Tritura.” Dapatlah dikatakan bahwa trend gerakan pada masa itu merupakan gerakan yang bercirikan pada kepedulian sosial dan juga merupakan gerakan refresif mahasiswa karena melihat kondisi masyarakat yang begitu memprihatinkan dan juga gerakan ini didukung oleh kekuatan militer dibelakangnya.
Akan tetapi, saat itu beberapa aktivis ‘66 memilih menanggalkan baju idealismenya untuk mengecap kenikmatan menjadi anggota parlemen, berduyun-duyun masuk Golkar, sebuah entitas yang kemudian dikecam. Orang yang paling keras memprotes perilaku memalukan ini adalah Soe Hok Gie, aktivis ‘66 sekaligus intelektual merdeka yang mati muda. Gie marah dan kecewa menyaksikan teman-temannya sesama demonstran melebur dalam kekuasaan; tidak sabar menjadi penunggu gerbang idealisme yang selama ini digemborkan lewat aksi-aksi demonstrasinya. Gie menuduh mereka pengkhianat karena telah melacurkan diri untuk meneguhkan legitimasi rezim Orba.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1970-an
Dalam perkembangannya, pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Suharto banyak mendapatkan penentangan dari gerakan mahasiswa. Gerakan anti korupsi muncul di tahun 1970 yang ditindaklanjuti dengan pembentukan Komite Anti Korupsi, yang diketuai oleh Wilopo. Tahun 1972 merebak Aksi Golput menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru, karena Golkar dinilai telah berlaku curang. Gerakan melawan kebijakan penggusuran pemukiman rakyat kecil akibat pembangunan Taman Mini Indonesia Indah muncul di tahun 1972.
Peristiwa Malari pada 15 Januari 1974, adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa menolak produk Jepang dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Dilatarbelakangi oleh Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya saat kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka yang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974), demonstrasi disertai dengan kerusuhan. Aktivis mahasiswa yang mencuat namanya pada masa ini diantaranya Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.
Gerakan mahasiswa Indonesia 1978. Gerakan yang mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional pada 1977-1978 yang mengakibatkan untuk pertama kalinya kampus-kampus perguruan tinggi Indonesia diserbu dan diduduki oleh militer. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.
Salah satu ciri dari pemerintahan Orde Baru adalah kuatnya pengaruh militer yang mendukung pemerintahan. Maka dari itu, gerakan mahasiswa mau tidak mau harus berhadapan dengan tindakan refresif militer dalam hal ini ABRI. Berbagai aksi mahasiswa pastilah mendapatkan tekanan yang begitu besar.
Trend gerakan pada masa itu adalah sebuah gerakan bercirikan poloitik. Hal ini dapat dilihat dari penentangan terhadap kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Selain itu, kritik mahasiswa terhadap strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.
Secara sekilas strategi pembanguanan Orde Baru menguntungkan rakyat. Akan tetapi korban dan kerugian yang didertia oleh rakyat justeru lebih besar dari keuntungan dan manfaatnya. Misal, pembangunan sebuah sarana baik milik pemerintah, umum, ataupun perorangan dari anggota keluarga pejabat tanahnya berasal dari tanah rakyat yang dibebaskan secara paksa. Pembebasan tanah secara paksa ini tidak juga mendapatkan ganti rugi.
Rakyat tidak mampu berbuat apa-apa sebab eksekusi dilaksanakan oleh militer. Militer ketika itu seperti momok yang menakutkan bagi masyarakat. Dikenal istilah ”ABRI Masuk Desa.”

Gerakan Mahasiswa Tahun 1980-an
Pasca diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.
Gerakan pada era ini lebih terfokus pada perguruan tinggi dengan ciri ilmiahnya yang kental akibat pemberlakuan NKK/BKK. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1990 an
Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus /Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis.
Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane-nya perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang kritis dan bersuara lantang terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Dan banyak intel berkedok mahasiswa. Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.
Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK.
Gerakan mahasiswa dekade 90-an mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa.
Gerakan mahasiswa dengan agenda REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat. Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat untuk mengubah kondisi yang ada, dimana rakyat sudah jenuh dengan pemerintahan yang bercokol selama 32 tahun, alih-alih mensejahterakan rakyatnya, Suharto justru semakin memperkaya keluarga dan kroni-kroninya, yang dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).

Gerakan Mahasiswa Tahun 1998
Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai tumbangnya Orde Baru dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, pada tanggal 21 Mei 1998. Berbagai kesatuan aksi diberbagai daerah muncul untuk menentang rezim Suharto. Di Aceh terbentuk SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat). Di Medan muncul DEMUD dan Agresu (Aliansi Gerakan Reformasi Sumatera Utara).
Di Bandung lahir FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bandung), FIM B (Front Indonesia Muda Bandung), FAMU (Front Aksi Mahasiswa Unisba), GMIP (Gerakan Mahasiswa Indonesia Untuk Perubahan), KPMB (Komite Pergerakan Mahasiswa Bandung), FAF (Front Anti Fasis), KM ITB (Keluarga Mahasiswa ITB), dan KM Unpar (Komite Mahasiswa Unpar).
Di Jakarta lahir KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta), Forkot (Forum Komunitas Mahasiswa se-Jabotabek), Famred (Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi), Front Nasional, Front Jakarta, KamTri (Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti), HMI MPO, KB UI (Keluarga Besar Mahasiswa UI), FAM UI, Komrad (Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi), Gempur (Gerakan Mahasiswa untuk Perubahan), Forbes, Jarkot, LS-ADI (Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia), dan HMR (Himpunan Mahasiswa Revolusioner).
KBM-IPB (Keluarga Besar Mahasiswa - Institut Pertanian Bogor) muncul di Bogor. Di Yogyakarta ada SMKR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Kedaulatan Rakyat), KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan), FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta), PPPY (Persatuan Perjuangan Pemuda Yogyakarta), FAMPERA (Front Aksi Mahasiswa Peduli Rakyat), dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta).
Di Solo, Bali, Malang, dan Surabaya juga lahir puluhan kesatuan aksi yang konsisten menentang kebijakan dan keberadaan rezim Suharto. Gerakan yang menuntut reformasi dan dihapuskannya “KKN” (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998 ini, harus berhadapan dengan berbagai tindakan represif yang menewaskan 4 aktivis mahasiswa Trisakti. Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung adalah bukti lainnya upaya represif Suharto untuk meredam gerakan ini.
Setelah bergulirnya reformasi pada tahun 1998, pergerakan mahasiswa dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi. Mahasiswa pada saat ini memiliki garis perjuangan dan agenda yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.

Gerakan Mahasiswa saat ini
Mahasiswa Pengawal Reformasi
Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh seperti saat mereka membidani kelahirannya bulan Mei 1998. Meski demikian, sungguh bahwa mahasiswa masih memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, atau setidaknya di daerahnya masing-masing.
Mahasiswa tetap dikenal masyarakat sebagai agent of change. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat terus-menerus sesuai dengan gelar yang melekat pada dirinya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dan mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan terbaik untuk bangsanya.
Di alam demokrasi, suara lantang mahasiswa merupakan representasi dari realitas sosial di masyarakat yang sering kali dikesampingkan oleh para penguasa negeri ini. Masalah pendidikan, pengangguran, beban ekonomi, kesenjangan sosial, moralitas, dan korupsi merupakan beberapa hal yang sering kali menjadi energi bagi mahasiswa untuk terus bergerak membela dan menyuarakan jeritan rakyat.
Gerakan Mahasiswa saat ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari gerakan mahasiswa ’98. Ciri-ciri gerakan ’98 pun masih tetap melekat pada gerakan mahasiswa saat ini. Walaupun dilihat dari pola dan strategi yang digunakan agak berbeda karena kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi 1998.
Pada tahun 1998, mahasiswa dihadapkan pada situasi yang memaksanya untuk bergerak cepat dan sedikit memaksa. Berbeda dengan situasi saat ini yang cukup dirasakan aman dan nyaman. Akan tetapi, ternyata situasi yang aman dan nyaman inilah yang menjadikan gerakan mahasiswa kembali mengalami kemunduran dalam hal militansi. Kalau pada era 1998 hingga 2002, mahasiswa yang turun ke jalan hingga puluhan ribu orang, maka saat ini jumlah itu tidak akan ditemukan lagi.
Gerakan mahasiswa saat ini kembali bercirikan pada gerakan ilmiah. Suburnya kembali kelompok-kelompok diskusi dengan berbagai tema kembali menghiasi setiap kampus yang ada di Indonesia denag tetap sekali- sekali turun ke jalan untuk mengireksi berbagai kebijakan pemerintah.
Isu sentral bersamapun sangat jarang digaungkan. Ciri gerakan kedaerahan yang saat ini mulai dikedepankan. Semoga semua ini adalah sebagai awal dari pembentukan karakter dan trend lain dari pergerakan mahasiswa secara nasional.
Kalau boleh menyoroti, kebijakan pemerintah berkaitan dengan BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang saat ini sedang menjadi pembahasan DPRRI patut dan harus disikapi. Masalah ini dapat menjadi isu sentral gerakan mahasiswa secara menyeluruh di Indonesia. Kalau memang diperlukan usaha-usaha seperti yang pernah dilakukan pada tahun 1998 atau sebelumnya maka itu mesti dilakukan. Maka dapat dipastikan akan ada perpaduan ternd gerakan antara ilmiah dan politik yang langsung mengkritisi kebijakan pemerintah.
Ke depan, melihat kondisi yang terjadi sebelum dan pada saat ini, maka saya memprediksikan bahwa peristiwa-peristiwa sejarah akan kembali terulang. Kalau pada tahun 1966 rakyat bersama militer menumbangkan rezim Orde Lama, maka hal itu kemungkina akan terjadi kembali. Begitu pula dengan trend gerakan tahun 70,80,90-an dan bahkan 1998 kemungkina akan terulang di masa yang akan datang datang.
Akan tetapi, sesuai dengan yang telah saya sebutkan di atas bahwa saat ini ternd gerakan mahasiswa 1998 masih tetap terasa ditambah dengan budaya ilmiah yang kembali terasa seperti pasca 1978. bisa jadi gerakan mahasiswa ke depan (akan datang) memadukan dua hal tersebut.
Yang jelas mahasiswa akan terus bergerak sepanjang zaman dengan trend yang juga sesuai dengan kondisi zaman itu. Harapan kita semua adalah ”adanya perubahan di negri Indonesia ini sehingga tercipta kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera.
Hidup Mahasiswa Indonesia……..!!!!!

*) Penulis adalah Ketua Umum HMPPKn FKIP UNSRI yang saat ini sedang belajar di Leadership School of KM UNSRI..

MENJAWAB PERMASALAHAN GERAKAN MAHASISWA PASCA '98


Pasca tumbangnya rezim orde bru tahun 1998 membawa kita pada alam demokrasi yang memungkinkan kita “Gerakan Mahasiswa” dapat bergerak bebas. Kebebbasan inilah yang saat ini menjadi senjata ampuh setiap gerakan. Alam demokrasi membawa kita pada suatu babak baru perjuangan.
Namun ternyata, keber4hasilan mahasiswa pada 1998 tidak juga memberikan efek yang positif. Ada permasalahan yang miuncul pada gerakan mahasiswa. Permaslahan yang sebenarnya tidak perlu ada, sebab masalah ini tumbuh bukan karena disebabkan oleh hal-hal dari luar tapi lebih kepada kurang kesiapan mahasiswa untuk melanjutkan “aksi-aksi”nya.
Mahasiswa dapat dikatakan sebagai penghubung antara orang-orang yang berada pada pada posisi atas (elit) dengan rakyat (kelompok alit). Kalau seandainya digambarkan maka posis mahasiswa berada di tengah-tengah.

elit
mahasiswa
alit

Posisi inilah yang membuat mahasiswa menduduki tempat yang strategis. Ia mampu merangkul orang-orang di bawahnya serta mampu mengingatkan orang-orang yang ada di atasnya. Jadinya mahasiswa mempunyai posisi tawar di tingkatan elit serta kehormatan di kalangan alit.
Itulah sebenarnya bentuk ideal dari sebuah gerakan mahasiswa. Tetapi, masalah yang sebenarnya muncul justru berkaitan dengan hal tersebut. Pertama, gerakan mahasiswa saat ini akan gagap apabila dihadapkan pada kelompok elit,terutama apabila telah benar-benar masuk ke ranah tersebut. Kegagapan ini sendiri dapat berdampak pada terkikisnya nilai-nilai idealisme yang selama ini teriakan oleh mahasiswa.
Contoh nyata yang dapat kita lihat adlah beberapa aktivis mahasiswa angkatan ‘66 seperti Akbar Tanjung, salah satunya. Ia rela mengorbankan idelisme demi mengejar kenikmatan menjadi anggota DPR melalui sebuah institusi (partai polotik) yang bernama GOLKAR. Sampai-sampai rekan sesama aktivis seangkatan dengan yang bernama Soe Hok Gie menyebutnya sebagai pengkhianat.
Memang benar, kekuasaan, jabatan dan lainnya yang sejenis merupakan bentuk ujian kepada para pengemban amanat perjuangan. Apabila ia tidak secara teguh dan ikhlas memegang idelismenya maka ia akan tersingkir dari barisan. Selanjutnya akan menjadi musuh bersama gerakan mahasiswa hanya karena kenikmatan sesaat.
Masalah inipun tetap kita hadapi saat ini, dimana beberapa aktivis mahasiswa telah didudukan di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan ternyata kondisinya setelah itu juga tak jauh berbeda dengan kondisi para seniornya terdahulu. Dapat dilihat dari beberapa kasus yang terjadi seperti pengadaan mobnas (mobil dinas), mantan aktivis mahasiswa tersebut seperti latah menjawab tantangan tersebut dan terseret arus yang begitu besar yang menggiringnya.
Kedua, lain lagi halnya dengan kondisi pada posisi elit di atas. Pemasalahan yang muncul adalah pada masyarakat. Kelompok alit saat ini tidak begitu merespons lagi gerakan mahasiswa. Berbeda dengan tahun 1998 yang masyarakat juga turut turun ke jalan untuk memperjuangkan perubahan pada negeri ini. Walaupun tidak menapikan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari sikap pragmatis masyarakat. Masyarakat mersa dirugikan maka ia turut serta berjuang dan mersa nyaman maka ia diam, tapi itulah fitrahnya masyarakat.
Tetapi, yang saya maksud di sini adalah betapa kita tidak mampu merangkul masyarakat. Seharusnya masyarakat tahu dengan kondisi bangsa saat ini yang tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia pada 1997 dan sesudahnya. Entah apakah cara penyampaian kita yang setengah-setengah atau karena terlalu tingginya cara penyampaian kita sehingga masyarakat tidak mampu mencernanya.
Pernah suatu kali seorang teman di atas bus yang penuh sesak. Kebetulan pada waktu itu sedang ada aksi demonstrasi oleh sekelompok mahasiswa yang ada di Palembang. Tanggapan dari orang-orang yang ada di dalam bus tersebut sebagian besar sinis. Ada yang mengatakan mengganggu ketertiban, membuat macet, tidak ada gunanya. Hal ini kan patut dipertanyakan….!!! Padahal, kota Palembang (tempat saya) walaupun tidak ada aksi demonstrasi mahasiswa atau kegiatan lain ya tetap saja macetnya luar biasa.
Kalau menurut pandangan saya, tanggapan masyarakat yang sedemikian rupa disebabkan karena pelayanan nyata kita ke masyarakat kurang dan ini mesti kita akui. Kita hanya bisa menuntut, pendidikan gratis misalnya, tetapi kita tidak berkontribusi kepada masyarakat untuk membantu mereka misal dengan ke desa-desa seminggu sekali atau membina anak-anak jalanan dengan berbagai keterampilan. Kalau demikian, akan terasa harmonisnya hubungan antara mahasiswa dengan masyarakat. Mahasiswa merasa memiliki terhadap masyarakat karena mereka juga bagian darinya dan sebaliknya masyarakat akan sayang terhadap mahasiswa karena kepeduliannya.
Ketiga, permaslahan justru terjadi di tubuh gerakan mahsiswa itu sendiri. Ketidak solidan internal gerakan atau antar gerakan menjadikan gerakan mereka berjalan sendiri-sendiri. Padahal, kemenangah terhadap suatu tujuan itu karena adanya kekuatan. Kekuatan akan lahir apabila ada persatuan yang kokoh dan persatuan akan terwujud apabila kesolidan terbangun.
Saat ini, kita seringkali terjebak pada permasalahan yang sebenarnya sepele tetapi membuat tenaga kita terkuras habis hanya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kita terus berkutat pada maslah-masalah internal yang sebenarnya masalah-masalah seperti itu akan terus ada dan lahir lebih banyak lagi. Maka, dibutuhkan kecerdasan untuk menyikapinya. Masalah internal biasanya lahir dari individu yang mersa kecewa atau terabaikan, bukan permasalahan kolektif. Maka setiap individu perlu menyadari bahwa tindakannya telah menghambat orang lain untuk bergerak. Dibutuhkan orang-orang yang berjiwa besar yang mampu menerima secara lapang dada setiap keputusan yanmg diambil.
Atau bisa jadi masalah timbul karena kurang pemberdayaan SDM sehingga ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Yang terakhir ini lebih kepada bagaimana suatu gerakan yang terwadahi pada organisasi membuat pemetaan yang lebih baik lagi, peencanaan yang matang, serta strategi ayng jitu.
Pada akhirnya, bergeraknya mahasiswa adalah sebuah keniscayaan karena mahasiswa adlah kelompok yang paling peka terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa akan terus bergerak dari waktu ke waktu. Satu hal yang perlu kita perhatikan, kita tidak ingin terkenal dan tidak mau dikenal. Tetapi kita akan terus dikenang hingga sepanjamg zaman. Berkontribusilah walaupun orang tidak melihat kontribusi kita.

Hidup Mahasiswa……………!!!!

PEMIRA, JANGAN HANYA MENJADI RITUAL TRANSFER KEPEMIMPINAN


Genderang perang itu kembali berbunyi. PEMIRA sudah di depan mata, hitungannyapun tidak lagi menggunakan hitungan bulan tetapi hari. Menuju November bukanlah waktu yang lama. Persiapanpun tentu sudah dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mulai dari syarat‐syarat bakal calon, jadwal PEMIRA hingga yang paling teknis. Berbagai tulisan juga sudah banyak menghiasi papan‐papan pengumuman di setiap sudu
GEMA ASPIRASI MAHASISWA
Namun, di balik itu semua ternyata ada pertanyaan yang begitu besar dari penulis. Siapa sajakah Calon Presiden kita…?? Pertanyaan ini sekaligus menjadi kekhawatiran jangan‐jangan demokratisasi di kampus ini telah mati. Ya, sesuatu yang serba surprise ini akan membawa kita pada budaya pewarisan. Calon Presiden Mahasiswa yang akan muncul dan dominan nanti lagi‐lagi dari internal Badan Eksekutif Mahasiswa Uniniversitas Sriwijaya itu sendiri. Inilah yang saya maksudkan dengan budaya pewarisan (transfer) kekuasaan. Tidak adakah tokoh‐tokoh Mahasiswa yang berasal dari Fakultas, UKM‐UKM, atau yang punya background organisasi ekstra kampus?
Universitas Sriwijaya dengan sembilan Fakultas yang ada dan + 25.000 mahasiswanya apakah tidak ada satupun yang berpotensi menjadi seorang pemimpin dan berani untuk mengembangkan potensinya itu. Saya yakin, dalam satu fakultas itu minimal ada satu orang yang berpotensi, sembilan fakultas berarti sembilan orang yang mempunyai potensi. Mengapa kesembilannya tidak maju…? belum lagi yang punya background ekstra kampus, HMI, KAMMI, GMKI, FMN, dll.
Ingat Bung…!!! KM UNSRI bukan hanya milik segelintir orang. Institusi ini milik kita bersama. Setiap orang berhak dan boleh melakukan perubahan. Tinggal pertanyaannya adalah: BERANI ATAU TIDAK. Sama halnya dengan semboyan perjuangan bangsa pada saat mempertahankan kemerdekaan, HIDUP ATAU MATI. Dalam konteks yang berbeda dari pengertian yang sesungguhnya ”HIDUP ATAU MATI” tersebut adalah ketika kita memilih hidup berarti kita telah berani mengambil resiko untuk menjalaninya, begitupun ketika kita memilih untuk mati berarti kita tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Benarkah sekarang kita ”HIDUP” ataukah raga kita hidup tapi dengan ketakutan‐ketakutan dan pesimisme kita. Apabila ini yang terjadi, sesungguhnya kita telah ”MATI”.
Untuk menghindari terjadinya kembali budaya pewarisan tersebut, maka kita sebagai mahasiswa harus cerdas. Kecerdasan tidak hanya ditunjukan oleh nilai‐nilai akademik yang bagus, kecerdasan seperti ini merupakan kecerdasan semu, selalu berubah. Apabila ada orang yang lebih baik dari kita maka kita akan terkalahkan. Tapi bila kita cerdas dengan kondisi di sekitar kita inilah bentuk kecerdasan yang sesungguhnya dan kepuasan yang tak terhingga. Baca, dengar dan telaah apa yang diusung oleh calon‐calon pemimpin kita. Apakah benar‐benar mereka mengusung perubahan ataukah ada kepentingan‐kepentingan lain di balik itu semua? Realistiskah apa yang diusungnya tersebut? Mampukah ia dengan kapasitasnya sekarang?
Memang untuk menentukan pilihan itu merupakan suatu yang sulit. Banyak pertanyaan yang mesti dijawab oleh diri kita sendiri. Tapi ketika kita telah memantapkan pilihan kita, maka saat itulah kita telah berpartisipasi dalam melakukan perubahan bagi Gerakan Mahasiswa, daerah kita dan negeri ini.
Jangan pernah menitipkan perubahan kepada orang lain sebab kita tidak akan mendapatkan kepuasan nantinya. Lakukan perubahan itu oleh diri kita sendiri dan bersama‐sama dengan orang lain yang mampu dan jujur agar perubahan itu nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan tidak ada kekecewaan dibelakangnya. ”Perubahan adalah Keniscayaan”

KPU, JANGAN HANYA MENUNGGU


Pergerakan Mahasiswa merupakan salah satu kekuatan dalam sistem demokrasi Indonesia bahkan dunia. Selain empat pilar yang telah disepakati yaitu eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers, gerakan mahasiswa adalah pilar kelimanya. Walaupun tidak secara legal formal namun gerakan mahasiswa sangat diperhitungkan karena posisinya yang memang layak untuk diperhitungkan.

Sebagai gerakan moral (moral force), gerakan mahasiswa hendaknya menerapkan prinsip-prinsip fleksibilitas, mampu naik ke atas (elit) dan turun melihat kondisi masyarakat di bawah (alit). Mahasiswa menjadi jembatan penghubung masyarakat dalam menyampaikan keluhan dan aspirasi masyarakat. Makanya, independesinya harus tetap dijaga. Independensi sebagai perwujudan dari kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat.

Gerakan mahasiswa dituntut untuk terus belajar dan belajar. Gerakan yang mampu mempertahankan eksistensinya adalah gerakan yang mau dan mampu belajar serta memperbaiki kesalahan dari pengalaman-pengalaman gerakan sebelumnya. Inilah yang seharusnya ada pada Gerakan Mahasiswa saat ini. Apalagi gerakan mahasiswa yang notabenenya adalah gerakan intelektual. PEMIRA, merupakan sarana pembelajaran politik mahasiswa. PEMIRA sebelumnya hendaklah di evaluasi kembali oleh lembaga independen penyelenggara PEMIRA saat ini. Ya, saya mencermati banyak sekali kekurangan yang terjadi pada pelaksanaan PEMIRA sebelumnya.

Negara Mahasiswa ini tak ubahnya negara sesungguhnya dimana semua lembaga hendaknya berfungsi sebagaimana mestinya. KPU menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang memang benar-benar independen. Mulai dari penjaringan awal anggotanya hingga proses pelaksanaan PEMIRA pun KPU tetap berjalan pada koridor ketidak berpihakannya kepada kelompok manapun. 

Kerja keras KPU dari saat ini hingga November nanti saya rasa tidak akan membuahkan hasil ketika KPU hanya berdiam diri, menunggu dan menunggu… Yang saya inginkan dari KPU adalah kerja proaktif, bukan hanya sekedar menempel pamflet bahwa November 2008 akan ada PEMIRA berikut syarat-syarat Bakal Calon (BALON) Presiden Mahasiswa dan Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa. Mahasiswa butuh ”pencerdasan” politik. Bagaimana menjadi warga ”negara” KM UNSRI yang baik dengan berpartisipasi dalam PEMIRA. Itulah kerja KPU yang sesungguhnya. Sangat wajar jika jumlah pemilih kita setiap tahunnya sangat minim jika melihat kondisi KPU yang seperti ini.

Belum lagi para calon yang masih sangat ”malu-malu” untuk menampakan diri ke permukaan. Hal ini menambah ”kabur” pandangan mahasiswa tentang para calon dan PEMIRA itu sendiri. Para calon yang seharusnya sudah ”menampakan” dirinya jauh-jauh hari ternyata sampai saat ini belum ada beritanya. Siapakah ”the candidates” tersebut? Ketika satu atau dua bulan belum sebelum penyelenggaraan PEMIRA akan dilangsungkan barulah mereka saling memperebutkan simpati ”rakyat”. Kondisi yang serba surpise ini menjadikan mahasiswa tidak begitu yakin dengan calon yang ada. Waktu yang panjang saja masih sangat sulit untuk dapat meyakinkan mahasiswa apalagi waktu yang sesingkat itu. Analisis ini tidaklah ditulis hanya untuk menghiasi papan-ppan pengumuman di UNSRI, setidaknya inilah pengalaman saya selama menjadi Sekretaris KPU Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dua tahun lalu. 

Lagi-lagi saya mengajak kita semua untuk dapat megevaluasi kembali kinerja KPU sebelumnya untuk dapat memeperbaikinya pada masa sekarang dan yang akan datang. UNSRI jangan lagi menjadi tempat empuk bagi orang-orang apatis. Tidak ada tempat untuk apatisme di UNSRI kita ini. KPU perlu mengkaji kembali kondisi ”negara” mahasiswa ini agar PEMIRA tahun ini sesuai target dan sasaran-sasarannya. Saya acungkan jempol kepada KPU yang sudah melakukan tugasnya walau baru beberapa hari di bentuk.

KEKUATAN JARING-JARING


Proses Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) UNSRI sudah berjalan. Kampanyepun telah dilakukan di beberapa fakultas di lingkungan Universitas Sriwijaya. Kamis malam ini akan diadakan kampanye on air di radio, itu berarti kampanye Presma UNSRI akan didengar oleh khalayak ramai, Palembang dan Sumsel. Dengan begitu selain mahasiswa, masyarakat juga dapat menilai siapakah nantinya yang pantas menduduki ”Kursi Mahasiswa 1” di UNSRI.
Berkaitan dengan itu semua, sangat penting saya mengangkat masalah ”kesiapan” calon untuk menang. Dalam beberapa pemilihan pemimpin secara umum biasanya kita membicarakan bagaimana kesiapan calon untuk kalah, sangat jarang yang menulis kesiapan calon untuk menang. Maka, saya ingin mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Kemenangan salah satu calon tidak cukup ditunjukan dengan meraup suara terbanyak. Dia juga harus mendapatkan pengakuan dari semua orang sehingga kedudukannya kuat. Bukan apa-apa, untuk melakukan sebuah gerakan apalagi gerakan moral yang tanpa digaji seorang Presiden Mahasiswa harus mendapatkan dukungan penuh dari segenap mahasiswa dan masyarakat sebagai penggerak pergerakan itu sendiri. Makanya seorang Presiden Mahasiswa hendaknya menyiapkan segala perangkatnya sebelum menyiapkan kemenangannya. Karena menyiapkan kemenangan adalah salah satu langkah menuju kemenangan.
Jaring-jaring merupakan salah satu kekuatan yang mesti dibangun. Secara pribadi, saya menilai calon Presiden Mahasiswa kita belum siap untuk meraih kemenangannya. Terang saja saya katakan seperti itu, dalam masa yang tinggal beberapa hari lagi menuju hari pencoblosan, ternyata para calon belum juga punya jaring-jaring kekuatan itu. Jaring-jaring pendukung kemenangannya nanti di kemudian hari. Apakah hal ini disebabkan karena semuanya masih minim pengalaman ataukah memang dari beberapa kampanye yang berjalan para calon tidak mampu meyakinkan para konstituen.
Dari analisis sederhana yang saya lakukan, saya dapat menarik kesimpulan. Kedepan kondisi Badan Eksekutif Mahasiswa akan lebih buruk apabila para calonnya saat ini ternyata tidak menyiapkan kemenangan itu. Sebab, Gerakan Mahasiswa UNSRI tidak pernah solid ketika para calon sendiri belum siap. Kedua, yang paling saya khawatirkan adalah bahwa tahun depan adalah tahun yang begitu berarti bagi bangsa Indonesia secara umum dan Gerakan Mahasiswa secara khusus, tahun 2009 adalah tahunnya PEMILU Legislatif dan Pemilihan Presiden RI. Apabila kedudukan seorang Presiden Mahasiswa tidak kuat bisa jadi apakah sadar atau tidak sadar BEM UNSRI sebagai lembaga kemahasiswaan yang seharusnya independen akan ditunggangi oleh salah satu kekuatan politik negeri ini.