27 Januari 2009

MAKNA SEBUAH SIKAP


Kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan

Saat Dzul Qornain dan bala tentaranya mwmasuki sebuah gua untuk mencari mata air ‘ainul hayat, maka mereka terhenti pada sebuah tempat yang apabila tempat itu diinjak baik olek kaki manusia ataupun oleh kaki kuda ia mengeluarkan suara gemericik. Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan, “semua kalian yang ada di sini, saat keluar nanti kalian akan menyesal.” Mereka tidak mengerti maksud ucapan dari salah satu mereka itu yang ternyata Nabi Khidir as yang memang ketika itu bersama-sama mereka sebagai penasehat raja. Karena penasaran, sebagian mereka ada yang mengambil banyak benda gemericik tersebut, ada yang mengambil sedikit dan ada juga yang tidak mengambil sama sekali karena mereka anggap tidak ada gunanya.
Benarlah, setelah keluar dari gua tersebut mereka semua menyesal. Yang mengambil banyak menyesal tidak mengambil lebih banyak lagi, yang mengambil sedikit menyesal tidak mengambil seperti teman-teman mereka yang mengambil banyak, terlebih lagi yang tidak mengambil sama sekali. Pasalnya benda yang mengeluarkan suara gemericik apabila diinjak tersebut ternyata intan. Untuk masuk kembali ke dalam gua mereka perlu berjuang dari awal melawan hawa dingin, pengap dan gelap. Ditambah lagi raja mereka Dzul Qornain yang tidak mengetahui hal tersebut telah mengajak mereka pulang.
Beranjak dari kisah di atas terlepas dari benar atau tidaknya maka setiap kita harus memiliki sikap. Sikap biasanya muncul dari sebuah prinsip hidup dan prinsip hidup lahir dari ideology yang kuat. Kekuatan ideology menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi tantangan hidup ini apapun yang terjadi. Apabila kekuatan ideology, ketajaman prinsip serta kematangan sikap dikombinasikan akan muncul suatu instrument besar. Instrument ini yang akan memicu kekuatan besar.
Begitu besar makna sebuah sikap sehingga tak mudah bagi kita untuk dapat menentukannya secara pas. Adakalanya kita sendiri yang melanggar prinsip-prinsip hidup kita sehingga yang menjadikan sikap kita berubah , tidak sesuai dengan hati nurani. Sebenarnya factor ideology yang seharusnya mendominasi hidup kita. Islam tidak sekedar rutinitas di masjid, Islam adalah sebuah system yang di dalamnya ada ideology, kekuatan, baik kekuatan dalam bentuk fisik maupun strategi (fikriyah). Islam mengajarkan kita akan sikap yang tegas. Sebagaimana di dalam Al Quran Surat Al Kaafiruun:

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Surat ini menggambarkan dan mengajarkan kita bagaimana sebuah sikap dan prinsip dibangun sekaligus. Sikap tidak ingin menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir begitupun sebaliknya orang-orang kafir bukanlah penyembah sesembahan orang-orang mukmin yaitu Rabb yang Esa, Allah SWT. Prinsipnya jelas “untukmu agamumu dan untukku agamaku.” Ideologynya adalah Al-Islam yang sangat kuat menghunjam ke dalam hati.
Kita tentu tidak ingin menyesal seperti para tentara Dzul Qornain dalam kisah di atas. Kita tentunya ingin keberuntungan yang selalu dilimpahkan kepada kepada kita. Tapi celakanya kita terkadang terlalu berani mengambil resiko terjun pada arena yang kita sendiri belum tahu medannya, dan sebaliknya terlalu pengecut untuk terjun ke arena setelah kita mengetahui medan karena ketakutan yang dibuat-buat.
Begitupun para penguasa negeri ini. Ketika kita baru saja merasakan nikmatnya kemerdekaan dalam beberapa decade saja, para pemimpin negeri ini telah berani mengambil resiko dengan pinjaman luar negeri jangka panjangnya, sedangkan akibatnya tidaklah terlalu dipikirkan. Akibatnya, sepanjang tahun kita harus membayar hutang tersebut yang semakin hari semakin membengkak akibat bunga dan penurunan nilai mata uang rupiah. Eksploitasi Sumber Daya Alam selama ini ternyata untuk kepentingan luar negeri saja.
Di lain sisi, pememrintah tidak berani mengambil resiko memanfaatkan SDA yang ada dengan pengelolaan sendiri. Pemerintah kurang sabar untuk memperoleh keuntungan dari eksploitasi alam. Alasannya SDM yang tidak memadai serta peralatan yang juga tidak mencukupi. Mengapa kita tidak mencontoh Malaysia? Malaysia, selama ia mengimpor tenaga pendidik dari Indonesia bersamaan dengan itu pula pemerintahnya menyekolahkan guru-guru atau calon guru mereka ke luar negeri demi kemajuan negeri mereka ke depan. Buktinya saat ini Malaysia menjadi salah satu Negara industri yang cukup pesat kemajuannya di Asia bahkan dunia. Bila kita mencontoh strategi yang dilakukan Malaysia, maka saat ini tambang-tambang kita tidaka akan dikuasai oleh pihak asing. Tambang-tambang emas kita bukan hanya sekedar terkenal dengan nama tempatnya tapi tidak akan dikuasai pleh Amerika karena SDM kita juga memadai.
Bila kita tidak ingin merugi maka cukuplah kita belajar dari Q.S. Al Ashr. Siapa mereka? Orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Alih-alih seperti itu, pemerintahan kita justru pemerintahan dictator anti nasehat, baik Soekarno maupun Soeharto.
Sekali lagi, ideology, prinsip dan sikap harus berjalan seiring seirama untuk memunculkan instrument besar. Instrument besar ini akan melahirkan kekuatan besar dan akhirnya keseimbangan dalam berfikir menuju suatu perubahan.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Wallahu a’lamu bi showab.

0 komentar:

Posting Komentar