13 Juli 2009

Da’wah, Amal Tarbawi dan Amal Siyasi

Dalam Islam apa yang disebut amal siyasi (aktivitas politik) merupakan bagian integral dari amal Islami. Sedangkan aktivitas politik yang dilakukan seorang muslim hendaknya selalu melekat (inheren) dengan aktivitas keislamannya. Kenyataan ini semakin memperjelas pentingnya amal siyasi bagi setiap Muslim dan setiap pergerakan Islam.
Sehubungan dengan ini, Hasan al-Banna menegaskan, Ikhwan tidak pernah melewatkan satu hari pun dari aktivitas politik. “Kita adalah para politikus, dengan pengertian bahwa kita memperjuangkan urusan bangsa kita.” Pada bagian lain beliau menyatakan: “Seorang Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali apabila menjadi seorang politikus yang memiliki wawasan luas dalam memikirkan urusan bangsanya, menaruh perhatian besar kepada kepentingan mereka dan mempunyai rasa kepekaan terhadap kehormatan mereka.”
Kendati demikian, Hasan al-Banna mengingatkan. Ikhwan harus tetap konsern pada kesatuan dan dinamika ummat. Karena itu ia harus tetap menempatkan posisinya sebagai ruh baru yang mengalir di tubuh ummat.
Lebih jauh Asy-Syahid mengatakan, “Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal ummat.”
Internal politik adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan.”
Sedangkan yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akanmenempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.” Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat ma’ruf dan pencegahan dari kezaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja da’wah.
Menurut Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Adabu al-Dunya wa al-Dien tercapainya cita-cita sosial politikmanusia sangat tergantung sejauh mana ia mampu mewujudkan dua syarat. Syarat yang pertama ialah yang berkaitan dengan sistem yang mengatur urusan publik, yaitu terwujudnya suatu tatanan politik yang baik. Syarat kedua ialah yang berkaitan dengan sesuatu yang dapat mewujudkan keshalihan setiap warga, yakni menyangkut masalah nilai-nilai moral yang dapat membentuk individu-individu shalih.
Perspektif al-Mawardi di atas menunjukan bahwa persoalan politik (amal siyasi) sama pentingnya dengan dengan persoalan pembinaan pribadi (amal tarbawi) dalam upaya manusia mencapai cita-cita politiknya, yaitu kesejahteraan hidup lahir dan batin. Tentang urgensi politik ini terlihat pula pada ungkapan hukama, seperti dikutip al-Mawardi, “adab (rule) itu ada dua macam: adab syari’ah dan adab siyasah. Adab syari’ah adalah segala aturan yang berkaitan dengan penerapan kewajiban.
Sedangkan adab siyasah ialah aturan-aturan yang berkaitan dengan pemakmuran bumi. Keduanya harus bermuara pada keadilan.” Sedangkan menurut al-Mawardi, “keselamatan penguasa (sulthan) dan kemakmuran negeri tergantung sejauh mana berjalannya keadilan ini.
Semoga dengan uraian di atas dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa da’wah dengan politik atau amal siyasi dengan amal tarbawi adalah sesuatu yang kontra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktivitas. Semoga pula dapat “menggoda” kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melalui aktivitas da’wah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?
Pertama, membangun kembali pemahaman keagamaan kita, bahwaagama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agam Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan seterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui proses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan denga dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru. Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh setiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya. Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau denga melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai kader da’wah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.
Kedua, membangun kembali kebersamaan kita, bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh bnatasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzhab; bahwa kita itu pelu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama. Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat da’wah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.
Ketiga, mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita; bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang dapat menutupi kekurangna orang lain; bahwa keunggulan kit adapt menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi kader da’wah melalui keunggulan tersebut.
Keempat, memahami kembali realitas kehidupan kita; bahwa kita hidup pada hari ni, bukan hari kemarin sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh denga dinamika, sehingga kita kader da’wah dituntut memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk saran, metode dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agam ini.
Akhirnya, telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi kader da’wah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al-Qur’am tergambar dalan Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaung dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar