27 Januari 2009

KRISIS ORIENTASI



Sebuah kisah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan yang dapat kita ambil hikmah. Selepas terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab, kondisi negeri muslim mengalami kekacauan. Namun setelah Khalifah Utsman diangkat sebagai amirul mu’minin, suasana dapat dikendalikan secara aman oleh sang Khalifah yang berhati lembut tersebut. Orang-orang non-muslim berduyun-duyun memeluk Islam. Salah seorang daripadanya adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman yang bernama Abdullah bin Saba’.
Namun ternyata Abdullah bin Saba’ mempunyai tujuan lain dibalik niatnya memeluk Islam tersebut. Ia mengharapkan Khalifah selaku penguasa negara akan memberikan kehormatan kepadanya. Dia menginginkan diberikan jabatan yang cukup tinggi dalam bidang apa saja. Tentu saja Khalifah Utsman menolaknya sebab Islam sangat melarang “meminta jabatan” dan “memberikan jabatan” kepada orang yang memintanya.
Karena penolakan tersebut, Abdullah bin Saba’ pun kecewa. Bukannya jabatan yang peroleh tapi nasehat yang cukup keras dari Khalifah. Kekecewaan ini akhirnya diluapkan dengan menyebarkan fitnah yang sangat keji di kalangan kaum muslimin. Dia mengatakan bahwa pewaris dan Khalifah yang sah adalah Saiyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagian terpengaruh dengan hasutan tersebut sehingga mereka membentuk perkumpulan yang dipanggil Syiah Saba’iyah yakni kaum Syiah sekarang.
Bahkan yang lebih keji lagi, Abdullah bin Saba’ berani mengatakan,” “Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan pada waktu itu malaikat Jibril sedang mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad yaitu orang yang tidak berhak.” Mendengar kabar beracun itu Syaidina Ali bin Abi Thalib marah besar dan pada masa pemerintahannya beliau mengusir Abdullah bin Saba’ keluar dari Madinah.
Kisah di atas cukup memberikan gambaran kita betapa berbahayanya ketika seseorang telah mengalami disorientasi terhadap niat. Niat adalah sesuatu yang timbul
dari dalam hati sanubari yang terdalam sehingga ia sangat kuat mempengaruhi jasad dan perbuatan. Bahkan niat adalah sesuatu yang sebenarnya terbentuk secara sadar.
Para ulama sepakat bahwa unsur-unsur yang harus ada agar ia menjadi sebuah niat adalah: Pertama, orang tersebut faham dengan apa yang akan dia lakukan sehingga dituntut pengetahuan terlebih dahulu.
Kedua, sadar dengan apa yang akan dilakukannya. Orang yang sedang tidur lalu bermimpi melakukan sesuatu tidaklah dianggap sebuah niat. Kesadaran adalah faktor yang sangat menentukan dalam memulai sebuah niat sehingga orang yang sedang mabuk sangat dilarang untuk mendekati shalat tentu niatnya untuk shalat tidak akan diterima. Serta orang yang tertidur tanpa sengaja sehingga lupa untuk mengerjakan shalat mendapatkan rukhsha untuk melakukan shalat ketika ia terbangun dan ingat.
Ketiga, tahu dengan tujuan dari apa yang ia niatkan dan akan lakukan. Tahu dengan tujuan berarti ia akan tahu manfaat dan mudharat, resiko serta segala yang berkaitan dengan niat dan pekerjaan tersebut. Ketika ketiga elemen dasar ini terpenuhi maka jadilah ia niat yang sempurna.
Rasulullah saw memberikan perhatian yang sangat lebih terhadap persoalan niat sehingga Imam Nawawi meletakan hadits tentang niat ini pada urutan yang pertama dalam Hadits Arba’innya.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Kondisi yang terjadi saat ini sangat banyak sekali orang-orang yang mengalami disorientasi dalam berniat. Krisis tidak lagi melanda ekonomi, sosial, budaya, politik, dll., bahkan telah merambah pada bagian paling inti dari diri kita yaitu hati kita. Sesuatu yang sangat krusial ketika hati telah menjadi ranah yang terpengaruhi oleh ambisi pribadi.
Saya rasa kita perlu membaca kembali kisah Abdullah bin Saba’ di atas yang pada akhirnya berdampak sangat buruk bagi ummat. Hal ini disebabkan karena disorientasi niat. Sebenarnya masih banyak lagi di dalam Al Quran yang mengisahkan orang yang pada akhirnya binasa karena mengalami krisis orientasi. Kita mengenal nama Qarun yang kaya raya. Pada awalnya ia adalah seorang shaleh yang miskin. Tetapi setelah beberapa lama menjadi kaya raya karena Allah memperkenankannya melalui doa Nabi Musa. Tapi, apa yang terjadi pada akhirnya…?? Qarun dibenamkan Allah ke dalam bumi beserta hartanya karena niatnya telah melenceng.
Hari ini, para aktivis da’wah sudah bertebaran dimana-mana bahkan sampai ke pelosok negeri. Saya tidak pernah mengatakan bahwa semua aktivis da’wah mengalami degradasi niat. Namun, kita semua harus mawas diri, waspada terhadap semua kemungkinan. Bukan kepada orang lain tapi waspada terhadap diri kita sendiri. Tanyakan lagi kepada diri kita apa tujuan yang sebenarnya. Jangan-jangan sampai saat ini masih ada yang belum tahu tujuan dari da’wah ini. Bukankah kita mengaharapkan keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya kelak di akhirat.
Maka dari itu, perbaharui niat kita selalu. Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk selalu memperbaharui niat sebab secara sadar ataupun tidak sadar kadang terselip “niat-niat” lain yang ikut menempel dan menjadi parasit dalam hati kita. Niat yang kecil tanpa kontrol akan terus membesar dan pada akhirnya akan berpengaruh pada pola pikir, tindakan dan yang lebih parah lagi “tujuan kita”.
Wallahu a’lamu bishshowaab.

0 komentar:

Posting Komentar