06 April 2011

Pemuda, Sejarah Masa Lalu dan Potret Masa Kini *

Malam itu, beberapa orang berkumpul di sebuah tempat di Menteng yang dikemudian hari menjadi tempat yang sangat bersejarah. Mereka adalah kaum muda yang masih belia, tampak dua orang tua yang tengah berdebat dengan mereka. Bukan hal sepele yang dibahas, melainkan permasalahan kebangsaan, masalah kemerdekaan. Kedua orang tua tersebut masih tidak ingin mengumumkan kemerdekaan Indonesia sebab masih harus melalui beberapa tahapan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sedangkan para pemuda tersebut merasa PPKI adalah sebuah lembaga bentukan Jepang. Maka, jika menunggu keputusan PPKI itu berarti seakan-akan kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari Jepang. Padahal kemerdekaan Indonesia adalah hasil jerih payah bangsa, dengan darah dan nyawa sebagai taruhannya.
Para pemuda itu berusaha meyakinkan dua orang tua yang sedang berada dihadapan mereka. Kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan, sekarang juga sebab inilah saatnya. Ketika Indonesia mengalami status quo, mengalami kekosongan kekuasaan. Sebelum bangsa asing lainnya setelah Jepang datang ke negeri ini. Sebelum tentara-tentara Belanda yang membonceng Sukutu kembali berusaha menguasai Indonesia.
Mereka adalah Soekarni, Chaerul Saleh, Sayuti Melik, dan pemuda-pemuda lainnya yang berhadapan dengan Soekarno dan Hatta. Para pemuda dengan semangat juang dan cita-cita kemerdekaan yang tinggi. Sehingga dari “penculikan” tersebut lahirlah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Di belahan bumi yang lain dan dalam dimensi waktu yang berbeda dua belas pemuda berkumpul di sebuah bukit. Mereka mengucapkan janji setia mereka kepada seseorang yang sangat mulia. Dengan semangat keimanannya mereka akhirnya terlepas dari belenggu kemusyrikan, permusuhan antar suku yaitu Aus dan Khazraj pun ditanggalkan. Tak ada egoisme pribadi, tak ada lagi semangat fanatisme kesukuan yang seringkali menjadikan pertumpahan darah di antara mereka. Merekalah para ashabiqunal awwalun dari kaum Anshar Madinah (Yatsrib).
Dari sumpah setia pertama tersebut tersebarlah agama Islam di Yatsrib yang membawa lebih dari 70 pemuda pada tahun berikutnya untuk juga berjanji setia. Pada akhirnya dari janji setia ini pula Rasulullah Muhammad saw. menetapkan pilihan untuk berhijrah ke Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah dan mendirikan sebuah negara berdaulat. Pemuda, menjadi tiang penyangga dan penopang berndirinya negara tersebut bahkan tegaknya sebuah peradaban yang beradab.
Itulah sejarah pemuda masa lalu, para pendahulu kita. Kedua-duanya kisah di atas adalah contoh pemuda-pemuda produktif pada masanya. Setidaknya dalam merebut kemerdekaan Indonesia, pemuda memiliki moment-moment penting yang tidak bisa kita lupakan. Pertama, pada saat bangsa Indonesia mulai menyadari harus adanya gerakan-gerakan massif yang bersifat nasional , maka pemuda menjadi perintis benrdirinya organisasi-organisasi yang bertujuan membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Mulai dari Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1905 yang kemudian kemudinya dikendalikan oleh seorang pemuda bangsawan anti Belanda yaitu R.M. Tirtoadisuryo. Kemudian berganti nama menjadi Sarikat Islam pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Organisasi ini berdiri dalam rangka membangun ekonomi masyarakat dengan berasaskan Islam untuk membendung pengusaha dari negeri Cina yang sudah mulai menggurita di Nusantara akibat kebijakan Belanda. Selanjutnya berdiri juga Budi Utomo yang dimotori oleh dr. Soetomo dan kawan-kawannya dari sekolah kedokteran Stovia Batavia pada 1908. Inilah generasi-generasi perintis perjuangan bangsa Indonesia modern.
Kedua, pemuda Indonesia menjadi generasi penguat atau pengukuh dalam upaya menuju Indonesia merdeka. Di sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106Pada 27-28 Oktober 1928 yang dikemudian hari menjadi Gedung Sumpah Pemuda berkumpullah pemuda-pemuda dari berbagai penjuru nusantara. Mereka melaksanakan Kongres Pemuda yang kedua dan menghasilkan Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda inilah yang menjadi ikrar persatuan bangsa. Setelah Sumpah Pemuda, wacana persatuan dan kesatuan bangsa semakin massif. Maka dari itu banyak para tokoh pemuda tersebut yang ditangkap oleh Belanda kemudian dijebloskan ke penjara atau diasingkan.
Ketiga, puncak dari kedua fase tersebut yaitu fase perintisan dan penguatan adalah fase pendobrak. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah puncak dari fase pendobrakan ini. Tokoh-tokohnya tentunya banyak pemuda. Sebelumnya, dalam rangka perumusan dasar negara dan konstitusi negara para pemuda juga berperan aktif memberikan masukan dan gagasan-gagasan segar. Itulah sebabnya, para pemuda merasa berhak untuk melakukan tindakan-tindakan cepat dan tepat agar Proklamasi Kemerdekaan segera diumumkan.
Kalau kita berkaca dari sejarah masa lalu kemudian dibandingkan dengan kondisi pemuda masa kini maka kita akan merasakan suasana yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang terjadi ada yang bersifat wajar dalam arti masih dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat, tetapi banyak juga yang memang tidak sesuai dengan etika dan adat-istiadat ketimuran. Ada banyak faktor penyebab semua itu. Pertama, situasi dan kondisi pada zaman itu memang memaksa setiap orang untuk berfikir lebih jauh dan lebih tua dari usianya. Tetapi nilai-nilai positif yang sudah tertanam tersebut seharusnya bertahan dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Kedua, pesatnya pengaruh Barat masuk ke negara-negara Timur terutama negara-negara Islam. Kalau boleh saya katakan bahwa inilah yang disebut oleh Samuel P. Huntington sebagai “Class of Civilization” atau Benturan Antar Peradaban. Benturan ini pada akhirnya memang ditujukan kepada negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sebab Barat menganggap Islam menjadi ancaman yang serius dalam menjalankan agenda-agendanya. Lagipula, sebenarnya negara-negara Islam tersebut adalah negara-negara yang mayoritas memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah.
Ketiga, arus teknologi dan informasi dan gaya serba instan yang membuat anak muda masa kini malas untuk melakukan hal-hal yang menantang dan beresiko. Mereka sudah tidak berminat lagi mengerjakan sesuatu yang berat termasuk dalam hal berfikir. Ketika budaya berfikir ini sudah terkikis dan mulai habis maka tamatlah riwayat pemuda dan bangsanya. Inilah ketakutan terbesar dari suatu bangsa. Di negara-negara maju, kiprah, kreatifitas dan pemikiran pemuda sangatlah dihargai dan mendapatkan perhatian khusus. Ini dilakukan agar para pemuda termotivasi untuk terus berfikir dan berkarya.
Itulah, perbandingan beberapa generasi yang terpaut jauh. Satu pada masa yang sangat jauh dari teknologi modern, satu lagi pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia, sudah merasakan teknologi modern tp belum sepesat sekarang dan satu generasi lagi adalah generasi melek teknologi modern dengan segala kemudahannya. Namun, jika bandingkan kualitas dari tiga generasi tersebut sangatlah berbeda.

*) Tulisan pertama untuk buku "Serial Pemuda" Rekonstruksi Pemikiran Kaum Muda

03 April 2011

April Mop, Tradisi Peringatan Pembantaian Kaum Muslimin Spanyol

Bulan apakah ini?? Ya bener sekali, kita sedang berada di bulan April. Pada bulan April kali ini kita sedang disibukkan dengan berbagai hal. Bagi anak-anak SMA dan SMP sedang sibuk mempersiapkan Ujian Nasional mereka. Bagi orang-orang yang tinggal di bantaran kali atau juga dataran rendah sedang sibuk dan was-was kalau-kalau banjir datang menghampiri. Eh, padahal kan bulan April sudah hampir musim kemarau biasanya. Ya, itu dulu. Sekarang karena ulah tangan manusia musim sudha tidak waktunya lagi.
Tapi, disamping itu semua apakah kamu pernah mendengan sebuah tradisi –atau apalah namanya yang kamu enak menyebut dan mendenganya –april mop atau yang disebut dengan April Fools Day?? Ayo, ada yang tau ga’?? Masa’ ngakunya anakgaul dan keren tapi ga’ tau. Itu tuch, hari dimana kamu boleh berbohong kepada siapapun. Jatuhnya April Mop ini pada tanggal 1 April setiap tahunnya. Jadi, menurut tradisi itu kamu boleh berbohong kepada siapa pun dan tentang apa pun dan menganggap itu lelucon. Seharian.
Mau tau kelamjutannya?? Ok, kita lanjutin yuks kisahnya. Ini nich kisahnya. Zaman dahulu di zaman Romawi Kuno dan Celtic pada setiap musim semi tiba orang-orang sering membuat lelucon praktis. Di zaman ini, merusak dijadikan festival dan dirayakan.
April Mop pertama berasal dari Eropa pada Abad Pertengahan. Beberapa jejak April Mop di mitologi Romawi, khususnya terdapat pada kisah Ceres, Dewi panen, dan putrinya, Proserpina. Dewa orang mati Pluto menculik Proserpina dan membawanya tinggal bersama di dunia ‘bawah’. Gadis ini memanggil ibunya, namun Ceres hanya bisa mendengar gema suara putrinya, dan upaya pencariannya menjadi sia-sia. ‘Tugas bodoh’ atau kejar-kejaran sia-sia semacam ini pun menjadi lelucon praktis populer di Eropa di abad kemudian.
Teori paling dikenal mengenai asal-usul April Mop adalah, peralihan kalender Julian menjadi Gregorian yang digunakan di akhir abad ke-16. Berdasar kalender Julian, Tahun Baru dirayakan selama sepekan antara 25 Maret hingga 1 April. Namun, untuk kalender Gregorian, Tahun Baru dirayakan pada 1 Januari.
Mereka yang tak mengetahui hal ini bersikeras menganut tradisi lama dan tetap membuat lelucon di sekitar Tahun Baru lama. Namun teori ini tak dapat menjelaskan mengapa tradisi lelucon ini tak menyebar ke negara-negara lain di Eropa yang tak mengadopsi kalender Gregorian di kemudian hari.
Itulsh cerita asal-usul April Mop menurut versi orang-orang Eropa. Eits tunggu dulu, jangan beranjak dulu. Masih ada kelanjutannya. Taukah Anda bahwa kisah di atas hanya untuk mengelabui kita saja. Cerita yang dibuat untuk menutupi kebiadaban dan kekejaman kerajaan Kristen Spanyol yang telah membantai kaum Muslimin Granada, Andalusia .
Hal ini tidak terlepas dari pembebasan Andalusia (Spanyol) oleh Panglima Thariq bin Ziyad di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Maka, sejak saat itu resmilah Islam memerintah Spanyol, Portugal dan Italia bagian selatan dan mulai berkembanglah kebudayaan Islam di Eropa. Eropa yang selama sebelumnya gelap gulita kini menjadi terang benderang penuh cahaya. Eropa tiba-tiba muncul menjadi satu kekuatan baru di kancah dunia. Bukan hanya kekuatan fisik tapi juga kekuatan peradaban dan budayanya. Seluruh Eropa yang mayoritas diperintah oleh raja-raja kristen berkiblat pada Andalusia (Spanyol).
Seiring perjalanan waktu, terjadi kemelut dan perebutan kekuasaan di antara elit penguasa Daulah Umayyah di Andalusia hingga akhirnya rapuhlah negara tersebut. Akhirnya datanglah kaum Al-Murabitun yang mencoba menyelamatkan Andalusia dari serangan-serangan kerajaan kristen sebagai dampak dari Perang Salib. Kemudian kaum Al-Murabitun digantikan oleh kaum Al-Muwahidun. Pada akhirnya, setelah Andalusia terus mengalami kemunduran-kemunduran Sultan Granada terakhir Muhammad Abu Abdullah (Boabdil) menyerahkan istana dan benteng Granada, Alhambra kepada kekuasaan Kristen, dan menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Iberia.
Kota-kota Islam di Spanyol, seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib Spanyol di bawah pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella.
Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu menjanjikan keselamatan dan memperbolehkan ummat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.
Namun ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum Muslimin dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.
Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji itu terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day”. Selanjutnya, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal itu, tetapi bernuansa gembira. Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas.
Nah, sekarang sudah faham kana apa itu April Mop. Ketika Anda sudah mengetahui maka berfikirlah secara bijak. Ummat Islam sampai dengan hari ini masih merasakan pedihnya pembohongan yang berujung pada pembataian tersebut.

02 April 2011

MENUJU KESIAPAN PERNIKAHAN, BENARKAH HARUS KAYA TERLEBIH DAHULU??

Sebenarnya cukup sulit bagi saya untuk menuliskan ini sebab saya belum pernah merasakannya. Hanya saja sedang berusaha mewujudkannya. Menikah. Satu kata yang di satu sisi membuat fikiran kita seakan-akan melayang indah dan di sisi lainnya tidak jarang menjadi seperti hantu yang begitu menakutkan. Apa sebab?? Mari sama-sama kita telaah.
Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits nabi yang menyatakan hal ini. Seperti di dalam Surat An-Nisa’ ayat 3:
Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (jika kamu mengawininya) maka nikahilah wanita-wanita lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
(An-Nisa’:3)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadaNya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21)
Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan). Barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah berpuasa, karena ia menjadi benteng perlindungan. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)
Barangsiapa telah mempunyai kemampuan untuk menikah kemudian dia tidak menikah maka dia bukan termasuk ummatku. (HR. Thabrani dan Baihaqi)
Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti. (HR. Ibnu Majah dari Aisyah r.a.)
Bahkan, mati yang paling terhina adalah mati dalam keadaan membujang. Maka tidak ada kata lain kecuali kita harus menikah. Islam tidak membenarkan cara-cara kependetaan yang tidak menikah sebab dengan tidak menikah bukannya akan membuat kita fokus untuk beribadah kepada Allah melainkan justeru akan menjadikan kita terjerumus kepada dosa besar yaitu zina. Lagi pula Rasulullah sebagai teladan kita telah mencontohkan bahwa dia menikah, berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam tapi juga tidur dan istirahat dan memberikan hak isteri-isteri beliau. Padahal Rasulullah adalah orang yang paling bertakwa di antara sekalian manusia.
Baiklah, setelah sekian banyak dalil tentang pernikahan di atas masihkah kita ragu?? Kalau masih dalam keragu-raguan, mari kita masuk lebih dalam lagi.
Dalam pernikahan itu sendiri memiliki beberapa hukum. Ada lima hukum dalam pernikahan. Nikah dapat menjadi wajib, dapat pula, sunnah, bahkan menjadi haram, di samping makruh dan mubah. Kapan ia menjadi berhukum wajib?? Apabila seseorang telah mampu untuk menikah dan berkeyakinan akan jatuh pada perzinaan apabila tidak menikah. Sedangkan perzinaan itu adalah sesuatu yang haram. Maka, tak lain cara menghindarinya adalah dengan jalan menikah.
Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Orang yang mampu menikah yang dikhawatirkan akan membahayakan dirinya dan agama jika ia membujang, yang kekhawatiran itu dapat hilang melainkan dengan menikah, maka tidak ada lagi perselisihan tentang wajib menikah baginya.”
Pernikahan dapat berakibat hukum sunnah apabila nafsu seseorang telah mendesak dan ia mampu untuk menikah akan tetapi ia masih mampu menahan diri dari perbuatan zina maka ia sunnat untuk menikah. Itu berarti ia akan mendapatkan keutamaan sunnah dalam menjalani ibadahnya tersebut.
Akan tetapi, posisi sunnah untuk menikah ini tidaklah bersifat panjang dalam hal waktu. Dari hukum sunnah tentu ia akan berangsur-angsur kepada hukum wajib. Maka tentu saja kita harus tetap mempersiapkannya. Rentang waktu sunnah ini menjadi pilihan yang bijan kepada kita apakah akan mengambil keutamaan-keutamaan tersebut. Rasulullah menikah pada usia 25 tahun, maka kalau kita ingin mengikuti Rasulullah dan memang seyogyanya seperti itu bahwa batas sunnah itu pada usia 25 tahun. Setelah itu kita telah masuk pada masa wajib menikah. Bahkan para sahabat banyak yang menikah di usia yang sangat muda.
Hukum ketiga adalah hukum pernikahan haram. Bagaimanakah pernikahan yang berakibat hukum haram tersebut?? Apabila seseorang menyadari tidak dapat memberikan nafkah dan hak-hak isterinya atau tidak dapat memberikan mahar karean kemiskinan yang sangat sedangkan kebutuhan menikahnya tidak mendesak. Maka, orang yang seperti ini tidak boleh menikah sebelum ia berterus terang kepada calon isterinya tentang keadaannya atau tiba saatnya ia mampu memenuhi hak-hak isterinya.
Pernikahan menjadi haram dapat pula disebabkan karena tujuan pernikahan tersebut telah melenceng dari yang sebenarnya. Misalkan karena ingin menguasai harta warisan sang wanita, atau juga salah satu dari pria atau wanita tersebut memiliki penyakit menular melalui pergaulan suami isteri tersebut sehingga menyebabkan pasangannya juga terjangkit penyakit yang sama.
Hukum selanjutnya adalah makruh apabila seseorang mengidap lemah syahwat sehingga tidak dapat memenuhi hak-hak isterinya walaupun secara finansial sang suami kaya. Akan bertambah makruh apabila karena penyakitnya tersebut menyebabkan ia berhenti dari melakukan suatu ibadah atau menuntut ilmu.
Terakhir adalah hukum pernikahan yang mubah berlaku bagi seorang pria yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkan segera menikah, atau karena alasan-alasan yang mengharamkan nikah.
Itulah lima hukum dalam pernikahan. Dari pengertian di atas maka kita dapat menyimpulkan sendiri kita masuk pada kelompok yang mana, wajib, sunnah, mubah, makruh atau bahkan haramkah??
Masih juga ada alasan lainnya?? Karena masih belum punya pekerjaan, rumah, kendaraan atau yang lainnya??
Alasan yang paling klasik dan mayoritas para pemuda tidak mau menikah adalah masalah pekerjaan, merasa belum siap karena belum mapan secara ekonomi. Ada juga yang sudah punya pekerjaan tapi tak kunjung menikah karena belum memiliki tempat tinggal sendiri, atau belum punya kendaraan untuk menunjang pekerjaannya tersebut.
Ketika alasan-alasan di atas menjadi hambatan kita maka sesungguhnya kita telah terjebak. Kita telah menciptakan kesulitan kita sendiri dengan mengatasnakan “materi” sehingga jadilah ia berhala yang bernama materialisme. Hidup dihitung secara matematis, biaya-biaya hidup dianggap linear, kalau biasa kita sendiri hidup menghabiskan uang satu setengah juta dalam sebulan berarti jika ditambah isteri menjadi tiga juta, belum lagi ditambah anak-anak misalkan tiga orang anak berarti 7,5 juta sebulan. Alangkah malangnya seseorang yang berfikir seperti ini.
Itulah kondisi masyarakat kita saat ini. Dalam menjalani kehidupan segalanya diukur dengan serbamateri. Parameter utama kesuksesan atau kegagalan juga materi. Perbincangan publik juga berkisar tak jauh dari masalah ekonomi dan materi. Maka, jadilah masyarakat kita masyarakat yang materialistis tapi celakanya tak banyak yang mengakuinya dan bahkan masih banyak yang berkilah. Di pedesaan, apabila seseorang memberikan mahar yang kecil kepada calon isterinya ia menjadi perbincangan yang serius, perbincangan yang mencemooh. Padahal Rasulullah sebagai teladan kita yang harus dicontoh dan diikuti telah menyampaikan:
Sungguh sebaik-baik kaum perempuan adalah yang paling ringan tuntutan maharnya. (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Abbas).
Di perintahkannya para wanita untuk meringankan mahar bukanlah untuk meremehkan kaum perempuan, tetapi beliau tidak menginginkan dalam proses pernikahan. Umar pun pernah berpesan, “Janganlah berlebihan dalam memberikan mahar kepada perempuan, sebab Rasulullah saw. Menikah dan menikahkan puterinya tidak lebih dari mahar empat ratus dirham. Seandainya meninggikan nilai mahar ada manfaat dan kemuliaan perempuan di dunia atau menambah ketakwaannya, tentu Rasulullah saw. adalah orang yan pertama kali melakukan.”
Mahar pada dasarnya diberikan oleh seorang laki-laki kepada calon isterinya sesuai dengan kemampuan sang laki-laki. Banyak kisah para sahabat yang merupakan generasi pertama yang dibina oleh Rasulullah saw. sekaligus juga merupakan ummat terbaik dalam hal pernikahan dan pemberian mahar seperti pada kisah Abdurrahman bin Auf. Kita ketahui bahwa Abdurahman bin Auf ketika hijrah ke Madinah tak membawa harta apapun, tapi berkat kepiawaian dan kejujurannya dalam berdagang dalam beberapa bulan saja ia mampu menjadi pengusaha yang sukses. Diceritakan oleh Anas bahwa Rasulullah saw. melihat ada bekas warna kekuningan pada Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya, Apa ini?” Dia menjawab, “Saya menikah dengan seorang wanita dengan mahar emas sebesar biji kurma.” Beliau saw. bersabda, “Mudah-mudahan Allah memberi berkah kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun pernah suatu saat yang lain Rasul juga pernah menikahkan seorang laki-laki fakir yang tidak memiliki harta, dengan mahar berupa hafalan Al-Qur’an. “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk mahar?” Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, tidak punya wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Pergilah ke rumah keluargamu dan lihatlah barangkali engkau dapat memperoleh sesuatu.” Lalu ia pergi dan kembali lagi sambil berkata, “Tidak ada wahai Rasulullah, saya tidak mendapatkan sesuatu apa pun.”
Beliau saw. bersabda lagi, “Lihatlah, walaupun hanya sebentuk cincin besi.” Lalu dia pergi dan kembali lagi sembari berkata, “Tidak ada wahai Rasulullah, bahkan cincin besipun tidak ada. Hanya ini izar –pakaian untuk menutup separuh tubuh bagian bawah.” Sahl bin Sa’ad As-Sa’di berkata, “Dia tidak memiliki rida’ –pakaian utnuk menutup separuh bagian atas untuk setengahnya.”
Rasulullah saw. bersabda, “apa yang akan kau lakukan dengan izarmu? Jika engkau pakai maka dia tidak mendapatkan apa-apa, dan jika dia pakai maka kamu tidak mengenakan apa-apa.” Maka duduklah laki-laki itu dalam waktu yang cukup lama. Kemudian dia pergi dan Rasulullah melihatnya, lalu menyuruh agar dia dipanggil. Setelah dia datang, beliau bertanya, “Apa yang engkau hafal dari Al-Qur’an?” Dia menjawab, “Saya hafal surat ini dan surat ini” sambil menghitung-hitung surat itu.
Rasulullah bertanya, “Apakah engkau dapat membacakan kepadanya dengan hafalan?” Dia menjawab, “Bisa.” Beliau bersabda, “Pergilah, aku telah mengawinkanmu dengannya dengan mahar ayat Al-Qur’an yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Abbas menceritakan, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah saw. berkata kepada Ali, “Berikanlah sesuatu (mahar) kepadanya.” Ali menjawab, “Saya tidak punya apa-apa.” Beliau bertanya, “Mana baju besi huthamiyah punyamu?” Ali menjawab, “Dia ada padaku.” Sabda Nabi, “Berikanlah kepadanya.” (HR. Nasa’i).
Ada sebuah kisah tentang Umar terkait dengan urusan mahar ini. Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah pernah menganjurkan kepada para wanita muslimah untuk meninggikan mahar. Tapi hal ini justeru di tentang oleh para muslimah ketika itu hingga akhirnya Umar mengurungkan niatnya dan mencabut anjurannya itu.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mari kita simak dan fahami ayat berikut:
Dan nikahkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layaknikah di antara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya, dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. (An-Nur: 32).
Ayat ini akan mementahkan semua logika dan hitung-hitungan matematis yg selama ini dipakai. Ini adalah janji Allah yang suatu kemustahilan Allah mengingkari janjiNya. Asalkan kita percaya dan yakin bahwa Dia akan menolong hambaNya. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa satu dari tiga golongan yang layak mendapatkan pertolongan Allah adalah orang yang menikah karena ingin menghindarkan diri dari perbuatan haram (Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah).
Gambaran praktis dari Rasulullah untuk menjawab kekhawatiran sebagian masyarakat yang merasa rezekinya tidak mencukupi untuk makan berdua bersama isteri. Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
Makanan dua orang dapat mencukupi tiga orang, dan makan tiga orang dapat mencukupi empat orang. (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, kalau selama lajang bisa makan untuk diri sendiri, maka ketahuilah bahwa makanan Anda bisa mencukupi utnuk Anda sendiri bersama isteri. Jabir r.a. juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah bersabda:
Makanan seorang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang. (HR. Muslim).
Lalu, apa lagi yang masih kita ragukan? Tanyakanlah pada diri kita masing-masing. Masihkah kita sangsi dengan janji Allah di atas??
Wallahu a’lamu bishowwab.

01 April 2011

KONSEP IDEAL NEGARA ISLAM

Tulisan ini terispirasi dari sebuah pernyataan tokoh nasional negara ini yaitu Dr. Amin Rais terkait dengan konsep negara Islam yang dimuat dalam majalah Panji Islam era tahun 80-an. Di dalamnya Amin Rais mengatakan bahwa tidak ada negara Islam. Akan tetapi, jangan kita mengartikan pernyataan tersebut bahwa bapak Amin Rais tidak sepakat dengan adanya negara Islam. Namun ada baiknya kita kaji pendapat tersebut sekaligus juga akan diselipkan beberapa pendapat penulis sendiri.
Saat ini wacana tentang negara Islam sangatlah mencuat, apalagi ditambah dengan berbagai kasus dan rentetan peristiwa yang terjadi negeri ini. Peristiwa-peristiwa tersebut seringkali dihubungkan dengan kelompok orang atau organisasi yang katanya ingin mendirikan sebuah negara Islam, mengganti konstitusi dan dasar negara ini. Ada juga isu kudeta para purnawirawan jenderal yang dirilis oleh sebuah stasiun televisi internasional yang dinamakan “Dewan Revolusi Islam.” Namun, setahu saya, stasiun televisi tersebut adalah salah satu corong barat dalam rangka mempropagandakan berbagai agendanya.
Baiklah, kita akan kembali ke pokok persoalan terkait negara Islam. Apa itu negara Islam?? Apakah ia harus menggunakan kata-kata Islam seperti Republik Islam Iran, atau Republik Islam Pakistan atau juga Republik Islam Jibouti?? Atau ia juga harus dalam bentuk sebuah kerajaan seperti Arab Saudi, Jordania, Uni Emirat Arab atau juga Malaysia. Kita akan sama-sama pahami dengan melihat bagaimana proses terbentuknya suatu komunitas masyarakat muslim pada 14 abad yang lalu. Di Madinah Rasulullah telah membina sebuah masyarakat yang begitu teratur, sejahtera. Di sanalah pondasi negara modern seperti saat ini mulai diletakkan. Mengapa demikian? Minimal ada 5 syarat terbentuknya suatu negara. Pertama, negara harus punya wilayah. Tanpa wilayah sebuah negara adalah angan-angan, dari angan-angan tersebut akan tercipta obsesi, dari obsesi itulah akan timbul apa yang disebut dengan penjajahan. Itulah yang terjadi pada “Israel” yang mencaplok tanah Palestina hari ini. Bangsa Yahudi yang menopeng nama Israel adalah suatu bangsa tanpa tanah yang berusaha merebut Palestina dari masyarakatnya dengan cara paksa dengan jalan penjajahan.
Kedua, sebuah negara harus memiliki pemerintahan yang berdaulat. Terbebas dari intervensi asing. Kebijakan-kebijakan yang diambil adalah murni untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, belakangan banyak negara yang pemerintahannya dikendalikan oleh tangan-tangan asing yang sesungguhnya mengaburkan identitasnya sebagai suatu negara.
Ketiga, adanya rakyat yang diperintah sehingga aturan-aturan yang diterapkan dapat tegak. Tanpa rakyat apalah artinya seorang pemimpin, tanpa rakyat pula apa artinya peraturan. Keempat, adanya pengakuan dari negara-negara lain akan keberadaan negara tersebut.
Kelima, merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu negara adalah konstitusi atau aturan dasar. Konstitusi menjadi penyelaras pelaksanaan berbangsa dan bernegara. Ketika kelima elemen pembentuk negara ini terpenuhi maka sudah sahlah suatu kawasan, suatu tempat atau suatu komunitas itu menjadi negara berdaulat. Lalu bagaimana dengan “negara Islam” Madinah pada zaman Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin?
Kita akan mulai dari apa yang disebut sunnah. Sunnah itu ada beberapa macam yaitu sunnah qauliyyah yaitu segala ucapan nabi. Kemudian ada sunnah fi’liyyah yaitu segala perbuatan nabi dan yang terakhir sunnah taqririyyah yaitu diamnya Rasulullah ketika ditanya para sahabat yang berarti sebuah persetujuan sebab diamnya nabi adalah tanda setuju.
Rasulullah hijrah ke Yatsrib setelah kota tersebut dikondisikan terlebih dahulu oleh Mus’ab bin Umair setelah beberapa utusan dari Yatsrib melakukan Baiat ‘Aqobah. Setelah itu Islam dengan cepat menyebar ke seluruh Yatsrib. Bahkan tidak ada satu rumah pun yang tidak mendengar kata Islam dan Muhammad termasuk rumah orang-orang Nasrani dan Yahudi.
Apa kaitannya dengan sunnah-sunnah di atas?? Madinah adalah sebuah daerah yang cukup jauh letaknya dari kota Makkah. Secara kultur, masyarakat Madinah berbeda budaya dan kebiasaan dengan Masyarakat Makkah. Boleh dibilang, masyarakat Makkah lebih maju dari masyarakat Madinah. Di samping itu, Madinah dihuni oleh banyak golongan manusia. Bahkan, yang mendominasi pasar di Madinah ketika itu adalah Yahudi. Maka secara otomatis, terjadi akulturasi kebudayaan akibat dari percampuran dan interaksi masyarakat tersebut. Sesuai dengan semangatnya bahwa Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) maka ketika itu Rasulullah tidak serta merta mengubah secara total pola hidup dan kemasyarakatan penduduk Madinah. Justeru yang Rasulullah lakukan adalah membangun masjid sebagai simbol dari keberadaan suatu komunitas. Masjid menjadi pusat Rasulullah dalam mertarbiyah para sahabatnya. Masjid pula menjadi pusat pemerintahan dan perpolitikan misal dalam hal syura’ (musyawarah) dan mengatur strategi perang. Dalam hal ini, Rasulullah memiliki anggota Majelis Syura’ sendiri dalam upaya untuk merumuskan dan memberikan masukan terkait sosial kemasyarakatan.
Langkah yang kedua yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dengan mempersaudarakan antara Muslim Muhajirin dengan Muslim Anshor. Dengan demikian Rasulullah telah membina suatu tatanan masyarakat yang berbasis pada persaudaraan (ukhuwah) yang melepaskan segala atribut kesukuan. Inilah langkah untuk membentuk satu bangsa, menyatukan segala perbedaan dalam bingkai ukhuwah .
Ketiga, Rasulullah membangun pasar sebagai langkah membangun sendi-sendi ekonomi. Pasar ketika itu dikuasai oleh Yahudi yang jauh dari menjalankan prinsip-prinsip ekonomi ilahiyah. Maka, hiduplah perekonomian entitas baru, sebuah entitas Muslim yang masih belum dipandang apa-apa oleh imperium-imperium besar disekitarnya (Romawi, Persia, Hindustan dan China).
Langkah paling strategis yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membuat perjanjian dengan semua suku dan kabilah yang ada di Madinah termasuk komunitas Yahudi. Dari perjanjian yang dibuat tersebut terciptalah yang namanya “Piagam Madinah” yang terdiri dari 47 pasal. Itu konstitusi modern pertama yang dibuat oleh manusia, konstitusi ini menjadi sebuah model bagi perkembangan konstitusi pada masa kini.
Ketika di Makkah kaum muslimin harus bersabar dengan segala penyiksaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy, berbeda halnya ketika berada di Madinah. Dalam hal pertahanan dan keamanan, kewajiban jihad menjadi salah satu pilar yang mampu mempertahankan negara “bayi” tersebut.
Lengkaplah sudah syarat-syarat terbentuknya suatu negara. Berhaklah Madinah menyandang predikat negara. Akan tetapi Rasulullah sebagai kepala negara tidak memberikan nama khusus kepada negara baru tersebut. Tidak juga kita temukan dalam referensi sejarah negara itu dinamakan sebagai Daarul Islam, Khilafah Islamiyyah, Daulah Islamiyah. Akan tetapi, pelaksanaan nilai-nilai Islam dijalankan secara kaffah (menyeluruh). Terkait pengakuan dari negara lain, setelah kemenangan secara gilang gemilang di Badar (Muslim vs Kafir Quraisy = 1:3) maka terbukalah mata dunia. Mulai saat itu, entitas baru itu diakui memiliki kedaulatan dengan jihad sebagai sistem pertahanan dan keamanannya.
Kembali ke konsep negara Islam, dari konsep paling ideal yang diajarakan oleh Rasulullah tersebut di atas maka sebuah negara Islam harus memiliki beberapa syarat yang substansial. Pertama adanya seorang pemimpin yang beriman, takwa, mencintai rakyatnya sehingga rakyatnya juga sangat mencintainya. Seorang pemimpin juga harus sekaligus merangkap seorang penguasa. Pada zaman sekarang, posisi pemimpin berbeda dengan posisi seorang penguasa. Pemimpin hanya menjadi simbol saja, ia punya ummat tapi tidak memiliki kekuasaan atau sebaliknya penguasa, ia memiliki kekuasaan tetapi rakyatnya tidak patuh karena tidak dicintai oleh rakyatnya sebab sang penguasa juga tidak memikirkan rakyatnya.
Kedua, nilai-nilai Islam tertanam dengan kuat dalam sendi-sendi berbangsa dan bernegara sehingga rakyat dengan sukarela menjalankan nilai-nilai tersebut. Islam menjadi ruh dalam menjalankan roda pemerintahan. Produk-produk hukum walaupun dalam bentuk hukum positif tapi tetap terwarnai oleh nilai-nilai Islam. Misalkan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, UU tentang Larangan Monopoli, dll.
Ketiga, kesejahteraan rakyat terjamin. Apa bedanya negara Islam dengan negara non-Islam ketika rakyatnya tidak tersejahterakan. Hak-hak dasarnya tidak diakui dan diakomodir. Bahkan pada zaman Rasulullah, hak-hak pribadi seseorang itu sangat dilindungi dan dihargai bahkan sampai hak hewan pun tidak diabaikan.
Hal-hal subsansial inilah yang harus dipenuhi untuk membentuk sebuah negara Islam. Namun, sekali lagi Rasulullah tidak pernah menetapkan satu nama khusus tapi pada dasarnya Rasulullah telah mensignalkan bentuknya. Apa itu?? Bentuk republik seperti yang kita jalani saat ini sesungguhnya lebih dekat dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah pada lebih dari 1400 tahun yang lalu, bukan monarki. Sesungguhnya sebuah kesalahan fatal ketika para penguasa setelah Khulafaur Rasyidin menggunakan bentuk kerajaan dalam pemerintahannya. Dimulai dari Mua’wiyah yang mengangkat anaknya Yazid menjadi khalifah pengganti dirinya maka pada saat itulah fitnah di kalangan ummat Islam mulai menyebar. Maka, sesungguhnya monarki tidak cocok menjadi bentuk dari negara Islam.
Lalu, bagaimana dengan pemilihan kepala negara. Pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin ada yang namanya Majelis Syura’. Kalau di Indonesia mungkin bisa disamakan dengan Majelis Permusywaratan Rakyat (MPR). Akan tetapi, jumlahnya memang tidak sebanyak jumlah anggota MPR kita. Pada zaman Umar saja ketika menjelang wafatnya hanya ada enam orang anggota Majelis Syura’. Melalui Majelis Syura’ inilah pemimpin negara dipilih dan dilantik seperti pada pemilihan dan pelantikan Utsman bin ‘Affan sebagai khalifah.
Untuk membuat regulasi (peraturan perundang-undangan), sebuah negara Islam harus memiliki Dewan Syari’ah yang diisi oleh para ulama (ilmuwan) yang bebas dari intervensi pemerintah sehingga hukum-hukum hasil ijtihad yang dikeluarkan bukanlah hukum-hukum pesanan. Jadi, produk yang dihasilkan adalah murni untuk kepentingan rakyat. Ulama mempunyai tugas ganda sebagai pembimbing masyarakat dan sebagai pengingat untuk penguasa.
Dalam hal penegakan keadilan, institusi peradilan juga harus bebas dari intervensi penguasa. Ia harus berdiri sendiri. Bagaimana seorang Ali bin Abi Thalib yang seorang khalifah ia harus melepaskan predikatnya sebagai khalifah dihadapan hakim. Bahkan, ketika di pengadilan tersebut ia kalah dari seorang Yahudi yang dituduhnya mencuri baju besinya. Hal ini lantaran Ali tidak memiliki bukti yang kuat bahwa baju besi itu memang miliknya. Sebuah institusi peradilan yang sangat baik sepanjang sejarah.
Perekonomian Islam haruslah kuat, maka kewajiban zakat harus ditegaskan kembali. Zakat akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang luar biasa jika pengelolaannya dilaksanakan secara profesional dan tepat sasaran. Bayamgkan ketika zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, tidak ada satupun kaum muslimin yang merasa berhak menerima zakat sedangkan di satu sisi mereka semua terus mengeluarkan zakat. Apa yang terjadi? Sampai-samapi Umar bin Abdul Aziz harus ke Afrika untuk mencari para penerima zakat. Luar biasa bukan?
Ah, betapa indahnya ketika kita dapat mewujudkannya. Ia akan menjadi cita-cita kita bersama saudara-saudara. Sebuah negara Islam yang tidak menggunakan kata-kata Islam di dalamnya. Cukuplah memenuhi aspek-aspek substansial di atas maka itulah negara Islam sesungguhnya. Negara Islam bukan utopia, negara seperti itu bernah ada, bernah berjaya hanya saja banyak yang buta mata hatinya akibat kesombongan dan kecongkakan mereka sehingga mereka tak pernah mau menyaksikan realitas sejarah. Kepingan-kepingan sejarah itu akan kembali kita susun dan kita bangun kembali. Sebab sabda Rasulullah:
“Masa kenabian akan terjadi di tengah-tengah kalian seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian, Allah menghapusnya jika memang menghendaki. Setelah itu, akan ada Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian, lalu Khilafah itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian, Allah menghapusnya jika menghendaki. Setelah itu akan ada kerajaan yang memegang teguh Islam, lalu kerajaan itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian, Allah menghapusnya sesuai kehendaknya. Setelah itu, akan ada kerajaan para diktator, lalu kerajaan itu menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian, Allah menghapusnya sesuai kehendaknya. Setelah itu, Khilafah akan kembali tegak dengan berjalan di atas manhaj kenabian”. Setelah itu, Nabi saw. terdiam. (HR Ahmad)
Bersiaplah kita menyambutnya, atau paling tidak kalaupun kita tidak merasakannya maka kita ikut berpartisipasi dalam meletakkan pondasi-pondasinya. Namun, yang perlu diingat, jika memang benar kita berada pada fase keempat sesungguhnya kita masuk pada fase dimana ada fitnah yang sangat besar di masa ini yaitu munculnya Dazzal. Itulah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah atas ummatnya dikemudian hari.
Wallaahu a’lamu bi showwab. Semoga Allah melindungi kita dari kejelekan makhluknya dan dari kejelekan apa-apa yang dilakukan makhluknya. Amiiiin…

24 Maret 2011

Libya, Sebuah Rekayasa Konspirasi

Setelah lebih dari sebulan kemelut Libya tak kunjung selesai akhirnya pelakon sesungguhnya di balik krisis Libya unjuk gigi. Tidak optimalnya peranan pihak oposisi dan Kerajaan Arab Saudi sebagai alat Barat untuk menurunkan sang pemimpin Libya, Muammar Ghadafi membuat pihak sekutu dalam hal ini NATO di bawah pimpinan Perancis turun tangan juga. Hal ini kembali menunjukan ternyata ada campur tangan asing di luar Libya yang bermain dalam krisis yang melanda negara tersebut.
Serangan kali ini adalah serangan barat terbesar pasca penyerangan dan pendudukan Iraq beberapa tahun yang lalu. Kalau di Iraq dalih penyerangan adalah untuk menghukum Saddam Husein yang memiliki senjata pemusnah massal dan pelanggaran HAM, maka di Libya pun dalihnya adalah untuk penegakan HAM. Namun pertanyaannya, apakah sekutu memang benar-benar ingin menghukum atas nama pelanggaran HAM atau ada agenda lain? Media-media dunia dan lokal pun sangat getol memberitakan bahwa di Libya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga oleh militer loyalis Muammar Ghadafi. Tapi, sesungguhnya sampai hari ini penulis memandang belum ada bukti yang kuat untuk membenarkan berita-berita tersebut.
Adakah ini adalah bagian dari konspirasi dunia barat terhadap negara-negara muslim yang kaya. Hal ini tidak menutup kemungkinan. Sebab negara-negara yang selama ini masuk dalam daftar penyerangan AS adalah negara-negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan kesemuanya adalah negara muslim. Sebagai contoh, Iraq adalah negara dengan kekayaan minyak yang besar dan salah satu negara dengan tingkat perekonomian terkuat diantara negara-negara Arab. Bayangkan saja, cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara Iraq saat ini mencapai 115 miliar barel dengan jumlah produksi perharinya mencapai 2,4 juta barel. Afganistan yang selama ini kita anggap sebagai negara miskin yang tidak memiliki apa-apa ternyata memiliki cadangan mineral sebesar $ 3 T. Dengan kekayaan sebesar itu tentunya akan dapat menaikkan taraf hidup masyarakat Afganistan. Akan tetapi, potensi Sumber Daya Alam tersebut saat ini telah dikuasai oleh pihak asing. Jadilah negara ini sebagai penonton saja melihat hasil kekayaan negaranya dieksploitasi oleh negara lain.
Negara yang saat ini dalam kemelut yaitu Libya adalah negara penghasil minyak terbesar di Afrika. Produksi minyak hariannya mencapai 1,79 juta barel dan memiliki cadangan sebesar 44,3 miliar dollar atau 3,27% dari total proporsi cadangan minyak seluruh dunia. Jumlah cadangan minyak dan produksi hariannya yang cukup besar tersebut mampu mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Dari rentetan dan fakta-fakta tersebut dapat kita analisis dengan nalar dan logika sehat bahwa sesungguhnya krisis yang terjadi di Timur Tengah adalah sebuah rekayasa politik dan ekonomi yang memang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dalam teori konspirasi disebutkan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, ekonomi, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. The first actionnya adalah adanya penghancuran gedung pencakar langit Word Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Inilah awal dimulainya aksi tersebut dan perencanaan sesungguhnya sudah dari sejak waktu yang lama.
Aksi penyerangan sekutu ke Libya saat ini mengatasnamakan Hak Azasi Manusia karena sang pemimpin Libya dituduh telah melakukan Genosida. Setidaknya itulah informasi yang kita peroleh dari sekian banyak media di seluruh dunia. Akan tetapi, dalih sekutu tersebut sesungguhnya adalah dalih yang dibuat-buat dan sangat lemah. Mengapa demikian?? Sebab, jika dikatakan bahwa AS dan sekutunya peduli terhadap pelanggaran HAM, maka yang harus terdahulu diinvansi adalah Yahudi Israel yang telah membantai jutaan rakyat Palestina. Orang yang pertama kali harus diadili adalah para pemimpin Israel yang telah mengarahkan mesin-mesin pembunuhnya kepada anak-anak Palestina yang tidak berdosa. Atau juga para pimpinan militer negara-negara sekutu sendiri yang telah melanggar hak asasi dan kedaulatan rakyat Iraq, Afganistan, Pakistan, dll.
Bukan suatu bentuk pembelaan kepada Ghadafi sebenarnya saya menulis tulisan ini. Tidak dipungkiri selama kepemimpinan Ghadafi tentu banyak pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ternyata kerugian yang diciptakan oleh AS dan sekutunya terhadap rakyat akibat penyerangan Libya jauh lebih besar dari kerugian sebelum tentara koalisi menyerang. Dalam konteks keadilan, maka apa yang dilakukan oleh sekutu adalah sebuah bentuk ketidakadilan internasional. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari agenda Barat untuk menguasai ladang minyak di Timur Tengah.
Dalam penyerangan kali ini memang Amerika Serikat tidak terjun langsung. Akan tetapi, negara ini adalah negara penyokong nomor satu dari tindakan barbar tentara sekutu. Upaya pembagian dan pemcabik-cabikan wilayah merupakan strategi lama kaum imperialis. Lagi pula, yang memiliki kepentingan langsung dengan minyak Libya adalah negara-negara Eropa. Maka, untuk menciptakan citra positifnya AS tidak terjun langsung dalam agresi kali ini.
Lebih parahnya lagi, negara-negara di dunia telah terseret arus opini yang telah dibuat oleh media pro-barat sehingga menghalalkan apa yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya. Melalui legitimasi dan dukungan PBB, sekutu secara leluasa menghantam semua sasarannya dan bukan tidak mungkin suatu hari Indonesia akan menjadi target juga.

23 Juli 2010

Ujian Kerja Kita

Ada keletihan yang menyelimuti di balik kerja-kerja kita. Juga ada kejenuhan yang diam-diam menelusup ke dalam hati tanpa sadar membuat kita melegalkan alasan-alasan pada diri kita untuk beristirahat. Itu pasti kawan, kita adalah manusia biasa dan memang rasa itu sangat manusiawi. Kepenatan yang datang adalah bunga-bunga dari kerja kita, ia adalah ujian. Apakah kita mampu melewatinya untuk meneruskan pekerjaan ataukah kita tergoda untuk beristirahat yang menjadikan kerja kita tertunda dan orang lain menyalibnya. Kita pun akan tertinggal sangat jauh.
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Sesungguhnya istirahatnya seorang muslim itu ketika kakinya sudah menginjak surga.” Kata-kata itu muncul di saat kerjanya mendapatkan ujian yang sangat besar. Betapa tidak, sang Imam dipaksa oleh penguasa saat itu untuk mengakui bahwa al-Qur’an itu sebagai makhluk bukan Kalam Allah. Di samping tekanan dan siksaan yang datang bertubi-tubi dari penguasa, beliau juga dibujuk rayu oleh para pengikutnya yang merasa kasihan kepadanya karena deraan yang tidak manusiawi tersebut. Namun dengan dengan Imam Ahmad menolaknya dengan mengucapkan kata-kata di atas. Fitnah tersebut akhirnya menjadikan beliau sakit fisik yang cukup parah sampai-sampai shalat beliau tidak mampu lagi bersedekap.
Ada lagi kisah pejuang lain yang juga mengalami ujian yang tak kalah hebatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah harus mendekam di penjara lantaran koreksi-koreksinya kepada penguasa. Di saat kondisi-kondisi negara sedang dalam keadaan darurat Ibnu Taimiyah dikeluarkan untuk menjadi pemimpin dan penyemangat jihad kaum muslimin tapi di saat kondisi negara kembali aman beliau juga kembali dipenjara. Namun itu semua tak membuat beliau menyerah dari kerja-kerjanya, banyak karya besar beliau yang dihasilkan di dalam penjara. Tanpa buku dan penanya karena dirampas, Ibnu Taimiyah menuliskan karyanya dengan arang di dinding-dinding penjara.
Ada banyak kisah-kisah lain yang memberikan kepada kita pelajaran berharga tentang betapa kerja-kerja besar itu akan banyak bunga-bunga ujiannya. Seperti contoh kedua tokoh di atas.
Sekarang, mari kita tuntaskan kerja kita. Kita tuntaskan sesuai kemapuan dan kapasitas kita. Kalau kita hanya mampu sebatas menjadi penyemangat saja, maka jadilah supporter yang gegap gempita dalam memberikan semangatnya sehingga yang lain menjadi tertular semangatnya. Namun, jangan juga yang bertugas di lapangan bekerja hanya karena ada supporternya dan ketika supportenya pergi, ia pun jadi loyo untuk bekerja. Penyemangat terbesar kita hanyalah yang Maha Pemberi Semangat. Itu kuncinya.
Kita patut belajar dari Musa bin Abdul Ghassan, seorang mujahid Granada yang tidak rela menyerah kepada orang-orang kafir dari kerajaan Spanyol yang menyerang Andalusia. Seorang diri ia songsong pasukan spanyol sampai ia mendapatkan syahidnya. ”Bagiku, mati di bawah reruntuhan tembok Granada demi membelanya, jauh lebih kucintai daripada singgasana-singgasana mewah di dalam istana Granada yang kudapat dengan menyerah kepada orang-orang kafir,” kata beliau. Seorang diri, tanpa supporter. Ia mati dalam keadaan terhormat. Syahid di jalan-Nya. Sedangkan mereka yang menyerah juga tetap dibunuh setelah dibohongi untuk diseberangkan di Afrika Utara.
Demikian ujian kerja kita. Allah ingin menguji seberapa tahan diri dengan berbagai pekerjaan yang dibebankan kepada kita. Apakah kita akan diberikan kehormatan untuk diberikan kerja yang lebih berat yang tentunya dengan ujian yang lebih berat ataukan kita masih ditempatkan pada kelas yang sama atau malah akan turun kelas karena kita belum lulus ujian.
Wallahu a’lamu bishowwab...

Seperti Apa Harusnya Sekolah Kita..??

Apa yang ada dalam benak Anda ketika saya sebutkan kata-kata sekolah? Adakah yang membayangkan suatu kegiatan yang membosankan karena setiap hari harus duduk di bangku kayu yang keras, tangan ditumpuk di atas meja? Ataukah ada juga yang membayangkan sekian banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan sepulang sekolah atau malah dikerjakan sebelum jam pelajaran dimulai secara beramai-ramai? Tentu saja banyak sekali yang kita bayangkan ketika disebutkan satu kata tersebut dan itu semua bergantung pada pengalaman belajar selama duduk di bangku sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Ketika di sekolah dasar kita diajarkan menggambar pemandangan dengan satu atau dua gunung dan ada matahari di atasnya. Tidak lupa di sekelilingnya terdapat padi dan pepohonan serta jalan raya yang menuju ke gunung tersebut. Atau menggambar seekor bebek dengan angka dua dan tentu bebeknya akan mengarah ke sebelah kiri kita. Kebiasaan itu terus kita bawa hingga saat ini, ketika kita sudah duduk di bangku kuliah, ketika menjadi guru, menjadi ibu atau seorang bapak bahkan ketika menjadi seorang pejabat sekalipun.
Kebiasaan- kebiasaan itu kembali kita tularkan kepada anak-anak, murid, adik dan siapa pun yang mencoba belajar dari kita. Itulah sebabnya sekolah dari cetakan pewarisan kebiasaan ini tidak mengalami perkembangan yang berarti. Zaman boleh maju, kita telah mengenal dunia digital sehingga hidup serba lebih mudah dan canggih, tapi sesungguhnya pemikiran kita adalah pemikiran warisan dari kebiasaan yang sebenarnya stagnan. Wajar saja kalau kita kalah bersaing dengan negara tetangga kita Malaysia dan Singapura yang dulu mengimpor guru dari negara kita.
Cobalah ketika ada yang menyebutkan kata ’sekolah’ kita fikirkan hal yang berbeda. Mas Lendonovo mencoba berfikir hal yang berbeda tentang sekolah, maka lahir dari pemikiran yang berbeda tersebut sebuah model sekolah baru di Indonesia, dikenal dengan nama ’Sekolah Alam’. Atau bentuk sekolah lain yang dibuat oleh Pak Harry Roesli, sekolah musik untuk anak-anak jalanan.
Ada seorang ayah ditanya mengapa menyekolahkan anaknya di salah satu Sekolah Alam di Bandung yang terbilang lebih mahal dan anak belajar sambil berkotor-kotor ria. ”Habisnya sekolah konvensial terlalu banyak teori tanpa ada praktek,” jawabnya mantap. Itulah penilaian, walau hanya dari satu orang dan tidak representatif tapi pernyataan beliau ada benarnya. Sekolah umum lebih banyak mengajarkan teori dan anak dijejali dengan ratusan ribu kata setiap harinya, tapi sesungguhnya hal tersebut tidak memenuhi semua aspek yang diharapkan. Dengan penjelasan teori-teori, maka yang ada adalah pemenuhan aspek kognitifnya saja sedangkan aspek afektif dan psikomotoriknya terabaikan. Misalkan, pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan teori-teori tentang kekeluargaan, tapi benarkah kekeluargaan telah terbangun kekeluargaan di antara siswa?
Saya tidak menyatakan bahwa pemberian teori itu tidak penting, akan tetapi itu hanya sebagai acuan untuk mempraktekkan dan mengaktualisasikan diri. Sehingga ketika waktunya kelak para siswa tersebut telah masuk dalam dunia sebenarnya mereka tidak ’No Action Talk Only(NATO) alias omong doank. Sedangkan praktek tanpa teori toh juga salah, ibarat seseorang yang berjalan di tengah gelapnya malam tanpa bantuan penerangan bisa-bisa ia tersesat. Begitu pentingnya keduanya antara teori dan praktek sehingga semuanya harus berjalan seiring.
Kita bisa belajar dari Rasulullah saw. dan beberapa rasul sebelumnya, bagaimana mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan memberi pelajaran serta peringatan bagi masing-masing ummatnya. Untuk mendidik mereka sengaja Allah memberikan ujian yang cukup, misalkan untuk memimpin ummat para utusan Allah tersebut lebih dahulu belajar menggembalakan domba. Domba-domba yang susah diatur tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi mereka kelak dalam mengendalikan ummat. Apalagi nabi Musa yang diturunkan kepada Bani Israil yang terkenal sangat bebal dan susah diatur. Contoh lainnya, dalam berniaga Rasulullah saw. selain diajarkan oleh pamannya teori-teori bisnis dan marketing beliau juga mempraktekkannya langsung sejak usia 12 tahun dan pada akhirnya dipercaya untuk menjalankan barang perniagaan Siti Khadijah dengan kejujuran dan hasilnya mendapatkan keuntungan yang luar biasa.
Mengapa masalah bangsa sampai dengan hari ini tidak dapat terselasaikan?? Itu berawal dari pendidikan kita. Pendidikan pewarisan yang sampai dengan saat ini masih mendominasi di negeri ini menjadi penghalang negeri kita untuk maju. Seorang siswa yang berfikir berbeda pada sebuah sekolah akan dicap bersalah oleh gurunya. Coba saja kita sedikit menghargai pemikiran-pemikiran berbeda mereka, siapa tahu dari pemikiran berbeda itu akan memberikan masukan yang berharga bagi kita. Selian itu permasalahan bangsa ini tidak pernah terselesaikan karena kita terlalu banyak komentator ketimbang yang mau bekerja. Itu juga akibat dari pendidikan kita, terlalu banyak dijejali dengan teori-teori tanpa ia coba dengan praktek sesungguhnya. Praktek saat ini baru dijadikan ajang pelajaran bukan praktek yang sebenarnya sebab pelajaran praktek tidak pernah diajarkan di bangku sekolah atau kuliah.

Sekolah Kita…

Beberapa bulan yang lalu dunia pendidikan kita disibukkan dengan rutinitas Ujian Nasional, kemudian disibukkan kembali dengan ‘semarak’nya pengumuman kelulusan siswa. Banyak yang menyambutnya dengan keceriaan serta tidak sedikit juga yang menyambutnya dengan kesedihan dan kemeranaan. Bagi yang lulus, kelulusannya adalah sebuah prestasi yang luar biasa, entah apaun caranya. Tapi bagi yang tidak lulus, hal tersebut merupakan kemalangan yang tidak terelakkan sebab selain dinyatakan gagal juga akan menanggung rasa malu baik di mata teman-temannya juga di mata masyarakat sekitarnya. Namun segala problematika Ujian Nasional tersebut akan menjadi PR kita bersama untuk memperjuangkannya agar siswa-siswa kita tidak menjadi korban ’pemaksaan’ sistem lagi.
Saudaraku, saya sangat trenyuh saat melihat pemberitaan di salah satu stasiun televisi swasta bahwa ada anak-anak sebuah Sekolah Dasar di Sukabumi Jawa Barat terpaksa harus belajar di bawah naungan atap langit dan berdindingkan pepohonan. Bukan karena mereka belajar di sekolah alam atau sedang melakukan kegiatan belajar out door akan tetapi seperti itulah keseharian sekolah mereka. Jangankan sarana praktek sebagai penunjang belajar, gedung pun tidak ada. Gedung sekolah yang seharusnya mereka pakai untuk kegiatan belajar mengajar sudah tidak layak lagi untuk ditempati. Bangunannya sudah hampir roboh. Ketika ditanyakan kepada kepala sekolah, ternyata memang tidak ada bantuan dari pemerintah atau para dermawan untuk memeperbaiki kons\disi bangunan sekolah tersebut. Namun, ada sedikit kegembiraan di hati saya ketika melihat tanyangan anak-anak lugu (para siswa) yang mereka masih sangat bersemangat untuk bersekolah. Semangat dan kegembiraan itu terpancar jelas di sorot mata mereka.
Kondisi sekolah kita di Sukabumi Jawa Barat di atas hanya salah satu contoh yang sangat kecil. Banyak sekolah-sekolah lain yang juga sama parahnya bahkan lebih menyedihkan kondisinya. Ruangan kelas hanya layak disebut sebagai kandang kambing masih bertebaran di pelosok negeri ini. Saya teringat ketika pemutaran perdana film ’Laskar Pelangi’ yang ketika itu sang penulis novel Andrea Hirata bersama-sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Sang novelis memberikan sentilan kecil kepada bapak presiden, ”Inilah kondisi pendidikan kita.” Presiden hanya menaggapi santai sentilan tersebut, ”Itukan dulu, sekarang sudah tidak lagi.” Tapi nyatanya kondisi sekolah kita tidak lebih baik dibandingkan dahulu.
Saya tidak akan mengatakan itu sekolah Anda, sekolah di kota Anda, atau sekolah di propinsi Anda tapi saya katakan itu adalah kondisi sekolah saya, sekolah Anda dan sekolah kita semua. Mengapa saya katakan demikian karena kondisi ini terjadi dalam sebuah bingkai ’INDONESIA’.
Kita boleh berceloteh soal sistem. Tidak ada larangan bagi kita untuk mengkritik sistem pendidikan kita yang memang tidak mendidik. Kita juga sangat boleh mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah terkait masalah pendidikan tetapi janagan juga kita lupakan soal pembangunan fisiknya. Bagaimana mungkin siswa-siswa kita akan nyaman belajar ketika panas terik menerpa mereka kepanasan hingga keringat bercucuran? Atau di saat hujan turun mereka harus berlarian mencari tempat bernaung, bagi yang terlambat maka basah kuyuplah ia atau buku-bukunya yang akan jadi korban kebasahan. Akan lebih sangat mengerikan seandainya gedung-gedung tak layak pakai tersebut masih saja dibiarkan dan terus digunakan apabila suatu hari ternyata gedung-gedung tersebut roboh dan anak-anak sedang belajar di bawahnya.
Saudaraku, Heppy Trenggono mengatakan, ”Bangsa Pintar Dipimpin oleh Pemimpin yang Membangun Bangsanya, Bangsa Bodoh Dipimpin Oleh Pemimpin yang Membangun Dirinya.” Jelas bukan?? Kalau kita ingin pintar, menjadi bangsa yang pintar dan cerdas kita harus dipimpin oleh pemimpin yang membangun bangsa bukan pemimpin yang membangun kelompoknya atau malah lebih parah membangun dirinya sendiri. Tapi saya rasa bukan hanya pemerinah, para pengusaha kita juga harus bertanggung jawab. Betapa banyak mereka telah meraup keuntungan dari bangsa ini, betapa banyak juga mereka juga telah merugikan negeri ini. Toh, korupsi bukan hanya oleh pemerintah tapi juga oleh para pemilik korporasi. Dana CSR perusahaan yang cukup besar akan jauh lebih dan sangat bermanfaat bila digunakan untuk kepentingan publik. Misal dengan membangunkan sarana pendidikan, sarana bermain anak-anak dan juga sarana ibadah. Para kepala sekolah tak perlu lagi berkeliling mengajukan proposal kepada pemerintah dan pengusaha meminta kerendahan hati mereka untuk membangunkan sarana prasaranabelajar akan tetapi pemerintah dan pengusahalah yang harus perhatian kepada nasib pendidikan kita. Marilah kita coba kalau pendidikan kita ingin lebih baik.

11 Juli 2010

Sekolah untuk Kebodohan

Bani Israil menjadi contoh para pembelajar bebal yang banyak sekali Allah ceritakan di dalam Al-Qur’an. Bahkan hingga hari ini para pembelajar bebal itu juga masih sangat banyak dan terus menyebarkan kebebalan-kebebalannya kepada setiap orang tak terkecuali diri kita. Kebebalan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa banyak yang tidak mau belajar dari orang lain, sejarah, binatang bahkan segenap alam semesta. Kebebalan semacam ini sudah banyak merasuki diri kita.
Dalam lingkup pendidikan formal, ada banyak kebebalan yang ditanamkan ke dalam kurikulum pendidikan kita. Jangankan kurikulum, bahkan sistem besarnya juga sudah bebal. Bagaimana turunan yang lebih kecil jika sistem terbesarnya saja sudah bebal?
Masih segar dalam ingatan kita tentang seorang anak SMP bunuh diri gara-gara tidak lulus Ujian Nasional. Ada juga yang karena ketakutan yang begitu besar kahirnya ia mengakhiri hidupnya padahal waktu pengumuman belumlah tiba. Saya tidak akan membenarkan sikap yang diambil oleh para anak-anak tersebut. Tapi ada satu hal yang perlu kita fahami bahwa ternyata sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang memaksa. Selain itu kegagalan-kegagalan dalam pendidikan sangat kentara terlihat. Bagaimana mungkin seorang anak akan melakukan sebuah perbuatan picik dengan bunuh diri kalau pendidikan itu dilaksanakan dengan baik?? Belum lagi yang mengalami depresi jumlahnya sudah tidak terhitung. Yang ada dalam sistem pendidikan kita bukan mendidik tapi ’memaksa
Kalau dulu tawuran itu hanya dikenal pada anak-anak sekolah menengah (SMP dan SMA) sekarang sudah merambah ke kelompok yang lebih ’elit’ lagi. Tawuran menjadi sebuah tingkah para mahasiswa. Kenapa saya katakan tingkah sebab ini adalah penyimpangan watak. Sikap tidak dewasa. Berani kepada sesama yang didominasi oleh egoisme atau berani kepada junior pada saat ospek dengan alasan balas dendam.
Sekolah untuk jadi bodoh seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Rahmat Abdullah merupakan sebuah tradisi mengulang kejelekan pendahulu. Sangat baik kalau yang diulang merupakan hal yang mulia dan terpuji akan tetapi yang diulang justeru kejelekan-kejelekan. Kalau dulu para koruptor merampok uang negara secara sembunyi-sembunyi dibalik ketiak penguasa. Sekarang koruptor sudah tidak malu-malu lagi berkomentar di media padahal sudah terbukti bersalah. ”toh kami hanya mengikuti para pendahulu kami, kami hanya ingin mengambil hak kami yang dulu dirampas oleh mereka walau harus merampok uang rkayat juga,” itu barangkali fikir mereka. Walaupun keduanya tetaplah salah, sama-sama mencuri. Pepatah Arab ”rahimallahu assarariqal awwal”(semoga Allah mengasihi pencuri terdahulu) sesungguhnya tidak berlaku di sini.
Seorang Abul Hasan Ali Annadawi, ulama besar India mengatakan terkait dengan buah dari dana besar ummat di negeri-negeri maupun swasta. ”Itu bukan pembangunan, tetapi penghancuran,” Mengapa beliau sampai mengatakan hal seperti ini?? Karena bila ummat Islam yang punya aqidah dan prinsip, da’wah dan risalah, direkayasa sejak kecil untuk menghirup nyawa hidup dari dunia lain yang materialistik, hedonik, kering dan munafik, maka pengkhianatan telah terjadi. di sebagian besar negara-negara Islam, jangankan mendapatkan pendidikan keislaman yang cukup, sekedar memasukkan Sirah Nabawiyah Rasulullah dalam kurikulum sangat dilarang. Alasannya, agar tidak ada tindakan ekstrem dalam beragama. Padahal rujukan harakiyah dan inspirasi perjuangan ummat Islam sesungguhnya dari sejarah Rasulullah dan para sahabat tersebut. Termasuk negeri ini. Kalaupun ada itu masih dalam sekup formal dan sangat dibatasi.
Sesungguhnya sebuah agenda dari rekayasa telah merasuki sistem kita. Dimulai dari para penjajah yang dahulu membagi-bagi negeri muslim ke dalam wilayah jajahan mereka. Sistem itu tertanam. Walaupun kemerdekaan telah diraih namun pendidikan yang diperoleh dari para pendiri negeri ini juga hasil indoktrinasi penjajah. Kita merdeka secara fisik namun belum merdeka secara pemikiran. Sesungguhnya sekolah yang kita jalani saat ini adalah sekolah kebodohan. Perlu tatanan baru dalam pengelolaan dan muatan pendidikan kita. Agar tidak lagi ada korban-korban berjatuhan akibat pembodohan-pembodohan tersebut.
Menurut Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah, pendidikan adalah ’Seni Membentuk Manusia(fannu tasykiilil insaan). Untuk membentuk manusia maka ada dimensi-dimensi yang harus selalu dibentuk yaitu akal, hati dan badan, dengan kata lain pendidikan adalah bagaimana membentuk semua elemen yang menjadi ciri kehidupan seorang manusia kemudian berusaha mengaktualisasikan. Aktualisasi itu sendiri merupakan proses dari pendidikan.
Di negeri ini sudah sangat banyak orang yang pintar secara intelektual namun ternyata yang terbentuk hanya pada dimensi akal saja. Ia tetap bebal seperti halnya Bani Israil yang tetap bebal walaupun Allah telah menunjukkan berbagai kekuasaannya dan menjanjikan kemenangan kepada mereka. Mereka telah mengatakan sebuah hal yang sangat fatal ”pergilah engkau (Musa) berperang bersama Tuhanmu (Allah),” sehingga mereka pun dihukum tersesat pada sebuah padang selama empat puluh tahun. Selama dalam masa hukuman Allah masih tidak menyia-nyiakan mereka, Allah masih sangat bermurah hati dengan menaungi mereka dengan awan sehingga mereka tidak kepanasan, diberi makanan langit ”manna dan salwa”. Namun karena kebebalan mereka masih saja protes, ”wahai Musa, mana mungkin kami bisa hidup dengan makanan yang hanya satu tipe tanpa variasi, cobalah mintakan kepada Tuhanmu jenis makanan yang lain dari buah-buahan dan sayuran yang tumbuh dari bumi.”
Belajar dari kebebalan-kebebalan di atas, maka kita diharapkan untuk tidak ikut menjadi makhluk yang bebal. Sama seperti Hudzaifah bin Yaman yang bertanya bayak hal tentang keburukan kepada Rasulullah bukan untuk berbuat keburukan tapi untuk menghindarinya. Belajar dari sumber inspirasi kita Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, Sirah Rasulullah dan Sahabat serta orang –orang shaleh sungguh tidak akan pernah habis. Mereka para pembelajar cerdas, cepat dan ikhlas sepanjang masa.

29 Juni 2010

BERHENTI BERIMAJINASI, TOLAK KEBODOHAN

Imaginasi saya terhenti ketika harus menyaksikan realita yang ada. Imajinasi saya selalu menuntun pada hal-hal yang ideal, indah dan sempurna bahkan lebih dari itu sangat luar biasa. Begitu juga saya yakin yang terjadi pada Anda. Ketika berfikir tentang kehidupan pribadi, kita berfikir dan mengkhayal semua tentang keindahan, tanpa pernah terfikirkan hal-hal buruk. Itu khayalan. Berbeda dengan kebalikan dari khayalan adalah kekhawatiran, yang terfikir adalah kesulitan-kesulitan, kesusahan dan semua yang berkaitan dengan halangan dan rintangan.
Dalam konteks dunia pendidikan, kadangkala kita terlalu terbuai dengan hal-hal yang terlalu ideal. Mengkhayalkan pendidikan negeri kita yang begitu sempurna. Ada banyak terobosan baru dalam pelaksanaan pembelajaran, media pembelajaran yang semakin canggih, tenaga pengajar yang terus ditingkatkan kemampuan dan jenjang strata pendidikannya. Bayangkan saja, kalau dulu orang tamatan SMA bisa mengajar SMA, sarjana bisa mengajar calon sarjana, tapi sekarang guru SD sudah disyaratkan minimal sarjana, jenjang selanjutnya tentu akan terus menyesuaikan. Itu adalah kemajuan-kemajuan dunia pendidikan kita yang harus terus kita dukung dan tingkatkan tentunya.
Tapi, pernahkah kita coba berhenti sejenak mengkhayal. Bermimpi indah terus, walaupun mimpi indah itu yang memang harus terus kita jaga. Sesekali kita khawatir. Khawatir terhadap kondisi yang tidak ideal ternyata pada tataran realita. Seperti pada acara reality show yang baru saja saya saksikan di salah satu televisi swasta. Ada seorang bocah berusia kira-kira delapan tahun, sebut saja namanya Wulan yang terpaksa harus “dikarbit” menjadi dewasa. Pikiran-pikirannya pun mirip orang dewasa, punya keinginan kuat untuk mengenyam pendidikan tapi apa lacur karena orang tua tak punya biaya ia harus berjualan makanan ringan di pinggir jalanan kota. Sebenarnya bukan salah dirinya, orang tuanya juga seharusnya bertanggung jawab, tapi lagi-lagi apa daya kalau orang tua juga tak punya apa-apa dan tidak punya skill dalam hidup.
Menyedihkan memang. Itulah realita yang membuat saya terhenti untuk berimajinasi. Saya harap Anda juga ikut berhenti berimajinasi sejenak. Kita coba untuk berkhawatir durja. Tidak hanya satu orang seperti yang saya yang contohkan di atas. Ada begitu banyak Wulan-wulan lain yang berada disekitar kita. Khawatir terhadap nasib mereka, jangan terpikir di benak kita itu bukan siapa-siapa kita, mengapa kita harus peduli. Dari sisi kemanusiaan, maka sesungguhnya kita telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena membiarkan mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi kaum terdidik, padahal kita mengetahui kondisi mereka. Dari segi agama, bagi ummat Islam ada satu prinsip yang harus dipegang yang berasal dari sebuah hadits Rasulullah yang intinya adalah apabila kita terbangun di pagi hari tanpa terpikirkan kondisi ummat Islam termasuk dalam hal seperti di atas maka dia bukan bagian dari ummat ini. Secara tegas Rasulullah menolak orang yang hanya berucap di mulut sebagai ummatnya tetapi tidak peduli dengan kondisi ummat.
Kita berheneti sejenak untuk mengkhayal indah ria mencoba untuk khawatir sebab bagaimana bangsa ini akan bangkit kalau begitu banyak orang-orang yang tersisihkan padahal mereka begitu potensial. Mereka adalah anak-anak bangsa. Apakah kita tidak takut kelak meninggalkan generasi yang lemah, bukan hanya fisik tapi juga dari aspek pengetahuan dan keilmuannya. Sejenak berkhawatir untuk kembali hidup tapi tidak dengan khayalan, kita akan hidup dengan mimpi indah dan terbaik. Bermimpi bagaimana mereka yang tersisihkan ini nantinya akan menjadi orang-orang yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa ini. Bermimpi bagaimana anak-anak yang kurang beruntung ini mampu menjadi penggerak ekonomi negeri karena mereka belajar dari kesulitan yang mereka alami.
Saya teringat dengan sebuah sub judul buku “Menjadi Bangsa Pintar” buah pemikiran Heppy Trenggono. “Mengapa bodoh berkelanjutan?” jawabnya simple sekali karena kita mau dibodohi. Sebagian besar kita mengidap penyakit mental indolence, yaitu kondisi mental bangsa yang berfikir dan bersikap atas sesuatu masalah dengan cara meniru pada kebiasaan-kebiasaan sebagaimana yang dilihat, dan akhirnya membentuk mindset. Maka, saran beliau kita harus berubah. Kita harus menanamkan mentalitas PEMENANG. Kalau tidak, maka selamanya kita akan menjadi bodoh dan bodoh. Atau cocok juga bila diketengahkan sebuah lagu kepada kita:
Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk membohongi
Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu
Kita berhenti sejenak. Kita mulai fikirkan bagaimana kita jadi pemenang. Karena hak untuk menjadi pemenang juga hak kita, hak bangsa Indonesia. menjadi bangsa pemenang harus dari masyarakat yang cerdas. Membentuk masyarakat cerdas merupakan tanggung jawab kita bersama. Kalau sebelas tahun yang lalu musuh bersama kita adalah orde baru yang korup dan bertangan besi maka musuh kita sekarang, di tahun 2010 ini dan seterusnya adalah kebijakan pemerintah yang tidak berpijak kepada rakyat dan tindakan yang terus membodoh-bodohi rakyat. Kita lawan kebodohan.

-Elly Sumantri-
Rumah Edukasi
Diantara bangunan-bangunan imajinasi yang bernama kesibukan. Entah apakah kita benar-benar sibuk atau hanya sekedar berpura-pura sibuk untuk tidak melihat sejenak realita yang terjadi.

11 Juni 2010

Sekolah Islam Terpadu: Fenomena Pendidikan Indonesia

Sejarah pendidikan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pendidikan modern saat ini yang banyak menggabungkan beberapa unsur sesungguhnya adalah bentuk pengembangan dari sitem pendidikan Indonesia zaman dahulu. Model pendidikan yang sampai saat ini tetap diterapkan sebagaimana aslinya, kemudian ada juga yang mengalami perkembangan yaitu pembauran antara model pendidikan tradisional dengan model pendidikan modern.
Pesantren yang lebih mengedepankan pendidikan Islam adalah model pendidikan tertua di Indonesia sekaligus sebagai cikal bakal model pendidikan modern juga. Sejarah pesantren, seperti yang saya sebutkan di atas tidak adapat dilepaskan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai perjuangan. Jauh sebelum bangsa Eropa masuk dan menjajah nusantara (Indonesia, Malaysia, Pilifina) pesantren telah ada dan menjadi satu-satunya sistem pendidikan saat itu dan memang disupport oleh pemerintahan Islam saat itu yaitu kesultanan-kesultanan yang berkuasa di daerah-daerah.
Ketika penjajah mulai menduduki beberapa wilayah nusantara, pesantren tidak hanya menjadi tempat mencari ilmu, pesantern juga menjadi tempa pengkaderan para pejuang-pejuang yang akan membebaskan negerinya dari tangan penjajah. Jadilah pesantren dengan masjid sebagai pusatnya menjadi barak-barak militer. Hal ini terus berlanjut ketika sampai Indonesia merdeka. Bahkan laskar-laskar rakyat yang turut berjuang sesungguhnya berasal dari kaum santri dengan semangat jihad fii sabiilillah dan salah satunya adalah Panglima Besar TNI yang pertama yaitu Jenderal Soedirman.
Pada saat itu telah berdiri pula lembaga-lembaga pendidikan lain yang mengadopsi sistem pendidikan Barat. Lembaga pendidikan seperti taman siswa dan lainnya juga menjadi salah satu pencetak generasi pejuang. Hanya saja, karena mengadopsi sistem Barat maka tentunya hawa sekulerisme juga terasa. Dikotomi antara pendidikan agama (Islam) dengan pendidikan umum diberlakukan di sekolah-seklah tersebut sehingga tidak sedikit juga melahirkan tokoh-tokoh pergerakan yang sekuler. Fenomena ini terus berlangsung hingga saat ini karena memang sistem pendidikan kita membedakan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama. Belum ada regulasi untuk mengintegrasikan keduanya.
Akan tetapi, akhir-akhir ini kita begitu terperangah dengan sebuah fenomena yang begitu mencengangkan. Sekolah Islam berdiri dimana-mana. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak bahkan Play Group hingga Perguruan Tinggi Islam. Fenomena ini muncul menjelang awal tahun 2000-an, hingga sekarang bagaikan jamur di musim hujan. Yang luar biasa adalah ternyata para peminat sekolah-sekolah Islam ini begitu banyak. Ada apa sebenarnya dengan sekolah-sekolah Islam yang sering disebut dengan Sekolah Islam Terpadu ini? Ada banyak misalkan TK Islam Terpadu (TK IT), Sekolah Dasar Terpadu (SD IT), SMP IT, SMA IT. Apakah ini sebuah bentuk kebosanan masyarakat kita terhadap sistem pendidikan konvensional yang terkesan sekuler dan mendikotomi antara pendidikan umum dengan pendidikan agama? Apakah ini tanda bahwa masyarakat kita sudah sadar bahwa sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang lebih modern dan manusiawi? Ada begitu banyak pertanyaan yang menggelayuti fikiran kita.
Akan tetapi, saya menilai ada beberapa hal yang menjadikan Sekolah Islam Terpadu menjadi sebuah fenomena dalam pendidikan kita. Pertama, secara historis memang bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai religius yang menjadi sumber dan daya kekuatan bangsa ini. Sesungguhnya yang memperjuangkan bangsa ini di garis depan adalah kaum santri yang siap berjuang dan berperang. Tapi, tidak semua ternyata memegang senjata, ada diplomat ulung seperti K.H. Agus Salim, Guru dari para Founding Fathers kita HOS. Cokroaminoto, dua pendidir Ormas besar yang bertujuan untuk kemerdekaan bangsa, K.H. Hasyim As’arie (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), negarawan seperti M. Natsir atau seorang tokoh militer bintang lima seperti Jenderal Soedirman dan begitu banyak lagi. Mereka adalah para tokoh pesantren dan santri yang berjuang berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing.
Kedua, pada dasarnya manusia selalu ingin kembali kepada fitrahnya. Allah SWT. telah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluknya yang lain yang mampu berfikir. Kecenderungan manusia mempengaruhi apa pilihannya. Setelah sekian lama manusia Indonesia dicekoki dengan sistem sekuler walau disamarkan membuat jiwa bangsa ini memberontak. Upaya-upaya untuk mencerabut bangsa ini dari akar budayanya ternyata tidak berhasil. Masyarakat bosan dengan Sistem Pendidikan Nasional dan model pendidikan umum yang terus memisahkan antara pendidikan agama (Islam) dengan pendidikan umum. Itulah fitrah manusia yang ingin memenuhi relung jiwanya dengan cahaya Allah.
Ketiga, Sekolah Islam Terpadu menawarkan hal yang lebih dibandingkan dengan pendidikan umum. Selain mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum, Sekolah Islam Terpadu juga memberikan siswanya skill sesuai dengan bakatnya masing-masing. Selain itu, pola pembelajarannya juga sedikit berbeda dan memang mengakomodir hak-hak siswa sebagai penuntut ilmu. Hal ini sebenarnya mencoba menjawab tantangan zaman yang ke depan akan masuk para era globalisasi dan perdagangan bebas. Anak-anak Indonesia harus sudah dibekali cara-cara manajerial, skill dan sebagainya yang menunjang dirinya untuk mampu bersaing. Tentunya membentuk karakter mereka bukan untuk menjadi tenaga kerja tetapi yang membuka lapangan kerja.
Ketiga hal itulah yang membuat Sekolah Islam Terpadu sangat diminati oleh sekian banyak masyarakat Indonesia saat ini. Semoga kehadiran sekolah-sekolah ini akan memberikan dampak positif bagi ummat untuk kembali sadar bahwa kita harus kembali fitrah kita.Wallahu a’lamu bishshawwab.

Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang bermaksiat.
Tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan ilmu umum sebab semuanya adalah ilmu yang berasal dari Allah.

06 April 2010

Apa pun Profesi Anda, Teruslah Berjuang!!!

Kesempatan yang diberikan kepada setiap manusia berbeda-beda. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memberikan kesempatan kepada kita. Kesempatan seringkali kali dating di saat kita tidak siap atau ketika kita siap ternyata kesempatan tak kunjung tiba. Ksemepatan menjadi salah satu rahasia Allah yang harus selalu kita persiapkan. Misalkan, kesempatan sakit, ada banyak orang yang tidak siap dalam menghadapi kesempatan sakitnya dan seringkali mengeluh dengan penyakit-penyakit itu. Sakit yang seharusnya menjadi kesempatan kita untuk melunturkan dosa ternyata menjadi tambahan dosa. Duh, alagkah kasihannya seseorang yang sudah menanggung beban penyakit ditambah lagi dengan beban dosa karena tidak sabar dengan sakitnya.
Atau seseorang yang sudah lama menantikan rezeki dari Allah, berharap menjadi orang yang kaya raya tetapi Allah belum juga mengabulkan permohonannya. Mungkin usahanya masih kurang, atau memang Allah ingin mengujinya dan masih rindu mendengar do’a-do’anya. Penilaian kesiapan sesungguhnya hanyalah milik Allah. Kadangkala kita merasa siap tapi Allah menilai kita belum siap dan memang Dia lebih mengetahui semua itu.
Berkaitan dengan kesempatan di atas maka begitu juga halnya dengan kesempatan berkarya. Kesempatan berkarya maksudnya adalah kesempatan untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan diri semaksimal mungkin sehingga mengahsilkan sesuatu yang bermanfaat bagi siapa saja. Terlepas hasil karya itu besar atau kecil karena Allah tak melihat besar atau kecilnya tapi menilai niat dan prosesnya. Tah, orang yang berniat baik Allah telah menacatatnya dan memberinya empat pahala kebaikan dan sebaliknya orang yang berniat jahat tidak akan Allah catat sebagai satu dosa kejahatan sampai ia benar-benar melaksanakan niatnya tersebut. Itulah keadilan Allah terhadap balasan niat.
Kembali ke persoalan kesempatan dan karya maka kita akan diingatkan dimana posisi kita saat ini. Posisi yang saya maksud bisa jadi pekerjaan, jabatan, organisasi dan lain-lain. Tapi saya akan lebih menekankan pada para professional artinya adalah orang-orang yang sudah bekerja dan menggeluti profesi tertentu. Ada banyak jenis profesi. Kalau orang-orang pendidikan mengatakan hanya ada dua profesi di dunia ini, Profesi Guru dan Profesi Non Guru. Para dokter pun juga mengatakan hanya ada dua profesi, Profesi Dokter dan Non Dokter, dan sebagainya.
Saya akan membaginya lebih luas dan lebih adil menurut saya, juga tetap sama dibagi dua. Profesi Kebaikan dan Profesi Kejahatan. Adil kan?? Apakah dia mau jadi guru, dokter, hakim, pengacara, polisi, tentara, pengusaha, pekerja pabrik, petani, pedagang, nelayan dan banyak lagi selagi dia melakukan kebaikan maka ia digolongkan ke dalam profesi kebaikan. Sebaliknya bila orang-orang yang bergerak pada pekerjaan di atas bekerja untuk kejahatan dan kerusakan maka ia digolongkan ke dalam profesi kejahatan. Simple dan jelas bukan??
Saya teringat pada kisah seorang dokter yang ditempatkan pada suatu daerah yang amat terpencil. Belum ada penerangan listrik. Ditambah sang isteri yang berasal dari keluarga yang berkecukupan yang tidak terbiasa dengan kondisi apa adanya dan bisa digolongkan masih sangat tertinggal seperti itu. Tapi lambat laun mereka dapat menyesuaikan diri dan terbiasa. Sang Dokter pun mampu menjadi pelopor membuka keterisolasian daerah tersebut dan pada akhirnya berkat perjuangannya daerah tersebut terus berkembang dan menjadi daerah yang maju. Apa ibroh yang bisa kita petik dari kisah di atas?? Dokter tersebut tidak hanya melaksanakan kewajibannya sebagai tenaga medis di daerah tersebut tapi ia juga berjuang menjadikan daerah tersebut maju dan keluar dari keterisolasian. Semestinya itulah yang harus kita lakukan sebagai para professional. Para professional kejahatan dan kerusakan saja tekun menjalankan misi mereka apalagi seharusnya kita yang punya tujuan yang jelas untuk kebaikan. Semestinya juga serius dan bekerja lebih.
Setidaknya pertahankanlah prinsip-prinsip yang kita pegang. Kalau dulu semasa mahasiswa kita sering berteriak dan beretorika tentang idealisme, maka peganglah prinsip idealisme itu dan sesuiakan dengan kondisi dimana kita berada karena idealis juga butuh seni. Bukan idealisme buta yang menjadikan orang-orang menjauh dari kita. Kalau kita mampu menularkan sikap idealisme itu kepada orang lain kenapa tidak. Maka itulah yang dimaksud dengan karya nyata. Karya yang bukan dalam bentuk fisik tapi dalam bentuk pemikiran. Bahkan bisa jadi hal itu menjadi lebih baik dari karya fisik.
Saya akan berikan satu contoh lagi, lagi-lagi yang saya jadikan contoh adalah dokter (mohon maaf yach para dokter) karena memang saya lebih banyak berinteraksi dengan para pejuang pendidikan (guru) dan para pejuang kesehatan (tenaga medis) yang ditempatkan di daerah-daerah. Ini kisah seorang dokter yang berusaha menjaga prinsip hidupnya. Beliau juga ditempatkan sebagai dokter Puskesmas pada suatu daerah terpencil. Satu tahun menjadi CPNS maka tibalah saatnya untuk menjalani pra jabatan (prajab). Ada salah satu peraturan dari panitia prajab bahwa setiap wanita berjilbab yang mengikuti prajab harus memasukkan jilbabnya ke dalam kemeja. Karena dirasa aneh dan bertentangan dengan prinsip serta apa yang ia dapat selama ini maka sang dokter wanita ini mengajukan protes. Ia tidak mau mematuhi satu peraturan ini. Perdebatan panjang terjadi, dan akhirnya dia dapat dispensasi dengan syarat tidak mengajak yang lain. Di tengah perjalanan prajab sang dokter masih ternyat masih tetap berusaha mengajak yang lain untuk melakukan hal sama seperti apa yang dia lakukan.
Apa hikmah yang dapat kita petik dari cerita di atas?? Mempertahankan prinsip, memahamkan orang lain tentang suatu kebaikan dan berusaha mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan tersebut. Itulah makna perjuangan yang sesungguhnya.
Menjadi seorang professional bukan berarti membuat kita menjadi stagnan. Justeru menjadi seorang profesinal seharusnya menjadikan kita lebih mudah bergerak karena kita berhubungan langsung dengan manusia lain. Terjuan langsung dan mendengarkan keluh kesah, harapan-harapan, serta banyak hal lain dari mereka. Kontribusi nyata itu adalah saat kita bisa bersentuhan langsung dengan kepentingan mereka.
Para guru dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak didiknya dengan dimasukkan nilai-nilai da’wah di dalamnya. Tenaga medis dapat memberikan pencerdasan dan melakukan da’wah melalui ilmu-ilmunya. Para hakim dan jaksa dapat menyelesaikan kasus dengan adil dan bijaksana. Pengusaha dan pedagang harus bekerja dan berusaha secara jujur. Terapkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Menjadi polisi haruslah menjadi polisi harapan masyarakat dan benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Seorang tentara harus meniatkan dirinya berjihad di medan pertempuran dan bercita-cita mati sebagai syahid, serta ratusan profesi lainnya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dalam niat dan bingkai kebaikan. Insya Allah akan diberikan kemudahan. Kalau dulu kita belajar maka saat ini kita mempraktekan ilmu yang kita dapat. Dulu kita jadi aktivis mahasiswa atau Aktivis Da’wah Kampus (ADK) maka saat ini kita menjadi Aktivis Da’wah Kota/Kampung (ADK). Wallaahu a’lamu bishowwab.
Teruslah berjuang saudara-saudaraku!!

Kekuatan Cita-cita…

Seorang sahabat dengan gagahnya mneghunus pedangnya menyongsong sepasukan tentara Romawi. Motivasinya terlecut karena perkataan seorang yang mulia. Hanya dengan kata-kata “…suatu saat pasukan Romawi akan dikalahkan di suatu tempat yang paling rendah di muka bumi ini. Tentaranya adalah tentara terbaik dan pemimpinnya adalah pemimpin yang terbaik pula.” Kata-kata yang ternyata baru terwujud tujuh abad kemudian. Tetapi satu hal yangperlu digaris bawahi. Kekuatan cita-cita.
Sama halnya ketika orang-orang muslim sedang dilanda suasana mencekam, lapar, serta cuaca musim dingin kota Madinah yang menusuk menjelang perang Ahzab. Rasulullah melalui pukulan cangkulnya ke batu yang tidak mampu dipecahkan oleh para sahabat memberikan harapan yang begitu kuat kepada kaum muslimin. “Allahu Akbar!!” Pekik takbir Rasulullah hingga tiga kali. Para sahabat pun keheranan dan bertanya, “ada apakah wahai Rasulullah?” Sang Rasul menjawab, “saat aku memukulkan cangkulku ke batu maka terperciklah bunga api, dari sana Allah memperlihatkan kepadaku pintu-pintu kerajaan Romawi, kunci istana Persia serta istana-istna putih kota San’a.” samapai akhirnya para sahabat mematrikan perkataan Rasulullah ini di hati sanubari mereka.
Tak lama kemudian kurang dari kurun waktu seratus tahun semua wilayah Arab dapat dibebaskan. Persia menjadi satu wilayah resmi pemerintahan Islam setelah dibebaskan pada masa Umar bin Khattab. Sebagian wilayah Romawi juga dapat ditaklukkan sehingga Palestina sebagai kota suci ketiga ummat Islam juga ikut dibebaskan. Bahkan pasukan muslimin di bawah kepemimpinan Gubernur Mesir Musa bin Nushair dan Panglimanya yang terkenal Thariq bin Ziyad mampu membawa panji Islam hingga ke benua gelapa Eropa yaitu wilayah Andalusia. Panaklukan spektakuler lainnya sepanjang sejarah adalah perebutan wilayah Konstantinopel (Turki) sebagai basis terakhir kekaisaran Romawi Timur di bawah komando Panglima terbaik Sultan Muhammad Alfatih Murad sesuai hadits Rasulullah. Dengan begitu habislah kekuatan kekaisaran Romawi Timur. Sisanya tinggal Romawi Barat yang berada di Eropa (Vatikan) hingga saat ini. Hal yang paling menarik adalah bahwa kebiasaan setiap bangsa penakluk akan berlaku sewenang-wenang kepada rakyat taklukannya, tapi ini tidak terjadi pada penaklukan kaum muslimin. Rakyat dapat hidup tenang dan terjamin keamanan, jiwa dan hartanya serta agamanya. Itulah perbedaannya. Sampai ada seorang wanita yang melakukan perjalanan sendiri melewati gurun pasir tandus dengan jarak tempuh yang juga sangat jauh tapi ia aman dalam perjalanan itu. Bahkan, seekor anjing pun akan mendapatkan haknya. Itulah keadilan pemerintahan Islam.
Itu semua terjadi karena kekuatan cita-cita. Cita-cita menjadi sebuah tangga untuk mencapai kenyataan sebenarnya. Pepatah popular mengatakan, “Gantungkanlah cita-cita setinggi langit,” itu berarti bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan teruslah untuk mengejarnya. Islam pun mengatur soal cita-cita, bahkan cita-cita tertinggi itu adalah mati di jalan Allah. Sebuah tuntunan yang begitu mulia. Ketika kita menjadi seorang pendidik, maka dedikasikan semuanya hanya untuk Allah sehingga jalan yang kita ambil adalah jalan-Nya Allah. Atau sebagai seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjalankan usahanya. Jadi seorang dokter atau tenaga medis, maka ambillah setiap ibroh dari yang kita dapat dalam praktek-praktek kita. Jadilah dokter yang berjuang untuk Allah walaupun misi lainnya untuk kemanusiaan.
Namun, ada juga yang perlu diperhatikan. Ada perbedaan yang mendasar antara cita-cita dan angan-angan. Cita-cita menjadi ruh dalam setiap aktivitas kita. Motivasi kita biasanya berdasarkan atas niat dan harapan-harapan kita. Cita-cita bukan hanya dibayangkan kemudian bermimpi tanpa ada upaya untuk mencapainya. Suatu cita-cita dibutuhkan plan jangka panjang, kemudian grand desainnya seperti apa? Prosesnya bagaimana?? Tujuan akhirnya apa?? Pada akhirnya akan ada peta konkrit dari cita-cita besar kita.
Berbeda dengan angan-angan atau khayalan. Sungguh khayalan atau angan-angan sangatlah berbahaya. Bahkan Rasulullah mengingatkan untuk tidak memanjangkan angan-angan.” Angan-angan yang dimaksud adalah memikirkan sesuatu yang tidak mungkin ada, ditambah lagi dengan memang tidak ada upaya untuk merealisasikannya. Tidak ada pijakan yang jelas dalam melaksanakannya sehingga diibaratkan orang yang berkhayal atau berangan-angan itu bagaikan mimpi disiang bolong.


Cita-cita sebagai Ruh
Tentu yang saya maksudkan di sini bukanlah ruh dalam pengertian yang sebenarnya. Akan tetapi cita-cita akan menjadi motivasi terkuat seseorang mengerjakan segala aktivitasnya. Apabila seseorang cita-cita tertingginya adalah untuk menggapai ridho Allah maka itulah ruh aktivitasnya. Atau cita-cita karena riya’ dan sum’ah maka ruhnya tentu untuk pamer.
Ruh, ia adalah energy yang menggerakkan raga makhluk hidup. Tanpa ruh seseorang tidak akan dapat hidup. Seseorang punya wujud yaitu jasad tapi apabila ruhnya dicabut maka jasad tiada arti karena ia tak akan berfungsi. Begitu juga dalam hidup ini cita-cita menjadi ruh. Tanpa cita-cita manusia bagai tanpa ruh. Manusia berkehendak karena memiliki cita-cita. Manusia belajar, bekerja dan bergerak Karen aia punya harapan. Manusia membentuk sebuah keluarga karena memiliki cita-cita. Semuanya berkaitan erat dengan cita-cita. Tanpa cita-cita manusia adalah mayat hidup.

Cita-cita sebagau sumber energy
Energy solar menjadi salah satu energy yang menggerakkan kehidupan di bumi. Tentu itu semua atas izin Allah dan memang sudah ketetapannya. Tanpa adanya energy matahari atau sebualn saja matahari berhenti dari aktivitasnya maka akan terjadi kehancuran di jagat raya ini. Satu benda di jagat raya ini bermasalah maka semuanya akan terguncang karena akan terjadi ketidak stabilan.
Begitu juga dengan cita-cita, ia bagaikan matahari yang menjadi sumber energy kehidupan. Cita-cita bagaikan makanan pokok bagi aktivitas kita. Ketika motivasi untuk menggapai cita-cita itu melemah maka secara otomatis energy kita dalam menjalankan aktivitas kita juga akan melemah.

Cita-cita adalah eksistensi hidup
Cita-cita adalah ciri dan karakter hidup. Sebagaimana pada poin sebelumnya saya tuliskan bahwa orang yang tidak memiliki cita-cita bagaikan mayat hidup. Namun pada poin ini akan lebih menekankan pada pengakukan dari orang lain. Sejak kecil kita sudah diajarkan dan ditanya ingin bercita-cita sebagai apa. Maka itulah pengakuan lugu dari kita ketika itu. Setelah dapat berfikir lebih maka kita akan memilih cita-cita yang realistis. Orang-orang akan kembali mempertanyakan itu. Sekarang adalah apakan kita akan dengan menjawab apa cita-cita kita. Karena sesungguhnya jawaban kita di waktu kecil dengan jawaban kita saat ini memiliki arti yang berbeda. Jawaban kita saat ini adalah bagian dari pengakuan orang lain terhadap diri kita.

Cita-cita Menutup Ruang Ketidak Produktifan
Produktifitas sangatlah dipengaruhi oleh isi dalam hati manusia. Manusia yang produktif adalah manusia yang punya visi dan misi hidup yang jelas. Visi dan misi itu akan sangat erat kaitannya dengan cita-cita hidup. Ketiganya adalah adalah sesuatu yang tidak akan penah dipisahkan. Seseorang yang tidak punya cita-cita hidup dapat dipastikan tidak punya visi dan misi. Atau sebaliknya orang yang tidak punya visi akan kebingungan apa cita-citanya.
Ketika visi dan cita-cita hidup seseorang jelas. Maka alamatnya adalah misi yang diturunkan juga akan konkrit. Apa yang yang akan dilakukan tentu sudah dipikirkan. Misi itulah yang akan jadi acuannya dalam hidup. Misi yang baik akan membawa pada tujuan yang baik, sebaliknya misi yang kurang baik atau dijalankan setengah-setengah bisa jadi membawa kegagalan atau sampai pada tujuan tapi tidak baik dan tidak sempurna. Maka yang dibutuhkan adalah produktifitas penuh. Tutup semua celah ketidak produktifan dalam hidup dengan visi, cita-cita dan misi hidup yang jelas. Jadilah manusia yang visioner.
Terakhir, jadikan cita-cita dan visi hidup sebagai tujuan akhir kita. Dengan begitu kita akan terpacu untuk mencapainya. Tujuan akhir seorang muslim adalah Allah SWT. Wallahu a’lamu bishowwab.

09 Maret 2010

INGATKAN JIKA AKU SALAH


Ketika Cinta Tak Berbuah Surga

Di saat sang mentari mulai kembali ke peraduannya dan orang-orang pun juga mulai kembali ke tempatnya masing-masing. Begitu juga denganku yang sedang duduk di antara puluhan orang-orang di angkutan Bus Rapid Trans Palembang. Tujuanku tentunya ke rumah yang begitu kurindukan. Tidak hanya udaranya dan suasana yang masih natural akan tetapi orang-orang yang ada di rumah tersebut yang lebih-lebih aku rindukan.
Diperjalanan aku mendapatkan SMS dari seorang sahabat yang mau ”curhat”. Sedikit kaget memang karena sangat jarang ia mau menceritakan persoalan pribadinya Ia bercerita bahwa dirinya ditandai pada sebuah catatan jejaring sosial facebook. Mulanya aku menganggap biasa saja. Tapi lama-kelamaan sepertinya cerita temanku tersebut cukup serius.
Sebut saja namanya Fateeh (bukan nama sebenarnya). Dirinya mengenal seseorang yang bernama Zahrah dan anehnya mereka tak pernah bertemu hingga saat ini, padahal bisa dibilang mereka sangat ”akrab”. Entah apakah itu perasaan pribadi Fateeh ataukah memang itulah yang sebenarnya. Perkenalan mereka berawal dari sebuah sms yang dikirimkan oleh Fateeh kepada Zahrah untuk mencoba mendekati seorang adik kelas Fateeh waktu SMA yang sekarang sedang belajar di kota Y, sebut saja namanya Dini. Memang permintaan ini benar-benar tulus karena Dini sekarang sedang terserang virus Liberalisme yang sedang menggerogoti dirinya padahal dia tahu Dini itu adalah seorang yang potensial. Dinilah yang menggantikan fateeh untuk mengurus OSIS dan Rohis ketika Fateeh telah selesai dari SMA.
Sebenarnya Fateeh bukanlah pribadi yang istimewa, bila dibandingkan dengan Zahrah tentu ia tak ada apa-apanya. Dari segi fisik dan tampang sangat biasa-biasa saja. Ekonomi juga biasa saja dan pas-pasan. Kepintaran apalagi. Hanya satu yang punya, semangat dan cita-cita. Semangatnya bukan warna merah karena merah akan membakar tapi semangatnya adalah semangat biru yang menaungi dan menyejukkan. Menaungi seperti langit dan menyejukkan seperti air. Cita-citanya pun cita-cita biru, menjadi salah satu bagian dari pembangun peradaban.
Intensitas komunikasi ternyata membawa persoalan lain. Lama-kelamaan karena pembicaraan bukan hanya sekedar bagaimana ”merehabilitasi” Dini, tapi juga sampai pada hal yang bisa dianggap tidak penting bagi orang lain tapi sebenarnya penting bagi Fateeh karena ia sendiri tak ada tempat untuk menceritakan semuanya. Walaupun ia punya segudang teman, tapi itulah dirinya. Teman berceritanya paling juga jalanan kota Palembang yang panjang, panasnya terik mentari di bawah garis khatulistiwa ini, atau juga bisingnya suara bus-bus yang terus menderum dan kejam dengan asap knalpotnya yang sering membuat paru-paru terganggu dan terbatuk-batuk.
Ternyata, Zahrah merasa tak nyaman dengan kondisi itu. Sebenarnya Fateeh menyadari persoalan itu. Hanya saja ia tetap berdalih dia butuh teman tempatnya bercerita semuanya.
Aku sedikit tersenyum mendengar kisah tersebut. Ternyata komunikasi intens yang selama ini terjadi membawa persoalan yang tak sepele. Persoalan yang bisa jadi akan mengganggu hubungan persaudaraan keduanya. Dasar Fateeh yang keras kepala, dari awal dia sebenarnya sudah menyadari hal itu, hanya saja ia menganggap itu biasa-biasa saja.
Tapi, memang benar apa yang dikatakan Zahrah bahwa syaiton bisa masuk pada cela-cela manapun bahkan keburukan bisa tumbuh di ladang-ladang kebaikan seperti benalu kecil yang tanpa sadar tumbuh di sebatang pohon besar yang dapat menaungi dan tempat berteduh orang-orang yang lewat sehingga lama-kelamaan pohon rindang dan besar tersebut dapat mati akibat benalu yang selalu merampas makanannya. Kira-kira seperti itulah analogi sederhananya. Bisa jadi niat yang semulanya baik tanpa disadari tumbuh benih-benih keburukan yang ditiupkan oleh syaiton sehingga ia terus menggerogoti kebaikan itu yang pada akhirnya akan berubah menjadi kejahatan. Kejahatan yang terselubung, atau istilah Zahrah kemaksiatan yang berbaju da’wah. Na’udzubillaahi min dzaalik.
Pada paragraf akhir dalam catatan tersebut, Zahrah meminta kepada Fateeh untuk menjaga dirinya dari tipu daya syaiton dalam artian jangan sampai komunikasi yang sering dilakukan menjadi celah untuk syaiton menyusup dan merusak hati. Bukankah syaiton sanagat licik, ia meniupkan kejelakan dengan rupa kebaikan sehingga kita tanpa sengaja dan mengangap itu baik meneruskan langkah syaiton tersebut. Sebaliknya syaiton menakut-nakuti kita ketika hendak berbuat kebaikan sehingga kita ragus dan bisa jadi meninggalkan perbuatan baik tersebut. Wallahu a’lamu bishowwab...
Terakhir yang ingin disampaikan Fateeh, ”Engkau tetap saudariku, maafkanlah segala khilaf dan salahku dan terima kasih atas koreksinya. Insya Allah kita akan sama-sama menjaga semoga tidak tertipu daya syaiton. Agar persaudaraan ini tetap terjaga maka senantiasa senandungkanlah do’a perekat yang telah diajarkan kepada kita semua. Semoga tetap istiqamah....!!

Banyuasin, 6 Maret 2010

Mohon maaf apabila ada kesamaan nama. Kisah ini seperti diceritakan dan disetujui oleh Fateeh kepada Elly Sumantri

22 November 2009

Hanya Sebuah Seruan

Dengar hai dengar seruan beraksi
Untukmu segenap penegak reformasi
Bergerak bersama tuntaskan reformasi slamatkan rakyat negeri ini
Amanah pertiwi jangan dikhianati enam visi reformasi dinanti

Masih ingatkah kawan-kawan semua dengan lirik lagu yang begitu menggelorakan jiwa tersebut. Mendengarnya akan membangkitkan jiwa perlawanan Anda terhadap ketidak adilan. Apalagi bila kita benar-benar menjalankan amanah lirik syair di atas.
Tapi justeru yang terjadi saat ini jangankan mendendangkan lagu tersebut di jalanan kawan, mendengarkannya pun kita mungkin tak sudi sebab itu adalah lagu klasik yang tidak lagi sesuai dengan zaman sekarang. Maklum zaman sekarang adalah zamannya berdiplomasi lebih utama, tak berhasil pun tak apa-apa toh sudah dapat jatah beasiswa. Kata-kata "Seruan Beraksi" menjadi kata-kata yang sangat tabuh. Bagaimana tidak, mengungkap kasus korupsi di kampus sendiri tidak berani sebab takut intimidasi. Atau juga mengkritisi kebijakan birokrat tak punya nyali karena merasa hutang budi. Bagaimana pergerakan tidak mati jika kondisinya seperti ini...??
Retorika-retorika sampah dimana-mana mulai dituliskan. Seruan untuk kembali memilih pada perhelatan akbar tahunan "PEMIRA UNSRI" juga mulai bertebaran. Duh sedihnya diriku melihat para mahasiswa hanya menjadi alat tapi toh nanti setelah terpilih tak ada yang berfikir kesejahteraan mereka... Lagi-lagi yang terpilih tak punya taji, tak punya nyali untuk menggedor pintu birokrasi. Lagi pula Komisi Pemilihan Umum tidak transparan, tidak independen, tidak adil dan tidak jujur. Pengebirian terhadap hak-hak mahasiswa ini terlihat dari minimnya waktu pendaftaran Bakal Calon Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa. Tidak independen dan tidak jujur karena ternyata ada pasangan Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa yang tidak mampu melengkapi syarat administrasi pada waktu yang ditentukan (Jum'at, 20 November 2009 pukul 24.00 WIB). Bahkan yang paling menyedihkan adalah Ketua KPU tidak bersedia memberikan informasi nama-nama Bakal Calon yang telah mengembalikan formulir. Padahal itu adalah hak publik untuk mengetahuinya dan mengaksesnya setiap saat.
Apakah ini yang dimaksudkan oleh KPU dan sebagian "orang-orang besar" kampus sebagai pencerdasan politik...?? Bukankah sebaliknya bahwa ini adalah pembodohan terhadap mahasiswa, pembohongan dan pengebirian hak-hak mahasiswa. Konstituen dibodohi dan yang berkepentingan merasa puas. Itu timbal baliknya. Saya tidak menyalahkan ada yang berkepentingan di sini, yang saya permasalahkan adalah cara-cara yang dipakai untuk mencapai kepentingan itu ternyata tidak baik.
Bagi Anda yang merasakan hal yang sama yang tidak mau membohongi hati nuraninya maka saya yakin Anda pasti sepakat dengan saya. Untuk apa meneruskan sesuatu yang telah cacat sejak awal dan cacatnya itu sendiri ternyata juga dilakukan dalam kondisi sadar. Hanya ada dua pilihan saat ini kawan, dan ini hanya sekali lagi hanya sebuah seruan bagi Anda yang tidak ingin membohongi hati nurani. Pilihannya "BUBARKAN KPU atau BOIKOT PEMIRA UNSRI."

ditulis dengan penuh keharuan mengenang kejayaan masa lampau. Tapi sayang perjuangan dan pengorbanan itu telah dinodai...
Oleh : Elly Sumantri
CP : 085268393362
email : kak_elly_fkipunsri@yahoo.co.id
facebook : syabab_alfath@yahoo.com
http://www.ellysumantri.blogspot.com

06 November 2009

Mahasiswa dan Awak Angkutan Berunjuk Rasa



Kamis, 5 November 2009 | 23:53 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Sedikitnya 150 mahasiswa dan awak angkutan khusus mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Transportasi (APT) berunjuk rasa di kantor Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, Kamis (5/11). Mereka menuntut bus angkutan khusus mahasiswa diijinkan lagi melewati rute dalam kota.

Massa APT yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya, BEM Fakultas se-Unsri, Serikat Buruh Transportasi dan Angkutan (SBTA) mendatangi kantor gubernur dengan sekitar 20 bus angkutan khusus mahasiswa. Unjuk rasa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Beberapa perwakilan mahasiswa dan SBTA ditemui Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumsel Sarimuda. Mereka berdialog di dalam kantor gubernur.

Bus angkutan khusus sekarang dilarang beroperasi di dalam kota. Ini sangat merugikan mahasiswa dan tidak berpihak kepada sopir. Tidak mungkin mahasiswa setiap hari terlambat datang ke kampus dan pulang karena rute transportasi yang berbelit, ujar Elly Sumantri, Menteri Aksi dan Propaganda BEM Unsri .

Akibatnya, bila ingin ke dalam kota, mahasiswa harus berganti angkutan umum lain. Ongkosnya jadi lebih mahal. Ini jelas memberatkan, waktu tempuh ke kampus atau ke rumah juga jadi makin lama, kata Iqbal, seorang mahasiswa.

Aliansi ini menuntut dijalankannya rute win-win solution yang tidak merugikan mahasiswa dan awak angkutan. Rute ini yaitu berangkat dari Cinde-Ampera-Jalan Ki Merongan-Jalan Raya Palembang Indralaya-Kampus Unsri Indralaya dan pulangnya dari K ampus Unsri Indralaya-Jalan Raya Palembang Indralaya-Musi II-Bukit Besar-Jalan Demang Lebar Daun-Polda -Jalan Jenderal Sudirman-Cinde.

Ahmad Akbar Sirait, Sekretaris SBTA menjelaskan, unjuk rasa itu merupakan buntut dikeluarkannya SK Gubernu r Sumsel Nomor 561 tahun 2004 yang mengatur perubahan rute melarang angkutan khusus maha siswa masuk kota. Setelah dilakukan unjuk rasa 37 kali, pada 2006 dicapai kesepatakan rute baru yang membolehkan bus masuk kota lagi. Akhir-akhir ini kesepakatan dilanggar oknum aparat yang menilai kesekapatan itu sudah tidak berlaku karena gubernur sudah ganti. Bus tidak boleh masuk kota, bila masuk ditilang, katanya.

Pihaknya minta kesepakatan awal dijalankan lagi dan dibuat regulasi baku yang mengatur trayek bus angkutan khusus mahasiswa. Selain itu, bus diharapkan bisa mengakut penumpang umum tanpa dibatasi jam, tidak hanya di atas jam 12 siang seperti selama ini .

Di hadapan para pengunjuk rasa, Sarimuda mengakui beberapa minggu terakhir ini, kesepakatan yang pernah dibuat antara APT dan Pemprov Sumsel pada tahun 2006, dilanggar. Parahnya, pelanggaran itu dilakukan sejumlah petugas dengan diwarnai praktik pungutan liar pula.

Saya berjanji, dalam dua hari ini, kesepakatan tahun 2006 itu akan dijalankan kembali. J ika ada oknum Dinas Perhubungan yang melakukan pungli, tolong laporkan ke saya, katanya. (RWN/LAS)