13 Juli 2009

Tarbiyah Siyasiyah: Baina Ad Da’wah was Siyasah

Seri Taujihat Pekanan

Mukadimah

Akhi fillah,
Allah SWT telah menurunkan Risalah terakhir yang merangkum seluruh risalah nabi-nabi sebelumnya. Risalah yang bersifat “syaamilah mutakaamilah” (komprehensif dan integral).
Risalah yang tidak ada satupun dimensi kehidupan kecuali ia mengaturnya secara sistemik baik secara global maupun secara spesifik.
Oleh karenanya, Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah/2: 208)
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu merekadengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kami terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (AL-Ma’idah/5: 48)
Akhi fillah,
Risalah Islam ini sesungguhnya “Risalah Nabawiyah” yang terakhir yang sengaja diturunkan sebagai “way of life” (cara hidup) bagi seluruh manusia. Oleh karenanya ia bicara tentang seluruh dimensi kehidupan manusia. Baik dimensi aqidah, ibadah dan maupun dimensi akhlak. Danyang termasuk dalam tiga dimensi ini adalah masalah ekonomi, sosial budaya, politik dan keamanan. Di sini, tidak boleh ada yang melakukan dikotomi dalam ajaran Islam. Tidak ada yang mengatakan: “Islam Yes, No”. atau mengatakan: “yang penting adalah aqidah, yang lain nngak penting.”
Selanjutnya bagaimana kita memilki pemahaman yang komprehensif ini dan memperjuangkannya dalam kehidupan kita. Yang akhirnya lahirlah pencerahan dan perbaikan dalam dunia ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang berimpact kepada kebaikan dan maslahat ummat.

Tarbiyah Siyasiyah
Akhi fillah’
Tarbiyah siyaiyah yang bermakna pendidikan dan pembinaan politik adalah sangat urgent dipahami oleh setiap kita sebagai kader Partai Da’wah. Karena pemahaman politik yang kita inginkan bukan seperti yang kita pahami dalam ilmu politik secara umum, yaitu berpolitik yang dimaksudakan hanya untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Akan tetapi kita berpolitik untuk menegakan nilai-nilai kebenaran Ilahiyah dan memperjuangkan kepentingan serta maslahat masyarakat. Berkuasa untuk melayani ummat dan memimpin untuk memperbaiki system yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Oleh karenanya, segala aktifitas yang berkaitan dengan gerakan berpartai dan berpolitik, kita sebut dengan “Jihad Siyasi” (Perjuangan Politik). Dan bahasa Asy-Syahid, Hasan al-Banna, perjuangan ini dikategorikan dalam marhalah “rukun amal” yang disebut “Ishlahul Hukumah” (Perbaikan Pemerintahan) sampai marhalah “Ustadziyatul Ala” (Soko guru Dunia).
Akhi filah,
Keberhasilan dan kesuksesan berpolitik atau jihad siyasi harus berimpact kepada dimensi kehidupan yang lain. Harus berimpact kepada dunia pendidikan dan da’wah. Yang berujung kepada pencerdasan anak bangsa dan pencetakan generasi rabbani. Harus berimpact kepada dunia ekonomi dan sosial budaya. Yang berakhir kepada pemeliharaan asset-aset Negara dan pendayagunaan kepada masyarakat yang lebih luas. Begitu juga mampu memelihara identitas atau jati diri bangsa yang bertumpu pada pondasi spiritual dalam aspek sosial budaya.
Akhi fillah,
Seruan dan anjuran kepada para kader Partai Da’wah untuk kembali ke barak atau ke dunia da’wah saja dengan pemahaman yang sempit karena alasan bahwa dunia politik adalah dunia “rawan dan beranjau”, dunia yang sarat dengan kebohongan, ketidak jujuran, khianat, gunjing-menggunjing, halal menjadi haram, haram menjadi halal, adalah sebuah seruan kemunduran dalam berda’wah. Bukankah seruan ini seperti orang yang mengatakan dulu: “Islam Yes, Politik No”, sebuah adigium yang dulu meruapakan musuh bersama para da’I yang mengajak manusia kembali kepada Islam secara kaffah/komprehensif.
Akhi fillah,
Dan bila ada sebagian kader yang tergelincir dan terjerumus dalam permainan system yang destruktif negative, maka tugas struktur Patai Da’wah adalah bagaimana menyiapkan sarana dan prasarana bagi para kader yang melakukan jihad siyasi dan yang terjun di dunia politik agar tetap istiqamah dalam menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya dan tetap menjaga integritas diri.

Baina Ad-Da’wah was Siyasah
Apakah ada pertentangan antara da’wah dan siyasah? Jawaban pertanyaan ini akan menyelesaikan kerisauan dan kegamangan kita dalam melakukan kerja-kerja da’wah selanjutnya yang bersinggungan dengan dunia politik dan langkah meraih kemenangan “Jihad Siyasi” dalam setiap perhetan baik pemilu maupun pilkada.
Akhi fillah,
Ayat di atas dan pengertian Islam yang didefinisikan oleh Asy-Syahid di bawah ini adalah dalil yang menunjukan tentang titik temunya amal da’awi dan amal siyasi dalam bingkai keislaman. Jadi tidak ada sama sekali pertentangan antara dunia da’wah dengan dunia politik. Coba kita renungkan pernyataan beliau dalam “Risalah Ta’lim”:
“Islam adalah nizham (aturan) komprehensif yang memuat seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah daulah dan tanah air atau pemerintahan dan ummat, ia adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Ia adalah tsaqafah (wawasan) dan qanun (perundang-undangan) atau keilmuan dan peradilan, ia adalah materi dan kesejahteraan atau profesi dan kekayaan. Ia adalah jihad dan da’wah atau militer dan fikrah, sebagaimana ia aqidah yang benar dan ibadah yang shahih (benar).”
Akhi fillah,
Da’wah yang bertujuan menyeru manusia untuk kembali kepada nilai-nilai Islam secara komprehensif bisa dilakukan oleh kader di manapun ia berada dan apapun profesinya. Apakah ia seorang ekonom, pengusaha, pendidik, teknikrat, birokrat, petani, buruh dan politikus (aleg) jadi da’wah bukan suatu yang antagonis dengan dunia politik, akan tetapi dunia politik merupakan salah satu lahan da’wah.
Akhi fillah,
Semoga catatan singkat ini mampu memberi energi baru dan gelora semangat bagi kita kader Partai Da’wah untuk menguatkan soliditas dan beramal jama’I dalam proses menuju tahapan-tahapan “rukun amal” da’wah. Allahu Akbar Walillah al-hamdu.

Pentingnya Kredibilitas Keilmuan

Seri Taujihat Pekanan

Dalam rubrik tanya jawab di sebuah media online berbahasa arab, seorang aktifis da’wah menanyakan sebuah fenomena yang menurutnya telah terjadi perubahan dalam sikap, langkah dan kebijakan yang diambil para qiyadah sehingga membuat para kader da’wah tidak tsiqah lagi kepada mereka. Dalam jawabannya yang panjang lebar, pengasuh rubric tersebut menyelipkan sebuah pertanyaan untuk membantu penanya merenung dan menemukan jawaban dengan mengajaknya melihat masalah tersebut dari sudut pandang berbeda; “apakah ketidaktsiqahan kader tersebut disebabkan karena para qiyadah sudah berubah atau disebabkan kapasitas keilmuan para kader yang terbatas dan tidak mampu memahami sikap, langkah dan kebijakan yang diambil para qiyadah?”
Pertanyaan balik yang dilontarkan pengasuh rubrik tersebut mengajarkan kepada kita semua untuk melihat, menilai dan mencemati suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Melihat dan menilai suatu masalah dari berbagai sisi, tentu akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dibandingkan bila kita melihatnya hanya dari satu sisi. Demikian halnya ketika kita melihatnya dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu tentu akan menghasilkan penilaian yang berebeda dibandingkan bila kita melihatnya hanya dengan satu sisiplin ilmu saja. Karena untuk bisa memahami perkembangan dan kebijakan da’wah para era jahriyah jamahiriyah, dan agar mampu mengelola da’wah yang telah memasuki mihwar muassasi ini, memerlukan kedalaman ilmu dan peningkatan kapasitas keilmuan. Keterbatasan kapasitas keilmuan atau ketidakmampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang hanya akan membuat kita terkungkung dengan asumsi-asumsi atau kesimpulan yang menyesatkan.
Ketika ada berita bahwa Tim Pemenangan Pilkada salah satu DPW melakukan kerjasama dengan seorang non muslim, ada seorang kader yang sangat gelisah dan menulis protes keras disebuah majalah dengan mengatakan:
Tak satu pun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi pernah menerima bantuan dari kaum kafir. Bahkan ketika seorang musyrik menawarkan diri untuk ikut dalam sebuah jihad, Nabi saw mengujinya, apakah Anda beriman kepada Allah? Nabi spontan menolaknya dengan mengatakan, “Aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada musyrik.” Kenapa sensitifitas terhadap halal dan haram ini terus melemah?”
Menyimpulkan bahwa tidak satupun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah menerima bantuan dari kaum kafir adalah kesimpulan yang sangat naïf. Bukankah Rasulullah saw pernah melakukan hal-hal berikut?:
1. Bersama Abu Bakar ra, Rasulullah saw meminta bantuan seorang musyrik dari Bani Ad Diil untuk menjadi oenunjuk jalan saat mereka hijrah menuju Madinah dan orang itu pun memberikan dua kuda tunggangannya kepada Rasulullah saw dan Abu Bakar. (Shahih Bukhahri, Jilid 8, hal. 280-282)
2. Pada peristiwa Hudaibiyah Rasulullah saw meminta bantuan seorang kafir dari Khuza’ah untuk memata-matai apa yang dilakukan orang-orang Quraisy. (Zadul Ma’add, Jilid 2, hal. 127)
3. Pada saat perang Hunain Rasullah saw mwminta bantuan tenaga salah satu tokoh kafir Quraisy yang bernama Shafwan bin Umayyah dan meminjam sejumlah baju perang (bantuan harta). (Nashbu Rayah, jilid 3, hal. 377 dan Zadul Ma’ad, jilid 2, hal. 190)
Telepas dari adanya persayaratan-persyaratan tertentu usng dibuat oleh sebagian ulama sehingga diperbolehkan menerima atau meminta bantuan kepada orang non muslim, yang jelas masih banyak lagi dalil yang menunjukan bahwa Rasulullah saw menerima dan meminta bantuan kepada orang kafir dan beretentangan dengan kesimpulan saudara di atas. Oleh karenanya hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw tidak meminta bantuan kepada orang musyrik tidak bisa dilihat dari sisi tekstualnya saja, harus dilihat juga dari kontekstualnya atau asbabul wurudnya. Dalam riwayat Imam al-Hakim disebutkan bahwa orang musyrik tersebut adalah bagian dari pasukan kaum Yahudi Bani Qainuqa’ yang menjadi sahabat tokoh munafik Abdullah bin Ubay sehingga sangat mungkin penolakan Rasulullah saw tersebut disebabkan adanya kekhawatiran akan terjadi pengkhianatan dan mereka nerbalik menyerang kaum muslimin. (lihat Syarhu as Sair al Kabir, jilid 4, hal. 1423)
Untuk dapat memahami perkembangan da’wahdan problematikanya saat ini, menuntut adanya kredibilitas keilmuan. Kredibilitas tersebut tidak cukup hanya mengandalkan keilmuan yang bersumber dari literature saja, tetapi juga keilmuan yang didapat dari interaksi langsung dengan realita da’wah, keilmuan yang berasal dari interaksi langsung dengan dinamika kehidupan.
Seorang kader yang berkiprah langsung dalam da’wah siyasiyah akan memahami betapa sangat strategisnya kekuatan politik untuk melakukan perubahan dalam masyarakat dan karenanya harus terlibat dalam proses politik meskipun keterlibatan tersebut baru sebagai sarana belajar, tentunya dengan kesadaran penuh akan kemungkinan adanya dampak negatif yang mungkin mempengaruhi perilaku dan kepribadian seorang kader yang berinteraksi dengan dunia yang bergetah ini.
Sebaliknya, bagi kader yang melihat dunia da’wah siyasiyah dari kejauhan, akan cenderung menyoroti sisi kemubadziran proses politik yang memerlukan biaya mahal, cenderung hanya melihat dari sisi dampak negatif yang mungkin timbul dan karenanya mengajak kita meninggalkan dunia politik, cenderung mengikuti pikiran pribadinya dan menyeru agar kita tidak memaksakan diri terlibat dalam dunia pemilu atau pilkada, meskipun kebijakan tersebut diambil melalui proses syuro’ yang panjang. Ketika menyampaikan seruan tersebut mungkin tidak lagi mau menimbang-nimbang mudharat yang timbul bila orang-orang shalih ini tidak mau memasuki dunia abu-abu tersebut. Agar kita mampu menimbang masalah ini dengan timbangan yang benar, penting bagi kita untuk menyimak hadits Rasulullah saw. berikut:
“Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan (dampak negatif) mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).
Bila ada kader yang gelisah dan bingung dalam memahami perkembangan da’wah dan sepak terjang aktofosnya, gelisah karena ijtihad, qiyas dan mashlahat dijadikan dasar dalam mengambil sikap atau kebijakan-kebijakan da’wah dan mengatakan: “Terkadang untuk men-justifikasi tindakan-tindakan itu, digunakanlah kaidah-kaidah fiqh secara berani dan tidak proporsional… Sementara di zaman sekarang, anak-anak muda menjawab dengan berani terhadap masalah apa saja yang diajukan kepada mereka denga dalih ijtihad dan mashlahat”, ternyata kegelisahan dan kebingungan yang diungkapkan dengan kata-kata yang sama telah dinukil oleh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam bukunya “manhajiyatul ifta’ wal ijtihad”. Namun beliau menepis kebingungan tersebut setelah menemukan ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib ra:
Setiap kaum, merekalah yang paling mengetahu urusan mereka dan paling memahami apa yang bisa memberikan mashlahah kepada diri mereka, mereka berhak mencibir orang lain yang tidak memahami mereka, kebenaran dapat diketahui dengan qiyas bagi mereka yang memiliki akal.
Ali bin Abi Thalib ra telah menjelaskan dengan gambling bahwa menggunakan qiyas dan mashlahat dalam mengambil kebijakan politik, kebikana da;wah dan muamalah merupakan manhaj yang benar. Hal ini akan menghilangkan keraguan dalam berijtihad dan bahkan mendorong untuk berani berijtihad, tentunya dalam masalah-masalah fiqh da’wah, politik dan muamalah.
Dari pemaparan masalah di atas ada beberapa hal yang perlu kita garis bawahi:
1. Pentingnya meningkatkan kredibilitas dan kapasitas keilmuan untuk bisa memahami, menyikapi bahkan mengelola da’wah di mihwar muassasi. Peningkatan kredibilitas dan kapasitas keilmuan bukan hanya dengan menguasai ilmu alat yang didapat dari belajar dan membaca buku, tetapi juga dengan berinteraksi lansung dengan realita kehidupan sehingga kita dapat memahami dan menyikapi suatu fenomena atau problema da’wah dengan benar, dapat mengelola kerja-kerja da’wah ini dengan produktifitas yang tinggi.
2. Kredibilitas keilmuan menuntut adanya kredibilitas dan integritas personal. Kredibilitas dan integritas personal inilah yang akan menghadirkan keikhlasan dalam berbicara dan bertindak, dalam mengkritik dan menilai, mendorong kita menjadi orang yang adil dan objektif meskipun terhadap diri sendiri, memacu kita untuk dapat memberikan kontribusi riil yang sebesar-besarnya demi perbaikan dan pengembangan da’wah ini dan bukan sekedar berbicara, menilai dan mengkritik. Kalaulah harus menilai dan mengkritik, kita tahu kapan, dimana dan bagaimana cara mengkritik yang benar. Apalagi bila yang dikritik itu adalah sebuah kebijakan yang dihasilkan melalui syura’. Bagaimana hasil syura’ itu lebih baik dan lebih berkah dari pada pendapat dan pikiran pribadi.
3. kredibilitas keilmuan menuntut kita senantiasa memiliki pandangan positif terhadap perbedaan dan keragaman (sunnatu tanawwu’), apapun perbedaan dan keragaman tersebut. Dengan adanya sunnatu tanawwu’ kehidupan ini akan semakin dinamis. Kekurangan yang terjadi pada saudara kita berarti peluang ibadah. Allah memberi peluang kita untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Kekritisan saudara kita akan menjadikan kehidupan ini menjadi seimbang. Hanya saja kekritisan tersebut tidak boleh menjadi faktor yang mempengaruhi soliditas kehidupan berjamaah ini, atau bahkan menjadi pintu masuknya pihak-pihak yang ingin memporak-porandakan shaf kita. Wallah a’lam..

Ushul al-‘Isyrin

Manhaj Islah Kontemporer

Setelah Kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M muncullah banyak gerakan penyadaran untuk kemabali memperbaiki keadaan ummat. Namun sayang gencarnya semangat penyadaran itu dibarengi juga oleh berbagai konflik dan kekisruhan pemikiran.

Kondisi berbagai jama’ah Islam di Mesir (dan dunia Islam pada umumnya) menampakkan gejala p”pasialisasi Islam” dalam gerakan da’wah mereka. Masing-masing hanya memperhatikan satu aspek tertentu saja dari risalah Islam, menitikberatkan kepada yang satu dengan meninggalkan yang lainnya.
Ada yang hanya memperhatikan aspek aqidah saja, atau aspek ibadah saja, atau aspek cultural saja, dalam ajaran Islam. Ada pula tarekat-tarekat sufi yang hidup di sudut-sudut sempit dari lingkup Islam yang besar, yang hanya mementingkan aspek rohani yang bersifat ritual dan menyendiri atau aspek sosial yang sempit dalam batas-batas tareqat. Dan ada pula jama’ah-jama’ah politik atau partai politik yang umumnya berorientasi “Nasionalisme-Sekulerisme” yang para pemimpinnya terdiri atas orang-orang berlatar belakang pendidikan Barat yang sekuler. Di antara jama’ah-jama’ah tersebut ada yang menganggap jelekorang-orang yang sibuk memperhatikan dan menekankan aspek-aspek lainnya.
Dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi yang melanda gerakan-gerakan Ishlah (reformasi) inilah Imam Hasan al-Banna berhasil mengidentifikasi persoalan yang dihadapi ummat ini dengan sangat jelas. Didasari oleh realitas inilah maka Syahid Imam Hasan al-Banna memformulasikan kerangka berfikir untuk menyatukan semua gerakan penyadaran ummat ini untuk kerja bahu membahu.
Di antara berbagai kekeliruan dan penyimpangan baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan ummat Islam ditangkap dan dipetakan dengan amat cerdas oleh beliau, khusunya di Mesir ketika itu adalah sebagai berikut:
1. Pemisahan urusan politik, kekuasaan, agama dan Negara.
2. Pengertian akhlaq yang sesunggunya dipisahkan dengan keperluan menggunakan kekuatan dalam mengukuhkan kedudukan Islam di muka bumi. Pemahaman ini menekankan seolah-olah kekuatan dalam pengertiannya yang luas bertentngan dengan nilai akhlaq yang mulia.
3. Kegagalan dalam mengkorelasikan keunggulan ilmu-ilmu Islam dan peranannya sebagai dasar hukum dan perundang-undangan bagi penegakan hukum dan penyelesaian perselisihan di antara manusia.
4. Kekeliruan anatara memuliakan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai symbol-simbol yang bersifat bathiniyah dan tidak dapat difahami dengan menjadikan keduanya sebagai sumber pegangan hidup dan asas atas segala ilmu dan amal.
5. Pengamalan perkara-perkara yang dapat mengandung unsur syirik seperti tangkal, jampi dan sebagainya dengan mengatasnamakan ajaran agama.
6. Tidak dapat membedakan antara bolehnya berpegang kepada pendapat imam-imam madzhab dengan tuntutan berpegang kepada hujjah-hujjah yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
7. Tidak dapat melakukan pemisahan antara perkara-perkara ta’abbud denga perkara-perkara yang bersifat adapt.
8. Tidak dapat membedakan mana perkara yang ushul dan mana perkara yang cabang dalam Islam, sehingga persolan furu’ dalam masalah fiqh menjadi sebab perselisihan dan perpecahan.
9. Gagal dalam mengidentifikasi masalah ummat Islam sehingga terjebak menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam perdebatan hokum-hukum yang tidak berlaku.
10. Gagal dalam membedakan antara mentauhidkan Allah dengan terbawa-bawa dalam perselisihan ulama terkait penafsiran dan penta’wilan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah.
11. Gagal dalam membedakan antara amalan-amalan biasa yang telah meluas dalam masyarakat dengan pengertian bid’ah menurut Islam.
12. Tidak dapat membedakan antara bolehnya mengasihi dan mencintai para shalihin dengan mengkultuskan mereka dan tidak dapat membedakan antara asas-asas iman dengan natijah-natijah iman yang shahih.
13. Mencampur adukan amalan-amalan sunnat dengan amalan-amalan yang dapat membawa kepada syirik seperti meminta-minta kepada orang mati, menyeru orang mati dan lain-lain ketika menziarahi kubur,sedangkan menziarahi kubur itu sendiri adalah sunnat.
14. Tidak dapat membedakan bertawassul sebagai kaifiat do’a dengan bertawassul sebagai unsur utama dalam berdo’a.
15. Tidak dapat membedakan antara ‘uruf-‘uruf yang diterima oleh syara’ dengan ‘uruf-‘uruf yang bertentangan dengan syara’.
16. Tidak dapat meletakan keseimbangan antara amal-amal lahir dengan amal-amal bathin.
17. Gagal dalam mendudukan akal sehingga terdapat satu pihak yang enggan menggunakan akal karena takut menyalahi nash, sedangkan terdapat pula satu pihak yang menggunakan akal secara bebas sehingga meminggirkan nash.
18. Terbawa-bawa dalam mengkafirkan kaum muslimin karena kesalahan dan dosa-dosanya.
Hasan al-Banna brhasil mendamaikan konflik di antara berbagai aliran pemikiran yang ada saat itu. Dalam persimpangan inilah Hasan al-Banna menggariskan jalan pertengahan yang sahihi dan tepat bagi bagi mengembalikan ummat Islam untuk memahami risalah Islam yang asli. Hasan al-Banna menggariskan dua puluh prinsip berkaitan dengan permasalahan ini yang dinamakan dengan Ushul ‘Isyrin. Secara ringkas, Ushul ‘Isyrin menggariskan perkara-perkara berikut:
1. Islam adalah ad-Dien yang syamil
2. Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sumber utama kehidupan
3. Iman adalah asas utama sedangkan natijah-natijah iman seperti kasyaf, mimpi, ilham dan sebagainya tidak menjadi matlamat ibadah dan tidak boleh menjadi hujjah
4. Jampi-jampi yang berdasarkan nash-nash saja yang diterima sedangkan selain itu batal dan ditolak
5. Pendapat imam dapat diterima seandainya tidak berlawanan dengan kaidah-kaidah syari’at Islam
6. Perkataan siapa saja dapat diterima atau ditolak kecuali perkataan rasulullah saw.
7. Muslim yang belum mencapai peringkat ilmu yang tinggi dapat mengikuti pendapat salah satu imam madzhab, tetapi harus berusaha untuk terus meningkatkan ilmunya
8. Perselisihan dalam perkara-perkara furu’ tidak boleh menjadi sebab terjadinya perpecahan
9. Membicarakan perkara-perkara yang tidak waqi’i adalah memberat-beratkan dan mesti ditinggalkan
10. Sifat-sifat Allah adalah bersih dari ta’wil-ta’wil yang salah
11. Bidh’ah yang jelas bertentangan dengan nash adalah dhalalah
12. Bidh’ah dalam ibadah mutlak adalah termasuk masalah khilafiayyah
13. Mengasihi para shalihin adalah untuk tujuan taqarrub kepada Allah
14. Amalan ziarah kubur hendaklah dilakukan berpedoman kepada sunnah
15. Tawassul adalah masalah khilafiyyah dalam kaifiat berdo’a
16. ‘Uruf yang salah tidak mengubah hakikat lafadz syari’ah
17. Aqidah adalah asas kepada amal, amal hati lebih penting daripada amal zahir, tetapi mencapai kesempurnaan dalam kedua-duanya adalah tuntutan syara’
18. Islam menempatkan akal di satu tempat yang mulia
19. Dalam perkara yang qath’i, syariat dan akal tidak bertentangan
20. Tidak boleh mengkafirkan orang yang mengucapkan syahadatain karena maksiat yang dilakukannya.
Pemikir Islam dari Syiria Said Hawwa menyatakan bahwa: “Kedua puluh dasar yang disebutkan okeh Hasan al-Banna ini merupakan hasil dari pandangan yang tafshili (teliti) terhadap kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya saw. Ia juga sebagai hasil dari penelitian yang luas terhadap kitab-kita ushul fiqh dan aqidah. Ia juga sebagai hasil dari pemahaman yang mendalam terhadap realitas ummat Islam dan juga pengetahuan yang tinggi dalam membedakan mana yang baik dan yang buruk di antara perkara-perkara yang telah diwariskan oleh ummat Islam.”
Namun cara penyajian ushul-ushul tersebut dan kedudukan utama ke-20 prinsip tersebut sebagai asas pemikiran tajdid al-Banna adalah sesuatu yang penting. Ini karena Ushul ‘Isyrin bukan hanya sebagai panduan-panduan yang bersifat ilmu, tetapi Ushul ‘Isyrin adalah satu ijtihad dalam menentukan suatu pendekatan untuk mengemukakan Islam sebagai satu dasar hidup yang syumul. Manhaj seperti nii sangat penting bagi masyarakat Islam yang berhadapan dengan serangan pembaratan. Manhaj yang mendamaikan banyak kekeliruan ini sedemikian penting dalam membersihkan keserabutan pemikiran di kalangan masyarakat Islam di masa itu.
Apa yang terdapat dalam Ushul ‘Isyrin mungkin merupakan persoalan badihiyyat (aksiomati) pada hari ini. Tetapi pada saat pertama kali hal ini dikemukakan keadaannya tidak seperti itu. Perkara-perkara yang terkandung dalam Ushul ‘Isyrin menjadi badihiyyat pada saat ini setelah asy-Syahid Hasan al-Banna menegaskan dan menekankannya kepada para anggota ikhwan di dalam jama’ahnya. Kemudia, mereka inilah melalui amal, ceramah-ceramah, kuliah-kuliah dan khususnya penulisan-penulisan, telah mempopulerkan manhaj tersebut kepada ummat Islam ke seluruh dunia pada abad kedua puluh ini.
Dengan demikian nyatalah bahwa Ushul ‘Isyrin sebagai “Manhaj Ishlah” juga dapat dianggap sebagai satu ijtihad karena kedudukannya yang istimewa sebagai asa pertama dalam pembinaan para tentar da’wah yang multazim. Melalui asas al-Fahmu sebagai arkanul asyarah yang pertama, maka gerakan tajdid dalam memahami Islam dilakukan dalam abad ini melalui Ushul ‘Isyrin.
Hasan al-Banna memperbaharui pendekatan terhadap metode bagaimana ummat Islam memahami Islam yang asli. Hal ini membuat “melek” ummat Islam yang berpuluh-puluh tahun berada di bawah dominasi penjajahan barat.
Risalah ini termasuk risalah yang terpenting yang ditulis oleh asy-Syahid. Bahkan Ustadz Abdul halim Mahmud menganggapnya sebagai puncak dan intisari dari semua risalah yang beliau tulis.
Risalah ini berisi strategi jamaah Ikhwan dalam tarbiyah dan pembentukan kader. Juga berisi tentang tujuan-tujuan da’wah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersebut. Asy-Syahid menulis risalah ini untuk anggota Ikhwan yang tulus, para mujahid atau yang disebut dengan kader inti Ikhwan. Dimana gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa instruksi untuk beramal, bukan sekedar pembicaraan.
Teori reformasi yang diusulkan asy-Syahid Hasan al-Banna adalah sebuah sintesa atas berbagai visi dan orientasi sebagai “modus bersama” yang menghimpun berbagai kecenderungannya, menyatukan persepsi fundamental mereka mengenai persoalan-persoalan global dan masalah-masalah besar, meski dalam masalah-masalah furu’ yang kecil mereka tetap memiliki perbedaan, dan agar Ushul ‘Isyrin dapat menjadi poros tempat bertemunya berbagai gerakan ishlah.
“Sesungguhnya terapi bagi keterpurukan, perpecahan kata, kehancuran dan kemunduran peradaban ummat Islam tidak bisa dilakukan dengan terapi tunggal, ia harus dengan terapi komprehensif. Begitu juga manhaj reformasi untuk membebaskan ummat Islam dari keterpurukannya haruslah komprehensif tanpa memprioritaskan manhaj salah satu reformis, tetapi harus mencakup seluruh unsru reformasi. Dengan itulah semua kondisi ummat Islam akan membaik, “begitulah yang ditulis asy-Syahid Hasan al-Banna menjelaskan gagasan reformasinya.

Editorial Risalah Tarbawiyah

Politik adalah bagian dari kehidupan manusia. Sehingga berlaku ketentuan Allah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam.: (QS 6:162)
Spirit beribadah inilah yang telah menuntun gerakan da’wah dan aktifisnya untuk membumikan Islam dalam realitas sosial, hukum, budaya, politik dan birokrasi.
Reformasi Politik di negeri ni memberikan angina segar bagi gerakan da’wah untuk berkiprah lebih luas dan memberikan sumbangsihnya bagi tatanan masyarakat, negara dan bangsa. Masalah tidak harmonisnya hubungan antara Islam, politik dan Negara, beserta akibat-akibatnya yang dirasakan oleh gerakan da’wah dan para aktifisnya selama ini, perlahan-lahan dapat diatasi dengan pelibatan secara langsung dalam urusan utama proses-proses politik dan birokrasi Negara.
Alasan yang mendasari asumsi ini adalah bahwa; pertama, pendekatan ini tidak menempatkan Islam dalam posisi yang berhadap-hadapan dengan Negara, bahkan mengharuskan adanya peninjauan kembali terhadap cita-cita politik Islam sebelumnya.
Harus diyakini bahwa yang harus diperjuangkan adalah berlangsungnya tatanan sosial-politik Negara, sehingga ummat Islam dapat menjalankan ajaran-ajaran agama mereka dengan bebas. Sejalan dengan itu perjuangan Islam dalam perpolitikan Indonesia kontemporer tidak lagi menekankan corak ideologinya yang formal.
Kedua, berkaca pada sejarah, gerakan da’wah tidak pernah memainkan peranan penting dalam lembaga-lembaga Negara dan kantor-kantor birokrasi. Fenomena ini dapat menjelaskan bukan saja posisi pinggiran para aktifis Islam di lembaga-lembaga Negara dan kantor-kantor birokrasi, melainkan juga sikap dan langkah yang relative mengambil jarak dari Negara, padahal secara sosiologis sebenarnya ada keharusan intrinsic dari gerakan da’wah ini untuk memainkan kebijaksanaan di Indonesia.
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka gerakan da’wah dapat memberikan angina segar bagi pembaruan politik dan partisipasi birokratis akan dapat mengatasi hubungan yang tidak harmonis antara Islam dan Negara.

Da’wah, Amal Tarbawi dan Amal Siyasi

Dalam Islam apa yang disebut amal siyasi (aktivitas politik) merupakan bagian integral dari amal Islami. Sedangkan aktivitas politik yang dilakukan seorang muslim hendaknya selalu melekat (inheren) dengan aktivitas keislamannya. Kenyataan ini semakin memperjelas pentingnya amal siyasi bagi setiap Muslim dan setiap pergerakan Islam.
Sehubungan dengan ini, Hasan al-Banna menegaskan, Ikhwan tidak pernah melewatkan satu hari pun dari aktivitas politik. “Kita adalah para politikus, dengan pengertian bahwa kita memperjuangkan urusan bangsa kita.” Pada bagian lain beliau menyatakan: “Seorang Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali apabila menjadi seorang politikus yang memiliki wawasan luas dalam memikirkan urusan bangsanya, menaruh perhatian besar kepada kepentingan mereka dan mempunyai rasa kepekaan terhadap kehormatan mereka.”
Kendati demikian, Hasan al-Banna mengingatkan. Ikhwan harus tetap konsern pada kesatuan dan dinamika ummat. Karena itu ia harus tetap menempatkan posisinya sebagai ruh baru yang mengalir di tubuh ummat.
Lebih jauh Asy-Syahid mengatakan, “Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal ummat.”
Internal politik adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan.”
Sedangkan yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akanmenempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.” Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat ma’ruf dan pencegahan dari kezaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja da’wah.
Menurut Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Adabu al-Dunya wa al-Dien tercapainya cita-cita sosial politikmanusia sangat tergantung sejauh mana ia mampu mewujudkan dua syarat. Syarat yang pertama ialah yang berkaitan dengan sistem yang mengatur urusan publik, yaitu terwujudnya suatu tatanan politik yang baik. Syarat kedua ialah yang berkaitan dengan sesuatu yang dapat mewujudkan keshalihan setiap warga, yakni menyangkut masalah nilai-nilai moral yang dapat membentuk individu-individu shalih.
Perspektif al-Mawardi di atas menunjukan bahwa persoalan politik (amal siyasi) sama pentingnya dengan dengan persoalan pembinaan pribadi (amal tarbawi) dalam upaya manusia mencapai cita-cita politiknya, yaitu kesejahteraan hidup lahir dan batin. Tentang urgensi politik ini terlihat pula pada ungkapan hukama, seperti dikutip al-Mawardi, “adab (rule) itu ada dua macam: adab syari’ah dan adab siyasah. Adab syari’ah adalah segala aturan yang berkaitan dengan penerapan kewajiban.
Sedangkan adab siyasah ialah aturan-aturan yang berkaitan dengan pemakmuran bumi. Keduanya harus bermuara pada keadilan.” Sedangkan menurut al-Mawardi, “keselamatan penguasa (sulthan) dan kemakmuran negeri tergantung sejauh mana berjalannya keadilan ini.
Semoga dengan uraian di atas dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa da’wah dengan politik atau amal siyasi dengan amal tarbawi adalah sesuatu yang kontra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktivitas. Semoga pula dapat “menggoda” kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melalui aktivitas da’wah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?
Pertama, membangun kembali pemahaman keagamaan kita, bahwaagama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agam Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan seterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui proses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan denga dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru. Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh setiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya. Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau denga melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai kader da’wah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.
Kedua, membangun kembali kebersamaan kita, bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh bnatasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzhab; bahwa kita itu pelu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama. Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat da’wah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.
Ketiga, mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita; bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang dapat menutupi kekurangna orang lain; bahwa keunggulan kit adapt menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi kader da’wah melalui keunggulan tersebut.
Keempat, memahami kembali realitas kehidupan kita; bahwa kita hidup pada hari ni, bukan hari kemarin sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh denga dinamika, sehingga kita kader da’wah dituntut memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk saran, metode dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agam ini.
Akhirnya, telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi kader da’wah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al-Qur’am tergambar dalan Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaung dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut.

02 Juli 2009

MERANCANG HARI ESOK

Masa depan adalah suatu kepastian bagi setiap orang. Hari esok adalah masa depan bahkan satu detik yang akan datang adalah masa depan. Masa depan dibangun dari penggalan-penggalan aktivitas. Kumpulan-kumpulan aktivtas dari yang terkecil hingga yang besar menjadi komponen yang sangat penting dalam membentuk masa depan. Masa depan yang baik akan terbangun apabila komponen-komponen pembentuknya juga baik, baik niat dan baik pula prosesnya walaupun harus menempuh kepayahan atau kesusahan. Sebaliknya apabila niat dan prosesnya salah masih ada peluang untuk memperbaikinya. Itulah arifnya kehidupan.
Masa depan. Kata-kata yang senantiasa menjadi pemikiran kita. Orang-orang besar akan memikirkan masa depan yang kecil pula. Tetapi orang-orang kecil dan berfikiran kerdil juga akan berfikiran kecil terhadap masa depannya. Rasulullah saw. pun memberikan tuntunan tentang bagaimana merancang masa depan,
”Apabila engkau berharap surga maka mintalah kepada Allah syrga yang tertinggi yaitu surga Firdaus.”
Begitu tingginya cita-cita. Surga Firdaus adalah surganya para nabi dan rasul. Tetapi dalam kehidupan ini sangat banyak orang yang terlalu kecil menargetkan masa depannya. “Cukup deterima menjadi PNS saja sudah cukup” atau “aku mau bekerja dan dapat uang itu sudah cukup.” Itu dalam konteks kehidupan di dunia.
Merancang masa depan seharusnya tidak boleh terlepas dari konteks ”syukur”. Syukur bukan berarti qanaah. Bedakan antara bersyukur dengan merasa cukup. Allah swt. berfirman:
“dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, apabila engaku bersyukur (terhadap nikmat-Ku) maka akan Kutambah tapi apabila engkau kufur maka azabku sangat pedih. (Q.S. Ibrahim: 7)
Ayat di atas adalah tuntunan bagaiman seharusnya seseorang bersyukur. Tujuan syukur adalah mengharap lebih dari Allah. Itu berarti, menuntut kita untuk lebih dekat kepada Allah dan terus berupaya meningkatkan kinerja. Bukannya stagnan tapi lebih dinamis dan produktif. Setidaknya itulah yang dituliskan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang.
Dalam kaitannya merancang masa depan adalah bahwa rasa syukur akan menjadi faktor pendorong tercapainya targeta-targetan masa depan kita. Mulai dari hal-hal kecil kemudian bersyukur dengan berharap lebih dari Allah yaitu penambahan nikmat. Meningkatkan produktifitas diri dan terus berbuat kebaikan. Kemudian bersyukur kembali. Itulah siklusnya. Pada akhirnya targetan tertinggi masa depan akan menemukan capaiannya.
Namun harus diingat pula, Allah tentu memberikan ujian-ujian sebagai bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Tujuannya adalah untuk menaikan hamba-Nya kepada tingkatan lain dalam strata ketaqwaan. Sebab Allah beriman: sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.”
Jadi, mulailah merancang masa depan Anda sejak dari sekarang. dari sebuah cita-cita besar. Diawali dari langkah kecil dan terus menerus. Insya Allah akan sampai kepada targetan-targetannya.
Wallaahu a’lamu bi shawwab.

Kasus Korupsi di UNSRI, Tamparan Keras Bagi Kami

Satu lagi sebuah tamparan keras bagi Civitas Akademika Universitas Sriwijaya. Lusa (25/6) Kejaksanaan Tinggi Sumatera Selatan telah menetapkan status Dekan Fakultas Pertanian UNSRI, Prof. Dr. Imron Zuhri sebagai tersangka kasus korupsi penyelewengan dana pengadaan kebun percontohan di Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim. Kasus ini memang telah lama mengusik mahasiswa, hanya saja sebelumnya kasus ini seperti ditutup-tutupi oleh rektorat bahkan hingga kini pihak rektorat masih terus berdalih.

Terkuaknya kasus ini menjadi sebuah bukti kebusukan di dalam tubuh kampus terbesar dan ikon pendidikan di Sumatera Selatan ini. Di tengah gencar-gencarnya UNSRI untuk menjadi World Class University dan Badan Hukum Pendidikan ternyata terjadi kasus yang memalukan ini dan tentunya mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia secara umum. Bagaimana nanti ketika sudah menjadi BHP...?? Tentu peluang penyelewengan akan lebih besar lagi sebab pengelolaan kampus secara mandiri memberi cela untuk itu.

UNSRI saat ini terbagi dalam dua kelompok besar. Mahasiswa di satu pihak yang menginginkan penuntasan kasus ini bahkan meminta audit seluruh keuangan di UNSRI baik dekanat maupun rektorat. Pada sisi yang lain pihak rektorat berusaha menutup-nutupi masalah ini dengan alasan menjaga nama baik UNSRI. Setidaknya itulah hasil konfirmasi BEM UNSRI pada pertemuan dengan Rektor UNSRI kemarin (Jumat, 26/6). Tapi memang sewajarnya sudah mahasiswa menuntut demikian karena landasan berfikirnya adalah kebenaran. Sudah terlalu banyak kasus di UNSRI, FK terkait dana pendidikan yang cukup besar tapi ternyata tidak disetor ke negara, FH terkait penyelewengan dana pengadaan mobil dinas, kedua kasus ini tinggal menunggu dinaikannya status. Ada yg masih tahap penyelidikan dan penyidikan.

Dari beberapa kasus di atas tidak menutup kemungkinan sederet nama terkait. Atau juga Fakultas lain yang kebusukannya lebih besar akan terbongkar. Ingat wahai birokrat bermasalah, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga...

Secara tegas BEM UNSRI menyatakan beberapa pernyataannya. Setidaknya ada Tiga Tuntutan Mahasiswa (Trituma) yang telah di sounding ke media massa dan via opini, yaitu:
Pertama, segera non aktifkan Dekan Fakultas Pertanian UNSRI saat ini sebab mahasiswa tidak ingin ada pimpinan UNSRI yang berstatus tersangka masih duduk pada jabatan strategis,
Kedua, usut tuntas seluruh kasus korupsi yang ada di UNSRI dan audit keuangan seluruh dekanat bahkan rektortat UNSRI,
Ketiga, segera lakukan reformasi birokrasi dalam tubuh UNSRI dalam hal komitmen, kejujuran, dan pelayanan.

Bagi mahasiswa UNSRI, apakah kita akan tetap diam setelah nyata kebusukan di depan mata kita...??

Seruan Aksi: Senin, 29 Juni 2009 di Rektorat UNSRI pukul 10.00 WIB. Isu: selesaikan kasus korupsi di UNSRI dengan tiga tuntutan di atas.

Hidup Mahasiswa...!!

29 Mei 2009

Sirriyah dan Amniyah Dalam Dakwah

Oleh: Elly Sumantri


“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf, 12/111).

Allah SWT menyatakan dengan tegas dalam ayat ini: 1) bahwa kisah-kisah para Nabi dan Rasul ‘alaihimus shalatu was salam terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal, 2) bahwa Al-Qur’an bukan berisi kisah-kisah yang dibuat-buat melainkan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, 3) bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu dan menjadi hidayah dan rahmat bagi kaum mu’minin dan mu’minah.
Berkata Imam Abu Ja’far at-Thabari rahimahuLLAH dalam tafsirnya [1]: Allah SWT mengingatkan bahwa dalam kisah Yusuf as dan saudaranya ini terdapat pelajaran bagi orang yang berakal dan agar mereka mengambil pelajaran darinya dan nasihat agar mereka mencamkan nasihat tersebut. Selanjutnya Imam at-Thabari menyebutkan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa kisah-kisah tersebut hanya menjadi pelajaran bagi Yusuf as dan saudara-saudaranya saja (bukan bagi kita), namun beliau (Imam at-Thabari) membantahnya karena dalil dalam ayat bersifat umum kepada semua ulil-albab. [2]
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya [3] bahwa makna (tashdiq alladzii bayna yadayhi) adalah: Al-Qur’an ini membenarkan hal-hal yang shahih (dari ajaran dan kisah nabi terdahulu) dan menghilangkan hal-hal yang menyimpang, perubahan dan penggantian serta menetapkan hukum nasakh (yang dihapus) maupun hukum taqrir (hukum yang ditetapkan). Lebih jauh beliau rahimahuLLAH menjelaskan [4] bahwa makna (tafshiila kulla syai’in) bermakna menjelaskan semua yang halal dan haram, semua yang mahbub dan makruh dan hal-hal yang selainnya. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya [5] wallahu ‘almu bish shawab.
Setelah itu semua maka ketahuilah wahai al-mu’minun wal mu’minaat bahwa Allah SWT Yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui telah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa metode dakwah baik secara sirriyyah maupun ‘alaniyyah keduanya merupakan metode dakwah yang shahih dan diakui di dalam Al-Qur’an, dan tidaklah yang mencelanya kecuali orang yang jahil dan ghullat (ekstrem) dari kelompok khawarij-jadiidah (khawarij gaya baru) yang dengan mudah mencela dan memvonis kelompok lain tanpa dilandasi tabayyun (check) dan ta’akkud (re-check) karena hiqd dan hasad yang telah bersarang dalam hati mereka, naudzubillahi min dzalikas shifah.
Setelah kita memahami tafsir ayat di atas, maka marilah kita bahas pula kandungan dan tafsir ayat di bawah ini:
“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (QS Nuh, 71/8-9)
Bahwa ayat di atas digambarkan bagaimana berbagai metode dakwah telah ditempuh oleh Nabi Nuh as dalam mendakwahi kaum dan ummatnya. Nuh as adalah 1 diantara ‘ulul-’azmi minar rusul (Rasul-rasul yang memiliki ‘azzam yang kuat yang merupakan Rasul-rasul yang paling tinggi derajatnya disisi Allah SWT [6]), dimana beliau ‘alaihish shalatu was salam telah melakukan berbagai metode dalam dakwahnya baik sirriyyah maupun ‘alaniyyah.
Berkata Imam at-Thabari [7] bahwa makna Asrartu Lahum Israra adalah: Hanya antara Nuh as dengan kaumnya secara rahasia. Berkata Imam Al-Qurthubi [8] bahwa maknanya adalah Nuh as mendatangi mereka satu persatu ke rumah-rumah mereka. Sementara Imam An-Nasafi [9] menyebutkan bagaimana Nuh as mengoptimalkan semua potensi dan semua cara dalam berdakwah, pertama beliau as mendakwahi kaumnya secara rahasia siang dan malam, lalu beliau as mendakwahi mereka secara terang-terangan, kemudian beliau as menggabungkan cara rahasia dengan cara terang-terangan, demikianlah cara ber-amar ma’ruf nahyul munkar, hendaklah dimulai dengan rahasia dan lembut lalu jika tidak berhasil maka barulah menggunakan cara terang-terangan dan tegas.
Imam al-Maqrizi dalam kitabnya [10] menyitir pendapat ‘Urwah bin Zubair, Ibnu Syihab dan Ibnu Ishaq tentang waktu antara awal kenabian (turunnya QS Al-’Alaq di gua Hira’) sampai turunnya ayat Fashda’ Bimaa Tu’maru Wa A’ridh ‘Anil Musyrikiin [11] sampai pada Wa Andzir ‘Asyiiratakal Aqrabiin [12] dan ayat Qul Innii Anan Nadziirul Mubiin [13] adalah 3 tahun, Al-Baladziri [14] menyebutkan 4 tahun. Ada pula beberapa pendapat yang menganggap masa terputusnya wahyu tersebut sekitar 40 hari, 15 hari atau bahkan 3 hari [15].
Dalam sirah [16] disebutkan saat Abubakar ra memulai dakwah maka ia mulai mengajak kepada ALLAH dan Islam, yaitu orang yang diyakinkannya bisa merahasiakan dan mendengarkan dakwah, melalui dakwahnya maka masuk Islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Dalam riwayat masuk Islamnya Ammar ra diantaranya disebutkan [17]: … aku melihat Rasulullah SAW sedang bersembunyi karena dimusuhi kaumnya… Bukti lain atas masalah ini ialah perkataan Imam Ibnu Hajar dalam syarahnya atas Shahih Bukhari [18], beliau menyebutkan bahwa timbulnya perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih dulu masuk Islam disebabkan masing-masing sahabat tidak tahu siapa saja yang sudah Islam. Bukti lain dakwah Nabi SAW secara rahasia pada periode awal tersebut adalah kisah masuk islamnya segolongan Jin yang diriwayatkan dalam hadits shahih [19] yaitu saat Nabi SAW mengumpulkan para sahabatnya di luar Makkah.
Dalam sunnah Nabi Muhammad SAW terlihat bahwa fase dakwah sirriyyah berakhir setelah Nabi SAW mendapatkan jaminan keamanan dari Allah SWT [20]. Demikianlah yang harus diikuti, yaitu pertimbangan sirriyyah dan ‘alaniyyah dalam berdakwah adalah keamanan dan perkiraan sampai serta diterimanya dakwah itu sendiri, setelah dakwah aman dilakukan secara jahriyyah, maka wajib bagi para da’i menyampaikannya secara jahriyyah, dan itulah yang dilakukan oleh para da’i Al-Ikhwan sesuai dengan as-sunnah yang shahih sampai saat ini, waliLLAHil hamdu wal minah.
Jika dikatakan bahwa peristiwa sirriyyah itu telah dihapuskan (di-nasakh) dengan ayat Wa Andzir ‘Asyiiratakal Aqrabiin [21] dan ayat Yaa Ayyuhar Rasul Balligh Maa Unzila Ilayka Min Rabbika [22], maka saya katakan bahwa ayat ini sama sekali tidak menasakh dakwah sirriyyah, selain karena dakwah sirriyyah merupakan cara dakwah yang diakui dalam Al-Qur’an dan tidak pernah dihapuskan hukumnya, selain itu nabi SAW-pun pernah melakukan dakwah sirriyyah ini sekalipun setelah ayat-ayat di atas diturunkan. Seperti saat peristiwa bai’ah Aqabah pertama [23], pada saat janji setia yang bukan janji untuk berperang ini beliau SAW melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Demikian pula saat peristiwa ‘Aqabah yang kedua [24], yang disebut sebagai janji setia untuk peperangan [25] juga dilakukan di malam hari dan secara sembunyi-sembunyi [26], bahkan sesama suku Aus dan Khazraj yang musyrik sama sekali tidak saling tahu [27]. Saat peristiwa hijrah sebagian besar sahabat ber-hijrah secara sembunyi-sembunyi [28], bahkan beliau SAW-pun melakukannya dengan sembunyi-sembunyi [29] walaupun sebagian sahabat ra ada pula yang melakukannya secara terang-terang-an [30]. Demikianlah baik sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan adalah bagian dari metode dakwah, keduanya dapat dilakukan sesuai dengan maslahat dakwah.
Dalam beberapa riwayat tersebut di atas nampak jelas tentang bahwa tahapan antara sirriyyah dan ‘alaniyyah dalam dakwah tersebut bukan merupakan bid’ah yang dibuat-buat tapi merupakan sunnah yang shahih, ia merupakan sunnah para anbiya’ wal mursalin shalawatuLLAHi was salamu ‘alayhi ajma’in. Tidak boleh diingkari oleh seorang muslim yang mu’min kepada kitabuLLAH dan mengikuti atsar salafus shalih ridhwanallahu ‘alayhi ajma’in, kalaupun terjadi perbedaan maka perbedaan tersebut semata-semata dalam memahami kapan kedua metode tersebut dilakukan dan bagaimana ia dilakukan, dan hal ini merupakan lapangan ijtihad yang tidak dihalalkan bagi mereka yang berbeda pendapat untuk memaksakan pendapatnya, apalagi sampai memvonis bid’ah bagi yang berbeda.


Amniyah ad Da’wah
Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar di bawah komando Rosululloh tak lepas dari peran-peran intelejen dan keteguhan menjaga rahasia yang dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabat. Betapa berharganya data dan informasi saat itu sampai Rosululloh beberapa kali mengutus sahabat untuk melakukan pengintaian, penyusupan dan penggalian informasi, begitu juga Abu Sufyan yang memimpin pasukan Quraisy melakukan hal yang sama untuk mengukur kekuatan kaum muslimin. Data dan informasi tersebut kemudian diolah untuk menentukan strategi apa yang harus dijalankan agar kemenangan dapat diraih. Berkat kecerdikan Rosululloh dalam mengolah data, mengkoordinasikan pasukan dan komando yang jelas maka perang Badar pun dimenangkan kaum muslimin.
Dakwah kita hari ini harus bercermin pada apa yang pernah dicontohkan Rosulullah. Dalam buku Manhaj Haraky dikenal istilah Sirriyatu Tandzim wa Jahriyatu Dakwah. Yaitu strategi penataan yang dirahasiakan tetapi produk seruan dakwah yang terbuka dan terang-terangan. Ketika Rosulullah SAW hijrah ke Madinah maka kerahasiaan penataan Dakwah tetap dijaga. Terutama dari golongan munafik dan Yahudi.
Seorang kader hendaknya menguasai keterampilan intelejen yang meliputi: teknik pengintaian, pengumpulan informasi, menjaga rahasia (amniyyah), menerapkan strategi aksi sampai akhirnya memenangkan pertarurangan. Amniyyah adalah memberikan jaminan keselamatan terhadap gerakan Islam dari segala hal yang membahayakan, baik yang timbul dari individu, kelompok atau dari pemerintahan yang dzolim. Adanya kerahasiaan dalam sebuah pergerakan dakwah adalah hal yang mutlak. Tidak semua hal dapat dipubikasikan ke masyarakat. Selain karena kondisi pemahaman masyarakat yang masih terbatas, faktor musuh-musuh dakwah juga harus mendapat perhatian. Aktivitas penyerapan informasi dan rencana aksi yang dijalankan menuntut nilai amniyyah yang sangat besar. Sekali terbongkar, maka gagallah semua rencana dan target. Namun jika ia terjaga maka strategi menghadapi makar musuh dapat dilakukan. Dengan demikian keselamatan gerakan dan pelaku dakwah tetap terjamin.
Secara umum Amniyyah dapat dibagi dalam dua hal. Pertama, amniyyah yang menyangkut struktur dakwah.. Seorang kader, apalagi pengurus, harus mampu mengamankan data-data penting, strategi aksi, dan kondisi internal struktur agar tidak bocor kepada pihak lain. Kalau sampai bocor, akan sangat mudah bagi musuh membaca peta kekuatan kita dan mengalahkan kita.
Kedua, amniyyah yang menyangkut pribadi kader dakwah. Seorang akhwat pernah mengeluh, ketika apa yang selama ini menjadi persoalan pribadinya tiba-tiba sudah menjadi isu publik. Seorang kader pelaku dakwah tentu memiliki berbagai persoalan pribadi, baik yang berhubungan dengan keluarga, keuangan, pekerjaan dan lainnya. Jika hal itu menjadi rahasia pribadinya, maka tentu tidak etis jika hal itu disebarluaskan. Ketika rahasia pribadi sudah terbuka, maka akan melemahkan izzah (harga diri) dan kepercayaan diri yang bersangkutan. Secara langsung akan berdampak pada kinerja dakwahnya, bahkan sangat mungkin akan menyebabkan futhur (turunnya semangat berdakwah) dan insilakh (keluarnya seorang kader dari barisan dakwah). Naudzu billahi min dzalik.

27 Januari 2009

We Will not Go Down (Song for Gaza)



(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

terjemahan:

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Trend Gerakan Mahasiswa Masa Lalu, Masa Kini dan Prediksi yang Akan Datang


Mahasiswa adalah elemen yang tak akan pernah terpisahkan dari perjalan peradaban sebuah bangsa. Sejarah di dunia ini, baik di Barat maupun di Timur, telah menjadi bukti idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya yang melekat pada sosok mahasiswa telah banyak banyak mewarnai peradaban negeri di berbagai belahan dunia.
Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 3,5 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll. adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.
Gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Dalam perjalanannya dari masa ke masa, bangsa ini telah mengenal beberapa dekade perjuangan mahasiswa.
Lalu bagaimakan trend gerakan mahasiswa tersebut…??
Secara garis besar terdapat lima periode yang penting yang dapat dijadikan patokan seperti apakah trend gerakan mahasiswa.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1966
Dikenal dengan istilah angkatan ’66, merupakan aksi pergerakan mahasiswa maengangkat isu bahaya laten komunis sebagai bahaya laten negara yang harus segera dimusnahkan dari bumi Indonesia. Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, dan Yusuf Wanandi adalah diantara aktivis mahasiswa yang bergerak lantang menentang komunisme. Dimana pada saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI), sebagai pengusung paham komunisme, telah cukup hebat merasuki sektor-sektor pemerintahan.
Dukungan masyarakat terhadap pergerakan mahasiswa yang terbangun dibeberapa wilayah nusantara memaksa Presiden Sukarno untuk berpihak pada rakyat. Slogan NASAKOM yang dipaksakan Sukarno akhirnya runtuh dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR). Peristiwa ini menandai berakhirnya kepemimpinan Orde Lama (ORLA) dan memasuki era Orde Baru (ORBA) dibawah kepemimpinan Suharto.
Mahasiswa, rakyat dan militer saling bergandengan tangan dalam gerakan ini. Satu isu yang diusung cukup membuat pemerintahan Soekarno goyang. ”Bubarkan PKI,” merupakan isu sentral yang akhirnya menelurkan isu-isu yang lain sehingga lahirlah ”Tritura.” Dapatlah dikatakan bahwa trend gerakan pada masa itu merupakan gerakan yang bercirikan pada kepedulian sosial dan juga merupakan gerakan refresif mahasiswa karena melihat kondisi masyarakat yang begitu memprihatinkan dan juga gerakan ini didukung oleh kekuatan militer dibelakangnya.
Akan tetapi, saat itu beberapa aktivis ‘66 memilih menanggalkan baju idealismenya untuk mengecap kenikmatan menjadi anggota parlemen, berduyun-duyun masuk Golkar, sebuah entitas yang kemudian dikecam. Orang yang paling keras memprotes perilaku memalukan ini adalah Soe Hok Gie, aktivis ‘66 sekaligus intelektual merdeka yang mati muda. Gie marah dan kecewa menyaksikan teman-temannya sesama demonstran melebur dalam kekuasaan; tidak sabar menjadi penunggu gerbang idealisme yang selama ini digemborkan lewat aksi-aksi demonstrasinya. Gie menuduh mereka pengkhianat karena telah melacurkan diri untuk meneguhkan legitimasi rezim Orba.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1970-an
Dalam perkembangannya, pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Suharto banyak mendapatkan penentangan dari gerakan mahasiswa. Gerakan anti korupsi muncul di tahun 1970 yang ditindaklanjuti dengan pembentukan Komite Anti Korupsi, yang diketuai oleh Wilopo. Tahun 1972 merebak Aksi Golput menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru, karena Golkar dinilai telah berlaku curang. Gerakan melawan kebijakan penggusuran pemukiman rakyat kecil akibat pembangunan Taman Mini Indonesia Indah muncul di tahun 1972.
Peristiwa Malari pada 15 Januari 1974, adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa menolak produk Jepang dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Dilatarbelakangi oleh Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya saat kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka yang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974), demonstrasi disertai dengan kerusuhan. Aktivis mahasiswa yang mencuat namanya pada masa ini diantaranya Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.
Gerakan mahasiswa Indonesia 1978. Gerakan yang mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional pada 1977-1978 yang mengakibatkan untuk pertama kalinya kampus-kampus perguruan tinggi Indonesia diserbu dan diduduki oleh militer. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.
Salah satu ciri dari pemerintahan Orde Baru adalah kuatnya pengaruh militer yang mendukung pemerintahan. Maka dari itu, gerakan mahasiswa mau tidak mau harus berhadapan dengan tindakan refresif militer dalam hal ini ABRI. Berbagai aksi mahasiswa pastilah mendapatkan tekanan yang begitu besar.
Trend gerakan pada masa itu adalah sebuah gerakan bercirikan poloitik. Hal ini dapat dilihat dari penentangan terhadap kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Selain itu, kritik mahasiswa terhadap strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.
Secara sekilas strategi pembanguanan Orde Baru menguntungkan rakyat. Akan tetapi korban dan kerugian yang didertia oleh rakyat justeru lebih besar dari keuntungan dan manfaatnya. Misal, pembangunan sebuah sarana baik milik pemerintah, umum, ataupun perorangan dari anggota keluarga pejabat tanahnya berasal dari tanah rakyat yang dibebaskan secara paksa. Pembebasan tanah secara paksa ini tidak juga mendapatkan ganti rugi.
Rakyat tidak mampu berbuat apa-apa sebab eksekusi dilaksanakan oleh militer. Militer ketika itu seperti momok yang menakutkan bagi masyarakat. Dikenal istilah ”ABRI Masuk Desa.”

Gerakan Mahasiswa Tahun 1980-an
Pasca diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.
Gerakan pada era ini lebih terfokus pada perguruan tinggi dengan ciri ilmiahnya yang kental akibat pemberlakuan NKK/BKK. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1990 an
Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus /Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis.
Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane-nya perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang kritis dan bersuara lantang terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Dan banyak intel berkedok mahasiswa. Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.
Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK.
Gerakan mahasiswa dekade 90-an mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa.
Gerakan mahasiswa dengan agenda REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat. Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat untuk mengubah kondisi yang ada, dimana rakyat sudah jenuh dengan pemerintahan yang bercokol selama 32 tahun, alih-alih mensejahterakan rakyatnya, Suharto justru semakin memperkaya keluarga dan kroni-kroninya, yang dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).

Gerakan Mahasiswa Tahun 1998
Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai tumbangnya Orde Baru dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, pada tanggal 21 Mei 1998. Berbagai kesatuan aksi diberbagai daerah muncul untuk menentang rezim Suharto. Di Aceh terbentuk SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat). Di Medan muncul DEMUD dan Agresu (Aliansi Gerakan Reformasi Sumatera Utara).
Di Bandung lahir FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bandung), FIM B (Front Indonesia Muda Bandung), FAMU (Front Aksi Mahasiswa Unisba), GMIP (Gerakan Mahasiswa Indonesia Untuk Perubahan), KPMB (Komite Pergerakan Mahasiswa Bandung), FAF (Front Anti Fasis), KM ITB (Keluarga Mahasiswa ITB), dan KM Unpar (Komite Mahasiswa Unpar).
Di Jakarta lahir KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta), Forkot (Forum Komunitas Mahasiswa se-Jabotabek), Famred (Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi), Front Nasional, Front Jakarta, KamTri (Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti), HMI MPO, KB UI (Keluarga Besar Mahasiswa UI), FAM UI, Komrad (Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi), Gempur (Gerakan Mahasiswa untuk Perubahan), Forbes, Jarkot, LS-ADI (Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia), dan HMR (Himpunan Mahasiswa Revolusioner).
KBM-IPB (Keluarga Besar Mahasiswa - Institut Pertanian Bogor) muncul di Bogor. Di Yogyakarta ada SMKR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Kedaulatan Rakyat), KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan), FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta), PPPY (Persatuan Perjuangan Pemuda Yogyakarta), FAMPERA (Front Aksi Mahasiswa Peduli Rakyat), dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta).
Di Solo, Bali, Malang, dan Surabaya juga lahir puluhan kesatuan aksi yang konsisten menentang kebijakan dan keberadaan rezim Suharto. Gerakan yang menuntut reformasi dan dihapuskannya “KKN” (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998 ini, harus berhadapan dengan berbagai tindakan represif yang menewaskan 4 aktivis mahasiswa Trisakti. Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung adalah bukti lainnya upaya represif Suharto untuk meredam gerakan ini.
Setelah bergulirnya reformasi pada tahun 1998, pergerakan mahasiswa dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi. Mahasiswa pada saat ini memiliki garis perjuangan dan agenda yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.

Gerakan Mahasiswa saat ini
Mahasiswa Pengawal Reformasi
Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh seperti saat mereka membidani kelahirannya bulan Mei 1998. Meski demikian, sungguh bahwa mahasiswa masih memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, atau setidaknya di daerahnya masing-masing.
Mahasiswa tetap dikenal masyarakat sebagai agent of change. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat terus-menerus sesuai dengan gelar yang melekat pada dirinya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dan mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan terbaik untuk bangsanya.
Di alam demokrasi, suara lantang mahasiswa merupakan representasi dari realitas sosial di masyarakat yang sering kali dikesampingkan oleh para penguasa negeri ini. Masalah pendidikan, pengangguran, beban ekonomi, kesenjangan sosial, moralitas, dan korupsi merupakan beberapa hal yang sering kali menjadi energi bagi mahasiswa untuk terus bergerak membela dan menyuarakan jeritan rakyat.
Gerakan Mahasiswa saat ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari gerakan mahasiswa ’98. Ciri-ciri gerakan ’98 pun masih tetap melekat pada gerakan mahasiswa saat ini. Walaupun dilihat dari pola dan strategi yang digunakan agak berbeda karena kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi 1998.
Pada tahun 1998, mahasiswa dihadapkan pada situasi yang memaksanya untuk bergerak cepat dan sedikit memaksa. Berbeda dengan situasi saat ini yang cukup dirasakan aman dan nyaman. Akan tetapi, ternyata situasi yang aman dan nyaman inilah yang menjadikan gerakan mahasiswa kembali mengalami kemunduran dalam hal militansi. Kalau pada era 1998 hingga 2002, mahasiswa yang turun ke jalan hingga puluhan ribu orang, maka saat ini jumlah itu tidak akan ditemukan lagi.
Gerakan mahasiswa saat ini kembali bercirikan pada gerakan ilmiah. Suburnya kembali kelompok-kelompok diskusi dengan berbagai tema kembali menghiasi setiap kampus yang ada di Indonesia denag tetap sekali- sekali turun ke jalan untuk mengireksi berbagai kebijakan pemerintah.
Isu sentral bersamapun sangat jarang digaungkan. Ciri gerakan kedaerahan yang saat ini mulai dikedepankan. Semoga semua ini adalah sebagai awal dari pembentukan karakter dan trend lain dari pergerakan mahasiswa secara nasional.
Kalau boleh menyoroti, kebijakan pemerintah berkaitan dengan BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang saat ini sedang menjadi pembahasan DPRRI patut dan harus disikapi. Masalah ini dapat menjadi isu sentral gerakan mahasiswa secara menyeluruh di Indonesia. Kalau memang diperlukan usaha-usaha seperti yang pernah dilakukan pada tahun 1998 atau sebelumnya maka itu mesti dilakukan. Maka dapat dipastikan akan ada perpaduan ternd gerakan antara ilmiah dan politik yang langsung mengkritisi kebijakan pemerintah.
Ke depan, melihat kondisi yang terjadi sebelum dan pada saat ini, maka saya memprediksikan bahwa peristiwa-peristiwa sejarah akan kembali terulang. Kalau pada tahun 1966 rakyat bersama militer menumbangkan rezim Orde Lama, maka hal itu kemungkina akan terjadi kembali. Begitu pula dengan trend gerakan tahun 70,80,90-an dan bahkan 1998 kemungkina akan terulang di masa yang akan datang datang.
Akan tetapi, sesuai dengan yang telah saya sebutkan di atas bahwa saat ini ternd gerakan mahasiswa 1998 masih tetap terasa ditambah dengan budaya ilmiah yang kembali terasa seperti pasca 1978. bisa jadi gerakan mahasiswa ke depan (akan datang) memadukan dua hal tersebut.
Yang jelas mahasiswa akan terus bergerak sepanjang zaman dengan trend yang juga sesuai dengan kondisi zaman itu. Harapan kita semua adalah ”adanya perubahan di negri Indonesia ini sehingga tercipta kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera.
Hidup Mahasiswa Indonesia……..!!!!!

*) Penulis adalah Ketua Umum HMPPKn FKIP UNSRI yang saat ini sedang belajar di Leadership School of KM UNSRI..

MENJAWAB PERMASALAHAN GERAKAN MAHASISWA PASCA '98


Pasca tumbangnya rezim orde bru tahun 1998 membawa kita pada alam demokrasi yang memungkinkan kita “Gerakan Mahasiswa” dapat bergerak bebas. Kebebbasan inilah yang saat ini menjadi senjata ampuh setiap gerakan. Alam demokrasi membawa kita pada suatu babak baru perjuangan.
Namun ternyata, keber4hasilan mahasiswa pada 1998 tidak juga memberikan efek yang positif. Ada permasalahan yang miuncul pada gerakan mahasiswa. Permaslahan yang sebenarnya tidak perlu ada, sebab masalah ini tumbuh bukan karena disebabkan oleh hal-hal dari luar tapi lebih kepada kurang kesiapan mahasiswa untuk melanjutkan “aksi-aksi”nya.
Mahasiswa dapat dikatakan sebagai penghubung antara orang-orang yang berada pada pada posisi atas (elit) dengan rakyat (kelompok alit). Kalau seandainya digambarkan maka posis mahasiswa berada di tengah-tengah.

elit
mahasiswa
alit

Posisi inilah yang membuat mahasiswa menduduki tempat yang strategis. Ia mampu merangkul orang-orang di bawahnya serta mampu mengingatkan orang-orang yang ada di atasnya. Jadinya mahasiswa mempunyai posisi tawar di tingkatan elit serta kehormatan di kalangan alit.
Itulah sebenarnya bentuk ideal dari sebuah gerakan mahasiswa. Tetapi, masalah yang sebenarnya muncul justru berkaitan dengan hal tersebut. Pertama, gerakan mahasiswa saat ini akan gagap apabila dihadapkan pada kelompok elit,terutama apabila telah benar-benar masuk ke ranah tersebut. Kegagapan ini sendiri dapat berdampak pada terkikisnya nilai-nilai idealisme yang selama ini teriakan oleh mahasiswa.
Contoh nyata yang dapat kita lihat adlah beberapa aktivis mahasiswa angkatan ‘66 seperti Akbar Tanjung, salah satunya. Ia rela mengorbankan idelisme demi mengejar kenikmatan menjadi anggota DPR melalui sebuah institusi (partai polotik) yang bernama GOLKAR. Sampai-sampai rekan sesama aktivis seangkatan dengan yang bernama Soe Hok Gie menyebutnya sebagai pengkhianat.
Memang benar, kekuasaan, jabatan dan lainnya yang sejenis merupakan bentuk ujian kepada para pengemban amanat perjuangan. Apabila ia tidak secara teguh dan ikhlas memegang idelismenya maka ia akan tersingkir dari barisan. Selanjutnya akan menjadi musuh bersama gerakan mahasiswa hanya karena kenikmatan sesaat.
Masalah inipun tetap kita hadapi saat ini, dimana beberapa aktivis mahasiswa telah didudukan di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan ternyata kondisinya setelah itu juga tak jauh berbeda dengan kondisi para seniornya terdahulu. Dapat dilihat dari beberapa kasus yang terjadi seperti pengadaan mobnas (mobil dinas), mantan aktivis mahasiswa tersebut seperti latah menjawab tantangan tersebut dan terseret arus yang begitu besar yang menggiringnya.
Kedua, lain lagi halnya dengan kondisi pada posisi elit di atas. Pemasalahan yang muncul adalah pada masyarakat. Kelompok alit saat ini tidak begitu merespons lagi gerakan mahasiswa. Berbeda dengan tahun 1998 yang masyarakat juga turut turun ke jalan untuk memperjuangkan perubahan pada negeri ini. Walaupun tidak menapikan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari sikap pragmatis masyarakat. Masyarakat mersa dirugikan maka ia turut serta berjuang dan mersa nyaman maka ia diam, tapi itulah fitrahnya masyarakat.
Tetapi, yang saya maksud di sini adalah betapa kita tidak mampu merangkul masyarakat. Seharusnya masyarakat tahu dengan kondisi bangsa saat ini yang tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia pada 1997 dan sesudahnya. Entah apakah cara penyampaian kita yang setengah-setengah atau karena terlalu tingginya cara penyampaian kita sehingga masyarakat tidak mampu mencernanya.
Pernah suatu kali seorang teman di atas bus yang penuh sesak. Kebetulan pada waktu itu sedang ada aksi demonstrasi oleh sekelompok mahasiswa yang ada di Palembang. Tanggapan dari orang-orang yang ada di dalam bus tersebut sebagian besar sinis. Ada yang mengatakan mengganggu ketertiban, membuat macet, tidak ada gunanya. Hal ini kan patut dipertanyakan….!!! Padahal, kota Palembang (tempat saya) walaupun tidak ada aksi demonstrasi mahasiswa atau kegiatan lain ya tetap saja macetnya luar biasa.
Kalau menurut pandangan saya, tanggapan masyarakat yang sedemikian rupa disebabkan karena pelayanan nyata kita ke masyarakat kurang dan ini mesti kita akui. Kita hanya bisa menuntut, pendidikan gratis misalnya, tetapi kita tidak berkontribusi kepada masyarakat untuk membantu mereka misal dengan ke desa-desa seminggu sekali atau membina anak-anak jalanan dengan berbagai keterampilan. Kalau demikian, akan terasa harmonisnya hubungan antara mahasiswa dengan masyarakat. Mahasiswa merasa memiliki terhadap masyarakat karena mereka juga bagian darinya dan sebaliknya masyarakat akan sayang terhadap mahasiswa karena kepeduliannya.
Ketiga, permaslahan justru terjadi di tubuh gerakan mahsiswa itu sendiri. Ketidak solidan internal gerakan atau antar gerakan menjadikan gerakan mereka berjalan sendiri-sendiri. Padahal, kemenangah terhadap suatu tujuan itu karena adanya kekuatan. Kekuatan akan lahir apabila ada persatuan yang kokoh dan persatuan akan terwujud apabila kesolidan terbangun.
Saat ini, kita seringkali terjebak pada permasalahan yang sebenarnya sepele tetapi membuat tenaga kita terkuras habis hanya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kita terus berkutat pada maslah-masalah internal yang sebenarnya masalah-masalah seperti itu akan terus ada dan lahir lebih banyak lagi. Maka, dibutuhkan kecerdasan untuk menyikapinya. Masalah internal biasanya lahir dari individu yang mersa kecewa atau terabaikan, bukan permasalahan kolektif. Maka setiap individu perlu menyadari bahwa tindakannya telah menghambat orang lain untuk bergerak. Dibutuhkan orang-orang yang berjiwa besar yang mampu menerima secara lapang dada setiap keputusan yanmg diambil.
Atau bisa jadi masalah timbul karena kurang pemberdayaan SDM sehingga ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Yang terakhir ini lebih kepada bagaimana suatu gerakan yang terwadahi pada organisasi membuat pemetaan yang lebih baik lagi, peencanaan yang matang, serta strategi ayng jitu.
Pada akhirnya, bergeraknya mahasiswa adalah sebuah keniscayaan karena mahasiswa adlah kelompok yang paling peka terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa akan terus bergerak dari waktu ke waktu. Satu hal yang perlu kita perhatikan, kita tidak ingin terkenal dan tidak mau dikenal. Tetapi kita akan terus dikenang hingga sepanjamg zaman. Berkontribusilah walaupun orang tidak melihat kontribusi kita.

Hidup Mahasiswa……………!!!!

BELAJAR MERANGKAK DARI SEJARAH


Hari itu, 1 November 1922* Turki resmi menjadi negara republic dengan tokoh yang memproklamirkannya Mustafa Kemal Attaturk. Peristiwa ini menandai berakhirnya masa kekuasaan Khilafah Turki Utsmani (Ottoman). Sejak saat itu dunia Islam (negara-negara Islam) seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Gerakan konspirasi untuk mengharcurkan khilafah dengan jargonnya “the sick man” ternyata ampuh dan Sultan Abdul Hamid ternyata benar-benar tidak mampu mempertahankan kedudukannya sebagai khalifah.banyak wilayah yang akhirnya melepaskan diri dari Turki dan mendirikan negara sendiri. Padahal dulu, mereka bernaung di bawah payung khilafah termasuk kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti Kesultanan Samudra Pasai atau Aceh.
Akan tetapi yang berlalu biarlah berlalu. Sejarah peradaban manusia akan berulang. Kata-kata ini bukan hanya sekedar kata-kata penghibur hati pelipur lara. Tetapi inilah optimisme. Sejarah membuktikan, Rasulullah saw. pada mulanya berdakwah sendirian dengan cara sembunyi-sembunyi. Awalnya satu dua orang yang mengikutinya untuk beriman kepada Allah SWT., lama kelamaan bertambah banyak. Akibat berbagai tekanan yang dirasa sudah mencapai puncak, akhirnya dengan perintah Allah Rasulullah berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Saat itulah babak baru sejarah peradaban manusia dimulai.
Melalui tarbiyah selama kurang lebih sepuluh tahun di Makkah, sahabat Muhajirin telah teruji keimanannya, dari aspek ruhiyah, fikriyah maupun jasadiyahnya sudah tidak diragukan lagi. Begitupun sahabat Anshor melalui tangan Mush’ab bin Umair mereka mnerima cahaya Islam dengan baik. Hal ini terbukti dari jalinan persaudaraan antara Muhajirn dan Anshor. Ikatan yang ada bukan hanya sekedar tegur sapa tapi melebihi persaudaraan sedarah.
Sederet peristiwa menarik, heroik dan banyak lagi terjadi hingga masa kekhalifahan Bani Abbasiyah wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi tiga benua besar, Asia. Afrika dan Eropa. Itulah negara terbesar sepanjang sejarah di dunia, tidak sekedar kekuasaan belaka tetapi keadilan benar-benar tegak di atas muka bumi. Sampai-sampai petugas yang mengurus zakat dan shodaqoh pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkeliling benua Afrika untuk mencari orang yang berhak mendapatkan zakat dan shodaqoh tersebut namun ia tak mendapatkannya karena idak ada yang merasa berhak menerima.
Berkaca dari itu semua, kita saat ini sepertinya perlu banyak belajar dari perjuangan-perjuangan tersebut. Angin segar Islam tampaknya sudah mulai bertiup dengan sepoinya namun belum terkoordinasi dengan baik. Itulah masalahnya saat ini, tidak ada satu kesatuan untuk menuju ke sana. Masing-masing harokah masih mengedepankan egoisme kelompok. Entah ini sebagai watak asli atau warisan budaya kolonialisme yang cukup lama bercokol di negeri-negeri muslim.
Para pemikir dan dunia Barat-pun mengakui bahwa setelah Uni Sovyet runtuh, kekuatan dunia mengerucut menjadi dua ”Barat VS Islam”. Wajar kalau banyak cara dilakukan oleh Barat untuk menyerang Islam. Mulai dari proyek Imperialisme, kolonialisme, sekulerisme, serangkaian invansi dalam segala bentuk ke negara-negara muslim yang dianggap mengancam kepentingan mereka dan seabrek produk-produk lainnya.
Mereka sadar betul, bahwa Islam tidak hanya agama yang sekedar menegdepankan ritualitas semata seperti agama (ajaran) lain yang mereka kenal. Islam itu integral, universal dan komprehensif. Maka, mereka mulai kalang kabut bagaimana memadamkan cahaya Allah tersebut.
Sejarah membuktikan keterpurukan Islam tidak berlarut-larut seperti saat ini. Contoh, ketika khilafah Abbasiyah jatuh oleh pasukan Tartar sesegera mungkin orang-orang muslim mendirikan khilafah yang baru yang berpusat di Turki itulah Khilafah Turki Utsmani. Gerak cepat ini disebabkan masih berpegang teguhnya masyarakat muslim pada ajaran sunnah Rasulullah. Berbeda dengan saat ini, setelah sekian abad lamanya bangsa-bangsa muslim terjajah maka selama itu pula mereka konsumsi doktrin-doktrin penjajah yang meyebabkan mereka begitu pragmatis dan pengaruh masih tersa hingga saat ini.
Walaupun lambat laun, tapi geliat itu kini mulai terasa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa angin segar Islam telah berhembus dengan sepoinya menyelusup ke setiap sanubari muslim. Ternyata proyek sekulerisme yang dijalankan Barattidak sepenuhnya termakan oleh masyarakat muslim. Buktinya pada tahun 1928, Ikhwanul Muslimin berdiri di Mesir dan hingga kini menjadi Gerakan Islam terbesar di dunia yang beranggotakan lebih dari tujuh puluh negara di dunia. Kekuatan ideologi yang dibangun membuatnya tetap eksis bahkan semakin meluas, diterima dengan baik oleh masyarakat. Kalau bukan ciri sebuah kebangkitan, lalu disebut apa lagi…..???
Gerakan dakwah kita berdiri di atas manhaj dakwah Rasulullah. Berangkat dari perjalanan dakwah Rasulullah saw. dari bi’tsahnya hingga berdirinya berdiri dan eksisnya negara Madinah makasudah sepatutnya kita mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Negara Madinah adalah model negara yang paling idelal di muka bumi dengan tingkat keadilan yang merata dan taraf hidup rakyat sejahtera. Bahkan kalau boleh dikatakan negara tersebut adalah negara paling demokratis sehingga setiap orang boleh angkat suara. Kalau tidak, tidak mungkin seorang Qibti Mesir yang Nashrani mampu mengadukan Gubernurnya Amr bin Al-Ash yang dianggapnya sewensng-wenang kepada sang Khalifah Umar bin Al-Khattab. Keadilan yang merata tersebut menjadikan setiap orang merindukan akan kedatangan Islam di negerinya.

Wallahu a’lamu bishowwab.
* ada juga yang menyebutkan tahun 1924.

MAKNA SEBUAH SIKAP


Kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan

Saat Dzul Qornain dan bala tentaranya mwmasuki sebuah gua untuk mencari mata air ‘ainul hayat, maka mereka terhenti pada sebuah tempat yang apabila tempat itu diinjak baik olek kaki manusia ataupun oleh kaki kuda ia mengeluarkan suara gemericik. Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan, “semua kalian yang ada di sini, saat keluar nanti kalian akan menyesal.” Mereka tidak mengerti maksud ucapan dari salah satu mereka itu yang ternyata Nabi Khidir as yang memang ketika itu bersama-sama mereka sebagai penasehat raja. Karena penasaran, sebagian mereka ada yang mengambil banyak benda gemericik tersebut, ada yang mengambil sedikit dan ada juga yang tidak mengambil sama sekali karena mereka anggap tidak ada gunanya.
Benarlah, setelah keluar dari gua tersebut mereka semua menyesal. Yang mengambil banyak menyesal tidak mengambil lebih banyak lagi, yang mengambil sedikit menyesal tidak mengambil seperti teman-teman mereka yang mengambil banyak, terlebih lagi yang tidak mengambil sama sekali. Pasalnya benda yang mengeluarkan suara gemericik apabila diinjak tersebut ternyata intan. Untuk masuk kembali ke dalam gua mereka perlu berjuang dari awal melawan hawa dingin, pengap dan gelap. Ditambah lagi raja mereka Dzul Qornain yang tidak mengetahui hal tersebut telah mengajak mereka pulang.
Beranjak dari kisah di atas terlepas dari benar atau tidaknya maka setiap kita harus memiliki sikap. Sikap biasanya muncul dari sebuah prinsip hidup dan prinsip hidup lahir dari ideology yang kuat. Kekuatan ideology menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi tantangan hidup ini apapun yang terjadi. Apabila kekuatan ideology, ketajaman prinsip serta kematangan sikap dikombinasikan akan muncul suatu instrument besar. Instrument ini yang akan memicu kekuatan besar.
Begitu besar makna sebuah sikap sehingga tak mudah bagi kita untuk dapat menentukannya secara pas. Adakalanya kita sendiri yang melanggar prinsip-prinsip hidup kita sehingga yang menjadikan sikap kita berubah , tidak sesuai dengan hati nurani. Sebenarnya factor ideology yang seharusnya mendominasi hidup kita. Islam tidak sekedar rutinitas di masjid, Islam adalah sebuah system yang di dalamnya ada ideology, kekuatan, baik kekuatan dalam bentuk fisik maupun strategi (fikriyah). Islam mengajarkan kita akan sikap yang tegas. Sebagaimana di dalam Al Quran Surat Al Kaafiruun:

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Surat ini menggambarkan dan mengajarkan kita bagaimana sebuah sikap dan prinsip dibangun sekaligus. Sikap tidak ingin menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir begitupun sebaliknya orang-orang kafir bukanlah penyembah sesembahan orang-orang mukmin yaitu Rabb yang Esa, Allah SWT. Prinsipnya jelas “untukmu agamumu dan untukku agamaku.” Ideologynya adalah Al-Islam yang sangat kuat menghunjam ke dalam hati.
Kita tentu tidak ingin menyesal seperti para tentara Dzul Qornain dalam kisah di atas. Kita tentunya ingin keberuntungan yang selalu dilimpahkan kepada kepada kita. Tapi celakanya kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan karena ketakutan yang dibuat-buat.
Begitupun para penguasa negeri ini. Ketika kita baru saja merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam beberapa decade saja, para pemimpin negeri ini telah berani mengambil resiko dengan pinjaman luar negeri jangka panjangnya, sedangkan akibatnya tidaklah terlalu dipikirkan. Akibatnya, sepanjang tahun kita harus membayar hutang tersebut yang semakin hari semakin membengkak akibat bunga dan penurunan nilai mata uang rupiah. Eksploitasi Sumber Daya Alam selama ini ternyata untuk kepentingan luar negeri saja.
Di lain sisi, pememrintah tidak berani mengambil resiko memanfaatkan SDA yang ada dengan pengelolaan sendiri. Pemerintah kurang sabar untuk memperoleh keuntungan dari eksploitasi alam. Alasannya SDM yang tidak memadai serta peralatan yang juga tidak mencukupi. Mengapa kita tidak mencontoh Malaysia? Malaysia, selama ia mengimpor tenaga pendidik dari Indonesia bersamaan dengan itu pula pemerintahnya menyekolahkan guru-guru atau calon guru mereka ke luar negeri demi kemajuan negeri mereka ke depan. Buktinya saat ini Malaysia menjadi salah satu Negara industri yang cukup pesat kemajuannya di Asia bahkan dunia. Bila kita mencontoh strategi yang dilakukan Malaysia, maka saat ini tambang-tambang kita tidaka akan dikuasai oleh pihak asing. Tambang-tambang emas kita bukan hanya sekedar terkenal dengan nama tempatnya tapi tidak akan dikuasai pleh Amerika karena SDM kita juga memadai.
Bila kita tidak ingin merugi maka cukuplah kita belajar dari Q.S. Al Ashr. Siapa mereka? Orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Alih-alih seperti itu, pemerintahan kita justru pemerintahan dictator anti nasehat, baik Soekarno maupun Soeharto.
Sekali lagi, ideology, prinsip dan sikap harus berjalan seiring seirama untuk memunculkan instrument besar. Instrument besar ini akan melahirkan kekuatan besar dan akhirnya keseimbangan dalam berfikir menuju suatu perubahan.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Wallahu a’lamu bi showab.

REFLEKSI KEPEMIMPINA KITA


Enam puluh tiga tahun lebih bangsa ini terbebas dari kekuasaan tiran penjajah namun kita masih tetap dalam kungkungan penjajahan. Ya…, kita telah dijajah oleh diri kita sendiri. Memang begitu kuatnya dampak dan pengaruh dari penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun sehingga tanpa sadar membentuk pribadi kita seperti orang-orang terjajah selamanya. Kita tidak punya kesadaran akan kebebasan diri kita yang telah dianugerahkan kepada kita.
Begitu pula dengan sistem kepemimpinan kita. Kita tinjau lagi sejarah, bagaimana Soekarno memerintah dari tahun 1945 dan akhirnya tumbang pada tahun 1966 karena pengaruh ketidakbebasan. Soeharto, setelah 32 tahun memerintah negeri akhirnya harus mundur karena juga akibat ketidak merdekaan. Selanjutnya, pada masa-masa transisi banyak terjadi tuntutan dari masyarakat karena rakyat tidak merasa merdeka. Gus Dur “diturunkan paksa” karena ia salah satu orang yang tidak mampu memberikan kebebasan kepada rakyat. Bahkan, sampai saat ini ketidakmerdekaan itu sangat kuat dirasakan oleh masyarakat.
Inilah bahan refleksi kita untuk sistem kepemimpinan kita yang mewarisi mental penjajah. Mengapa saya katakan kita tidak merdeka…?? Jelas harus kita fahami dulu makna ”merdeka” yang sesungguhnya. Ingat apa yang dikatakan oleh salah satu tentara biasa kaum muslimin kepada Rustum sang Panglima Persia pada saat penaklukan kota Qadisiyah, ”apakah yang mendorong kalian hingga kalian datang dan ingin menguasai negeri ini…?” Rustum bertanya kepada prajurit tersebut.maka dengan bangganya sang Prajurit berkata, ”sesungguhya yang mendorong kami adalah niat untuk membebaskan (memerdekakan) manusia dari penghambaan kepada sesama manusia (makhluk) kepada penghambaan kepada Allah semata.” Sebuah ungkapan yang luar biasa yang mampu menggetarkan seantero istana Rustum dan mengendorkan semangat tentara Persia. Setelah itu babak baru dimulai di tanah asal sahabat Rasulullah saw, Salman Al Farisi tersebut.
Adakah diantara kita yang mampu mengatakan hal seperti tentara Sa’ad bin Abi Waqas di atas. Atau adakah di antara pemimpin kita yang mampu mengatakan hal seperti tentara biasa tersebut. Sekaliber tentara biasa mampu menggetarkan istana Rustum, lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan sang pemimpinnya…?? Panglimanya adalah Sa’ad bin Abi Waqas dan khalifahnya adalah Umar bin Khattab. Tentu akan banyak yang mengatakan, mana mungkin kami bisa menyamai Umar bin Khattab.
Permasalahannya di sini bukanlah mungkin atau tidak mungkin tapi mau atau tidak mau. Setiap orang boleh berobsesi, kita punya obsesi untuk meneladani Rasulullah, maka kita harus punya obsesi untuk mengetahui dan meniru para sahabat terlebih dahulu. Tidak ada yang jelek dari para sahabat. Yang sekarang mesti dilakukan oleh para pemimpin kita adalah berobsesi, berobesesilah untuk meniru salah satu shabat Rasulullah, tentu kita tidak akan penah mencapai derajat ”generasi terbaik” tersebut. Namun setidaknya kita dapat menjadi sang Prajurit biasanya Sa’ad bin Abi Waqas tadi. Ketika pemimpin kita sudah mampu mengatakan hal seperti yang dikatakan oleh sang Prajurit maka dijamin ketentraman, ketenangan dan kesejahteraan akan terwujud karena itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.
Saat ini kita butuh pemimpin yang mau dan mampu mendengar. Namun sebaliknya, sekarang pemimpin kita terus berkata dan berkata tanpa bisa mendengar. Sebab, secara logika orang yang sedang berbicara itu tidak akan mau mendengarkan. Kita lihat praktik kepemimpinan dalam shalat berjamaah kita. Masjid diibaratkan sebagai sebuah wilayah yang kita sebut ”negara”. Imam adalah pemimpin kita sedangkan ma’mumnya adalah rakyat. Sudah mencukupi tiga syarat berdirinya sebuah negara. Rakyat harus taat kepada pemimpin. Namun disaat sang Imam salah ma’mum wajib mengingatkannya. Jadi ketika pemimpin melenceng, keliru, ataupun lupa maka rakyat wajib mengingatkan.
Bahkan imam dapat digantikan apabila ia batal wudhu’ dan batal shalatnya. Ini adalah sebuah isyarat berjamaah (berorganisasi). Ketika pemimpin sudah tidak mampu lagi, maka harus ada yang menggantikan.
Wallahu a’lamu bish showab.

Posted on on September 16th

KRISIS ORIENTASI



Sebuah kisah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan yang dapat kita ambil hikmah. Selepas terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab, kondisi negeri muslim mengalami kekacauan. Namun setelah Khalifah Utsman diangkat sebagai amirul mu’minin, suasana dapat dikendalikan secara aman oleh sang Khalifah yang berhati lembut tersebut. Orang-orang non-muslim berduyun-duyun memeluk Islam. Salah seorang daripadanya adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman yang bernama Abdullah bin Saba’.
Namun ternyata Abdullah bin Saba’ mempunyai tujuan lain dibalik niatnya memeluk Islam tersebut. Ia mengharapkan Khalifah selaku penguasa negara akan memberikan kehormatan kepadanya. Dia menginginkan diberikan jabatan yang cukup tinggi dalam bidang apa saja. Tentu saja Khalifah Utsman menolaknya sebab Islam sangat melarang “meminta jabatan” dan “memberikan jabatan” kepada orang yang memintanya.
Karena penolakan tersebut, Abdullah bin Saba’ pun kecewa. Bukannya jabatan yang peroleh tapi nasehat yang cukup keras dari Khalifah. Kekecewaan ini akhirnya diluapkan dengan menyebarkan fitnah yang sangat keji di kalangan kaum muslimin. Dia mengatakan bahwa pewaris dan Khalifah yang sah adalah Saiyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagian terpengaruh dengan hasutan tersebut sehingga mereka membentuk perkumpulan yang dipanggil Syiah Saba’iyah yakni kaum Syiah sekarang.
Bahkan yang lebih keji lagi, Abdullah bin Saba’ berani mengatakan,” “Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan pada waktu itu malaikat Jibril sedang mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad yaitu orang yang tidak berhak.” Mendengar kabar beracun itu Syaidina Ali bin Abi Thalib marah besar dan pada masa pemerintahannya beliau mengusir Abdullah bin Saba’ keluar dari Madinah.
Kisah di atas cukup memberikan gambaran kita betapa berbahayanya ketika seseorang telah mengalami disorientasi terhadap niat. Niat adalah sesuatu yang timbul
dari dalam hati sanubari yang terdalam sehingga ia sangat kuat mempengaruhi jasad dan perbuatan. Bahkan niat adalah sesuatu yang sebenarnya terbentuk secara sadar.
Para ulama sepakat bahwa unsur-unsur yang harus ada agar ia menjadi sebuah niat adalah: Pertama, orang tersebut faham dengan apa yang akan dia lakukan sehingga dituntut pengetahuan terlebih dahulu.
Kedua, sadar dengan apa yang akan dilakukannya. Orang yang sedang tidur lalu bermimpi melakukan sesuatu tidaklah dianggap sebuah niat. Kesadaran adalah faktor yang sangat menentukan dalam memulai sebuah niat sehingga orang yang sedang mabuk sangat dilarang untuk mendekati shalat tentu niatnya untuk shalat tidak akan diterima. Serta orang yang tertidur tanpa sengaja sehingga lupa untuk mengerjakan shalat mendapatkan rukhsha untuk melakukan shalat ketika ia terbangun dan ingat.
Ketiga, tahu dengan tujuan dari apa yang ia niatkan dan akan lakukan. Tahu dengan tujuan berarti ia akan tahu manfaat dan mudharat, resiko serta segala yang berkaitan dengan niat dan pekerjaan tersebut. Ketika ketiga elemen dasar ini terpenuhi maka jadilah ia niat yang sempurna.
Rasulullah saw memberikan perhatian yang sangat lebih terhadap persoalan niat sehingga Imam Nawawi meletakan hadits tentang niat ini pada urutan yang pertama dalam Hadits Arba’innya.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Kondisi yang terjadi saat ini sangat banyak sekali orang-orang yang mengalami disorientasi dalam berniat. Krisis tidak lagi melanda ekonomi, sosial, budaya, politik, dll., bahkan telah merambah pada bagian paling inti dari diri kita yaitu hati kita. Sesuatu yang sangat krusial ketika hati telah menjadi ranah yang terpengaruhi oleh ambisi pribadi.
Saya rasa kita perlu membaca kembali kisah Abdullah bin Saba’ di atas yang pada akhirnya berdampak sangat buruk bagi ummat. Hal ini disebabkan karena disorientasi niat. Sebenarnya masih banyak lagi di dalam Al Quran yang mengisahkan orang yang pada akhirnya binasa karena mengalami krisis orientasi. Kita mengenal nama Qarun yang kaya raya. Pada awalnya ia adalah seorang shaleh yang miskin. Tetapi setelah beberapa lama menjadi kaya raya karena Allah memperkenankannya melalui doa Nabi Musa. Tapi, apa yang terjadi pada akhirnya…?? Qarun dibenamkan Allah ke dalam bumi beserta hartanya karena niatnya telah melenceng.
Hari ini, para aktivis da’wah sudah bertebaran dimana-mana bahkan sampai ke pelosok negeri. Saya tidak pernah mengatakan bahwa semua aktivis da’wah mengalami degradasi niat. Namun, kita semua harus mawas diri, waspada terhadap semua kemungkinan. Bukan kepada orang lain tapi waspada terhadap diri kita sendiri. Tanyakan lagi kepada diri kita apa tujuan yang sebenarnya. Jangan-jangan sampai saat ini masih ada yang belum tahu tujuan dari da’wah ini. Bukankah kita mengaharapkan keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya kelak di akhirat.
Maka dari itu, perbaharui niat kita selalu. Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk selalu memperbaharui niat sebab secara sadar ataupun tidak sadar kadang terselip “niat-niat” lain yang ikut menempel dan menjadi parasit dalam hati kita. Niat yang kecil tanpa kontrol akan terus membesar dan pada akhirnya akan berpengaruh pada pola pikir, tindakan dan yang lebih parah lagi “tujuan kita”.
Wallahu a’lamu bishshowaab.